Perpustakaan Balikpapan Buka sampai Malam, 200 Warga Manfaatkan Night At Library
POSKOTAKALTIMNEWS, BALIKPAPAN: Malam biasanya menjadi waktu untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Namun, bagi sebagian warga Balikpapan, malam justru menjadi kesempatan untuk membaca, berdiskusi, hingga menikmati suasana perpustakaan.
Kesempatan tersebut
kembali dibuka melalui program Night At Library yang digelar Dinas Perpustakaan
dan Arsip (Dispustakar) Kota Balikpapan, jum'at (2/10/2026).
Berlokasi di Kantor
Dispustakar Balikpapan, Jalan Pierre Tendean, Kelurahan Telaga Sari, layanan
perpustakaan diperpanjang hingga malam. Program ini menjadi salah satu inovasi
untuk memperluas akses masyarakat sekaligus mendorong minat baca.
Sebanyak 200 pengunjung
tercatat memanfaatkan layanan perpustakaan dalam kegiatan yang berlangsung
mulai pukul 17.00 WITA hingga 21.00 WITA tersebut.
Kepala Dispustakar Kota
Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, mengatakan Night At Library kembali digelar untuk
memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas
perpustakaan.
“Dispustakar Kota Balikpapan kembali
mempersembahkan program spesial, yakni Night At Library. Jumlah pengunjung pada
kegiatan ini cukup menggembirakan, mencapai 200 pengunjung,” kata Neny.
Menurut Neny, perpanjangan
jam layanan bukan semata untuk meningkatkan minat baca. Program tersebut juga
dirancang sebagai ruang alternatif bagi masyarakat untuk mengisi waktu malam
dengan kegiatan yang produktif dan nyaman.
“Kami hadir lebih lama untuk menemani malam
produktif dan memberikan ruang yang nyaman bagi warga Balikpapan yang ingin
melepas penat setelah seharian beraktivitas, menuntaskan tugas, atau sekadar
menikmati cerita di antara riuhnya malam kota,” ujarnya.
Night At Library pada Rabu
malam merupakan pelaksanaan kedua. Sebelumnya, program serupa telah digelar
pada 16 September 2026.
Karena keterbatasan ruang,
Dispustakar membagi lokasi kegiatan menjadi dua area, yakni ruang baca umum dan
ruang galeri arsip.
Pembagian tersebut
dilakukan untuk menjaga kenyamanan pengunjung. Ruang baca umum digunakan masyarakat
untuk membaca dan menikmati layanan perpustakaan. Sementara ruang galeri arsip
dimanfaatkan pengunjung yang tergabung dalam komunitas membaca.
“Bagi pengunjung yang tergabung dalam
komunitas membaca, ruangan juga dimanfaatkan untuk berdiskusi. Jadi mereka
tidak mengganggu aktivitas pengunjung lainnya, khususnya pengunjung di ruang
baca umum,” jelas Neny.
Konsep tersebut membuat
perpustakaan tidak hanya menjadi tempat untuk membaca buku, tetapi juga ruang
bertemu bagi masyarakat dengan minat yang sama.
Bagi masyarakat yang
bekerja pada siang hari, kehadiran Night At Library memberikan alternatif waktu
untuk tetap mengakses fasilitas perpustakaan.
Salah seorang pengunjung,
Wisnugiar, mengapresiasi layanan tersebut. Menurutnya, tambahan waktu
operasional memberikan kesempatan kepada warga yang tidak dapat datang ke
perpustakaan pada siang hari.
“Bagus sekali.
Perpustakaan punya inovasi baru untuk menggiatkan orang agar lebih banyak
membaca. Karena tidak semua orang berkesempatan membaca pada siang hari,
terutama yang bekerja. Tentunya sangat menyenangkan,” kata Wisnugiar.
Ia menilai, Night At
Library juga dapat menjadi wadah bagi masyarakat yang memiliki hobi membaca.
Terlebih bagi pekerja yang baru memiliki waktu luang setelah menyelesaikan
aktivitas pada siang hari.
“Apalagi bagi para
penggemar baca buku, kegiatan ini bisa menjadi wadah atau tempat menyalurkan
hobi membaca. Terutama bagi para pekerja yang hanya memiliki waktu ke
perpustakaan saat malam hari setelah menyelesaikan aktivitas bekerja di siang
hari,” tutupnya.
Program Night At Library
sekaligus menunjukkan bahwa layanan perpustakaan dapat dikembangkan mengikuti
kebutuhan masyarakat. Dengan jam layanan yang lebih fleksibel, perpustakaan
memiliki ruang lebih luas untuk menjangkau warga yang selama ini terkendala
waktu berkunjung pada siang hari.(mid)