“Sebentar Lagi Ya, Nak”, Kenang Nenek Ni'mah pada Dua Cucunya yang Meninggal dalam Musibah Kebakaran Kartini

img

Pengantaran jenazah korban kebakaran Kartini Tenggarong menuju pemakaman. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : “Sebentar lagi ya, Nak” Jawaban sederhana Hj. Ni'mah Gani itu kini menjadi kenangan yang menyisakan luka mendalam. Ia pernah berjanji kepada dua cucunya itu yang ingin disunat bersama, bahwa waktunya akan tiba.

 

Namun, sebelum keinginan itu terwujud, kedua bocah kakak beradik tersebut meninggal dunia dalam musibah kebakaran di Jalan Kartini, Gang Karya, Kelurahan Loa Ipuh, Tenggarong, Selasa (13/10/2026) malam.

 

Tangis haru mengiringi pemakaman kedua bocah tersebut di Kuburan Muslimin, Jalan Jafar Seman, Kelurahan Baru, Tenggarong, Rabu (14/10/2026).

 

Keduanya meninggalkan kenangan bagi keluarga, terutama sang nenek yang masih mengingat keseharian mereka sebagai anak-anak yang ceria, penurut, dan rajin mengaji.

 

Bagi Ni'mah, kedua cucunya memiliki kedekatan dengan kegiatan keagamaan.

 

Mereka terbiasa mengikuti ayahnya, menghadiri majelis taklim di lingkungan tempat tinggal mereka.

 

“Dua-duanya luar biasa semasa hidup. Ngajinya sudah bagus. Kalau bapaknya majelis, mereka pasti ikut,” kenang Ni'mah.

 

Ia mengatakan, sehari sebelum kebakaran terjadi, kedua cucunya masih menjalani aktivitas seperti biasa.

 

Sore itu, mereka mengikuti kegiatan mengaji sebelum menghadiri majelis taklim yang rutin digelar di rumah setiap Selasa sore.

 

“Kemarin sore masih mengaji. Di rumah kebakaran itu memang ada majelis setiap Selasa sore. Setelah pulang mengaji, mereka langsung mengikuti majelis,” tuturnya.

 

Kebiasaan kedua bocah tersebut mengikuti kegiatan keagamaan menjadi salah satu kenangan yang membekas bagi Ni'mah.

 

Menurutnya, mereka juga dikenal penurut dan selalu mengikuti ayahnya ketika menghadiri majelis.

 

Ia pun masih mengingat percakapan mengenai keinginan kedua cucunya untuk disunat bersama.

 

“Terakhir mereka minta, kapan kami berdua disunat? Kami bilang, belum lagi, Nak, sebentar lagi ya. Sepertinya mereka memang ingin berdua saja,” ucapnya.

 

Kini, keinginan itu tinggal kenangan, tak ada lagi kesempatan bagi Ni'mah untuk menyaksikan kedua cucunya tumbuh bersama.

 

Kebiasaan mereka mengaji, mengikuti majelis, dan mengungkapkan keinginan sederhana menjadi ingatan yang akan terus melekat setelah kepergian keduanya.

 

Rahmat, kakak sepupu korban, mengaku masih berusaha menerima musibah kebakaran yang merenggut nyawa kedua bocah tersebut.

 

Di tengah kehilangan yang dialami keluarga, ia berusaha menjalani keadaan yang ada.

 

“Ya, dijalankan aja dulu, Pak,” ujarnya.

 

Selain menghadapi duka, keluarga juga harus memikirkan kebutuhan sehari-hari setelah kebakaran.

 

"Untuk sementara, makanan dan konsumsi menjadi salah satu kebutuhan yang diperlukan keluarga serta warga terdampak," ucapnya.

 

Keluarga bersama warga sekitar berusaha melewati keadaan tersebut sembari mengupayakan pemenuhan kebutuhan dasar setelah kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga.

 

Ketua RT 61 Kelurahan Loa Ipuh, Ahyar, menyampaikan bahwa HN, ayah kedua korban, masih menjalani perawatan akibat luka bakar serius yang dialaminya ketika berusaha menyelamatkan anak-anaknya dari kobaran api.

 

HN diketahui memiliki riwayat stroke ringan, saat kebakaran terjadi, ia berupaya mencari kedua anaknya yang berada di dalam rumah.

 

Namun, material kayu yang terbakar dari bagian atas bangunan dilaporkan jatuh dan mengenai tubuhnya.

