SMPN 3 Tenggarong Siapkan Program Khusus dalam Menyikapi Perubahan Perilaku Setiap Siswa
Oleh Admin2 menit baca292 dibaca

KUKAR, POSKOTAKALTIMNEWS : Perubahan perilaku dan karakter peserta didik, termasuk fenomena penggunaan bahasa gaul dengan banyak kata istilah yang kurang baik belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, menjadi perhatian dunia pendidikan.
Menyikapi hal itu, SMPN 3 Tenggarong menyiapkan program pendampingan khusus bagi siswa melalui program redesign kurikulum 2026, agar perkembangan karakter anak tetap berada dalam jalur yang benar.
Program yang mulai diterapkan pada tahun ajaran baru ini turut melibatkan psikolog untuk membantu sekolah memahami kondisi, perkembangan dan perubahan perilaku setiap peserta didik.
Kepala SMPN 3 Tenggarong, Sariyani mengatakan, pelaksanaan program tersebut untuk sementara difokuskan kepada siswa kelas 7.
Melalui pendekatan ini, sekolah berupaya mengenali lebih awal perubahan perilaku siswa yang membutuhkan perhatian dan pembinaan lebih lanjut.
"Untuk kelas 7, kami memang memberikan perhatian khusus. Siswa yang mulai menunjukkan indikasi perilaku menyimpang mendapatkan bimbingan dan perlakuan khusus melalui program redesign kurikulum 2026," ujarnya saat dihubungi pada Jumat (30/10/2026).
Sementara itu, pengawasan terhadap siswa kelas 8 dan 9 tetap dilakukan melalui pemantauan tenaga pendidik.
Guru Bimbingan dan Konseling (BK) akan mengambil langkah apabila menemukan perubahan perilaku yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Perhatian sekolah terhadap persoalan tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman menangani kasus yang pernah ada.
Pengalaman seperti itu menjadi bahan evaluasi bagi sekolah untuk meningkatkan kepekaan dalam melihat perkembangan perilaku peserta didik, sehingga bila ada persoalan yang muncul dapat dikenali lebih awal.
Dalam pelaksanaan redesign kurikulum, sekolah juga melibatkan psikolog untuk melakukan sejumlah tes terhadap siswa.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi bahan pertimbangan bagi pihak sekolah dalam memahami karakter dan kebutuhan masing-masing peserta didik, sekaligus menentukan bentuk pendampingan yang sesuai.
Namun, pembinaan karakter tidak cukup hanya dilakukan melalui lingkungan sekolah.
Peran keluarga juga dinilai penting, terutama dalam mengenali perubahan sikap anak yang mungkin tidak selalu terlihat selama mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Karena itu, SMPN 3 Tenggarong turut melibatkan orang tua melalui kegiatan parenting yang dilaksanakan dua kali dalam setahun.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi sekolah dan keluarga untuk membangun pemahaman bersama mengenai perkembangan anak, termasuk pola pergaulan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai, orang tua memiliki peran besar dalam mengenali perubahan perilaku anak karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka di luar jam sekolah.
"Imbauan kami kepada orang tua adalah agar bisa mendeteksi sejak dini kondisi anak-anaknya. Perhatikan bagaimana pergaulannya dan bagaimana perlakuannya terhadap teman-temannya," pesannya.
Meski demikian, sekolah tetap menjalankan pengawasan selama siswa berada di lingkungan pendidikan.
Komunikasi antara guru dan orang tua juga perlu terjaga agar setiap perubahan yang ditemukan dapat segera dibicarakan dan ditangani bersama.
"Yang paling bisa mendeteksi perubahan perilaku anak sebenarnya adalah orang tua. Sebab, waktu anak berada di sekolah hanya beberapa jam. Meski demikian, pihak sekolah juga tetap melakukan pemantauan dan deteksi terhadap perkembangan siswa," tutupnya. (Kriz)



