Alexander Ginting : Indonesia Masih Bergantung Impor Minyak hingga Lima Tahun ke Depan
Oleh Admin2 menit baca317 dibaca

SURABAYA, POSKOTAKALTIMNEWS : Ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak diperkirakan masih akan berlanjut setidaknya hingga lima tahun ke depan. Kondisi ini dipicu kesenjangan antara kebutuhan konsumsi minyak nasional dengan kemampuan produksi dalam negeri yang belum mampu memenuhi permintaan.
Managing Director Petromindo, Alexander J Ginting, mengungkapkan, konsumsi minyak Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 1,70 juta barel per hari. Sementara produksi nasional hanya berada di kisaran 1,08 juta barel per hari.
Artinya, terdapat selisih sekitar 620 ribu barel per hari yang harus dipenuhi dari sumber lain, termasuk melalui impor.
"Menurut pandangan kami, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak belum akan berakhir hingga lima tahun ke depan. Di tengah kebutuhan energi yang terus berjalan, produksi minyak nasional menghadapi tantangan berat. Ladang-ladang tua mengalami penurunan alamiah, sementara temuan baru belum cukup untuk memenuhi kebutuhan kita," ungkap Alexander dalam kegiatan Media Gathering SKK Migas Wilayah Kalimantan dan Sulawesi di DoubleTree by Hilton Surabaya, Senin (2/11/2026).
Ia menjelaskan, salah satu persoalan mendasar yang dihadapi industri hulu migas adalah dominasi lapangan minyak tua. Berdasarkan materi presentasinya, sekitar 70 persen produksi minyak nasional berasal dari lapangan-lapangan yang telah lama beroperasi.
Kondisi tersebut membuat upaya mempertahankan produksi minyak nasional semakin menantang. Sebab, setiap lapangan minyak memiliki siklus produksi. Setelah mencapai puncak produksi, secara alamiah volumenya akan terus mengalami penurunan.
Karena itu, diperlukan berbagai upaya untuk menahan laju penurunan produksi, mulai dari pengeboran sumur baru, perawatan sumur eksisting hingga penerapan teknologi peningkatan perolehan minyak.
"Jadi bisnisnya SKK Migas dan KKKS dalam hal minyak itu adalah menahan laju penurunan," jelasnya.
Menurut Alexander, tantangan lainnya adalah menemukan cadangan baru yang mampu memberikan tambahan produksi dalam jumlah signifikan. Sebab, lapangan-lapangan baru yang saat ini dikembangkan dinilai belum mampu menutup kesenjangan antara kebutuhan konsumsi dan produksi minyak nasional.
Dengan kondisi tersebut, ia menilai peningkatan produksi minyak tidak bisa hanya mengandalkan lapangan yang sudah beroperasi. Kegiatan eksplorasi dan pengembangan wilayah kerja migas perlu terus diperkuat untuk menemukan sumber cadangan baru.
"Jadi kalau kita lihat dari bacaan-bacaan ini, ke depannya kita masih akan tetap menjadi pengimpor minyak setidaknya lima tahun ke depan," katanya.
Situasi ini menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional. Selain menjaga produksi dari lapangan-lapangan eksisting, industri hulu migas dituntut meningkatkan kegiatan eksplorasi dan mempercepat pengembangan lapangan baru agar ketergantungan terhadap pasokan minyak dari luar negeri dapat ditekan.
Selain itu, Alexander J Ginting juga menyinggung perlunya pemerintah di daerah penghasil untuk melaksanakan program pembangunan jaringan pipa gas rumah tangga. Dengan membangun infrakstruktur tersebut gas bisa langsung disalurkan ke tiap-tiap rumah.
Selian hemat juga lebih bersih dan aman, terutama dalam mengurangi risiko kebocoran tabung gas. Dengan gas mengalir 24 jam, ini tidak akan merepotkan masyarakat untuk selalu menganti tabung gas.
“Bayangkan saja, setiap tabung gas LPG 3kg yang dibeli masyarakat itu, setengahnya merupakan subsidi pemerintah. Dengan membangun jaringan pipa ke perumahan ini jauh lebih hemat, baik bagi masyarakat maupun pemerintah sendiri,” kata Ginting.
Hal itu cukup beralasan, melihat Indonesia merupakan penghasil gas yang lumayan besar, bahkan mampu ekspor gas ke Singgapura. (mid/sya)



