Gertam Babe, Program Disketapang Kukar Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Kelompok

img

Kepala Disketapang Kukar, Ananias. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Gerakan Tanam Bawang Merah dan Cabai (Gertam Babe) menjadi salah satu program Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis kelompok masyarakat.

 

Program ini dirancang agar masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan kebutuhan pangan sendiri, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari hasil budidaya.

 

Kepala Disketapang Kukar, Ananias mengatakan, Gertam Babe dikembangkan dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan sejumlah kelompok masyarakat lainnya.

 

Program tersebut juga dibangun melalui kerja sama dengan Tim Penggerak PKK, sekolah, Ikatan Remaja Masjid hingga Lapas Perempuan.

 

“Di 2026 ini kami coba luncurkan kegiatan itu untuk KWT. Kemudian kami juga bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK, sekolah, Ikatan Remaja Masjid. Dari lapas wanita juga ikut, kami fasilitasi warga binaannya untuk bisa melakukan Gertam Babe,” ujarnya saat dihubungi pada Kamis (8/10/2026).

 

Untuk mendukung pelaksanaan di tingkat kelompok, Disketapang Kukar menyiapkan kebutuhan dasar budidaya.

 

Kelompok penerima tidak hanya mendapatkan wadah tanam, tetapi juga media tanam, pupuk dan bibit sehingga dapat langsung memulai kegiatan.

 

Ia menjelaskan, setiap kelompok mendapatkan planter bag berkapasitas 35 liter yang dilengkapi tanah humus, pupuk kandang, pupuk NPK, pupuk organik cair serta bibit cabai.

 

“Jadi ibu-ibu tinggal memasukkan tanahnya ke planter bag, kemudian menanam dan dirawat sampai panen. Setelah panen, hasilnya bisa dinikmati bersama kelompok masing-masing,” jelasnya.

 

Konsep tersebut juga diarahkan agar hasil budidaya dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi kelompok.

 

Hasil panen yang dijual dapat menjadi tambahan kas dan digunakan kembali untuk membeli bibit maupun kebutuhan budidaya berikutnya.

 

Penerapan pola tersebut telah memberikan hasil di sejumlah wilayah. Salah satunya di Kecamatan Sangasanga, yang menurutnya telah mampu mengumpulkan sekitar Rp15 juta dari hasil penjualan cabai untuk kas kelompok.

 

“Yang di Sangasanga, terakhir saya datang ke sana, dari hasil mereka berjualan cabai di kas kelompok sudah Rp15 juta. Di Handil Terusan, Anggana juga lumayan banyak. Di Samboja ada juga yang sudah berhasil,” ungkapnya.

 

Keberlanjutan program juga disiapkan melalui pemanfaatan kembali media tanam, kelompok dapat mengganti tanaman yang sudah tidak produktif dengan bibit baru, sehingga kegiatan budidaya tidak berhenti setelah satu kali masa panen.

 

“Kalau sudah setahun lebih cabainya sudah tidak produktif, mereka cabut. Kemudian medianya diolah lagi dan dibeli bibit lagi. Dari hasil panen tadi sudah bisa berputar,” ujarnya.

 

Meski demikian, pelaksanaan Gertam Babe pada 2026 harus disesuaikan dengan kondisi cuaca.

 

Disketapang Kukar memilih menunda kegiatan karena kemarau yang berlangsung membuat ketersediaan air menjadi salah satu tantangan dalam budidaya bawang merah dan cabai.

 

Ia menilai, pelaksanaan program harus mempertimbangkan tingkat keberhasilannya agar anggaran dan sarana yang telah disiapkan benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat.

 

“Kalau kemungkinan berhasilnya tidak lebih daripada 10 persen, ya mending ditunda dulu. Bukan berarti kita pesimis, tetapi kita harus realistis. Kalau kondisinya seperti ini jangan dipaksakan,” tegasnya.

 

Gertam Babe yang semula direncanakan berjalan pada 2026 tersebut akan disiapkan kembali pada 2027 dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan ketersediaan air.

“Tahun ini sebenarnya dengan bawang. Tapi karena kondisinya sedang kemarau, kami tunda dulu. Kita harus realistis, jangan melawan alam,” pungkasnya. (Adv/Kriz)