 

Hingga Rabu siang, HN masih menjalani perawatan di RSUD AM Parikesit, Tenggarong Seberang, dan dijadwalkan menjalani operasi untuk menangani luka bakar yang dialaminya.

 

Ahyar juga meluruskan informasi yang menyebut HN telah meninggal dunia, korban meninggal dalam peristiwa tersebut adalah kedua anaknya, sedangkan HN masih menjalani perawatan medis.

 

“HN masih ada, masih dirawat di rumah sakit. Yang meninggal dunia itu dua anaknya,” tegasnya.

 

Dalam proses pencarian setelah kebakaran, kedua bocah tersebut akhirnya ditemukan di dalam kamar rumah yang terbakar, keduanya ditemukan dalam kondisi berpelukan.

 

Di sisi lain, Husaini, salah seorang warga, mengenal HN sebagai sosok yang alim dan kerap mengisi majelis taklim di lingkungan tempat tinggalnya.

 

Menurutnya, kebiasaan sang ayah dalam kegiatan keagamaan juga terlihat pada kedua anaknya.

 

“Bapaknya kami panggil Ustaz. Beliau juga sering mengisi majelis dan dikenal sangat alim. Kedua anaknya juga seperti ayahnya, rajin mengaji dan sangat ceria,” ungkapnya.

 

Ia mengaku tidak menyangka kebakaran kembali membawa duka bagi masyarakat Kukar dalam waktu berdekatan, setelah sebelumnya kebakaran terjadi di kawasan Danau Aji.

 

“Jujur, tidak menyangka. Selang seminggu dari kejadian di Danau Aji, sekarang wilayah kami mengalami kejadian seperti ini. Mudah-mudahan korban dan keluarga diberi ketabahan,” kata dia .

 

Husaini mengatakan, warga berusaha saling menguatkan dan membantu keluarga korban sesuai kemampuan.

 

Meski bantuan yang diberikan tidak dapat menggantikan kehilangan yang dirasakan, kepedulian warga diharapkan dapat membantu keluarga melewati masa sulit.

 

“Pasti sangat berat rasanya, tetapi semua harus dijalani. Dunia tetap terus berjalan. Kami tidak bisa membantu banyak, hanya bisa menguatkan dan bantu tenaga. Apa yang bisa kami bantu, pasti kami bantu sebagai warga,” ujarnya.

 

Dari sisi penegak hukum, Kapolsek Tenggarong, AKP Nahrawi membenarkan dalam peristiwa tersebut, dua anak berusia 7 tahun dan 3 tahun meninggal dunia, sedangkan ayah mereka mengalami luka bakar sekitar 80 persen dan masih menjalani perawatan di RSUD AM Parikesit.

 

Nahrawi mengatakan, sumber api belum dapat dipastikan karena penyelidikan masih dilakukan oleh Satreskrim Polres Kukar bersama Polsek Tenggarong.

 

“Terkait kejadian tersebut, saat ini masih dalam proses penyelidikan. Sumber api belum diketahui karena masih dilakukan penyelidikan oleh Satreskrim Polres Kukar dan Polsek Tenggarong,” jelasnya.

 

Ia menyebut, pihak kepolisian belum dapat memastikan secara langsung kronologi upaya HN menyelamatkan kedua anaknya maupun posisi kedua korban saat ditemukan.

 

Petugas masih membutuhkan keterangan lebih lanjut, termasuk dari pihak keluarga ketika kondisi memungkinkan.

 

Nahrawi juga mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap potensi kebakaran, terutama di tengah musim kemarau panjang.

 

Ia meminta warga memperhatikan kondisi rumah sebelum meninggalkannya, termasuk memastikan kompor telah dimatikan dan mencabut sambungan listrik yang tidak digunakan.

 

Kebakaran tersebut menghanguskan 11 bangunan, meliputi rumah warga, bangsal atau rumah sewaan tujuh pintu, serta asrama atau rumah singgah Kecamatan Tabang. Kerugian material sementara diperkirakan mencapai Rp3 miliar.

 

Di tengah proses penyelidikan, kepolisian mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, baik di kawasan permukiman maupun hutan dan lahan.

“Kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada, terutama saat ini wilayah kita sedang mengalami musim kemarau panjang. Potensi kebakaran tidak hanya terjadi pada rumah warga, tetapi juga hutan dan lahan,” tutupnya. (Kriz)