Aji Muhammad Mirza Resmi Petinggi Pore SK2 Kaltim
TENGGARONG, Pengukuhan Kerapatan Wilayah Sempekat Keroan Kutai (SK2) Provinsi Kalimatan Timur (Kaltim), Tulak Tahun (Masa Bakti) 2017-2021 resmi di kukuhkan dengan mengangkat Aji Muhammad Mirza Wardhana ST sebagai Petingi Pore (Ketua) Wilayah Provinsi Kaltim.
Pengukuhan berlangsung di Balai Angung Panca Persada, Kamis (30/03/2017) pagi.
Acara tersebut dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAM Salehuddin II, Staf Ahli Bupati. H. Otoy Usman, SH MM,. Para Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama Kutai Kartanegara (Kukar) dan seluruh pengurus SK2.
Petinggi pore SK2 Kutai Kartanegara Dr Sabran Gelar Mas Wiro Joyo Projo, menyampaikan Kerajaan Kutai merupakan kerajaan yang tertua di Indonesia dalam warisan sejarah telah meninggalkan budaya yang beradab tinggi dan sangat luhur seperti yang tercantum dalam undang-undang panji selaten dan undang-undang braja niti yang mengatur tentang tata kehidupan masyarakat adat kutai.
SK2
sebagai oerganisasi budaya yang didirikan 11 tahun yang lalu, tepanya tanggal
15 April 2006. Tetap konsisten dalam upaya mengawal adat istiadat serta budaya
kutai yang memiliki nilai dan makna yang sangat tinggi ini harus di pertahankan
dan dikenalkan pada generasi penerus khususnya di benua odah etam.
“Kedepan kita akan bermitra dengan Pemerintah Kukar guna menjadikan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal di sekolah dasar dan menengah di kukar. Termasuk juga gerakan sempekat seperti gerakan sempekat menulis tentang Historikal Of Kutai, gerakan sempekat besedekah, gerakan sempekat berwirausaha” katanya.
Sehingga
untuk mejuwudkan itu semua lanjut Sabran, maka perlu gerakan budaya “Betulungan” dengan
semboyan“Betulungan Etam Rakat Kutai Jagau”
probelamtikan dan kesulitan dibidang ekonomi yang dampaknya kita rasakan saat ini, tereleminasinya infrastruktur dan suprastruktur budaya dengan semakin nampaknya perubahan prilaku manusianya untuk mulai meningalkan kebiasaan baik yang telah diwariskan oleh para leluhur.,
Aji Muhammad Mirza Wardhana ST, Petinggi Pore Wilayah Kaltim SK2, mengatakan kedepan semakin bisa kokoh dan kuat posisi, eksistensi, kontribusi kita sebagai orang kutai , .
“Semoga organisasi SK2 ini bisa memajukan masyarakat kukar mejadi yang lebih baik, tidak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh yang menghadiri pengukuhan dan terkhusus kepada Sultan HAM Salehuddin II” paparnya.
Staf Ahli Bupati. H. Otoy Usman, SH MM, yang mewakili Bupati Kukar Riat Widyasari, menyampaikan masyarakat Kutai merupakan masyarakat suku asli Kaltim dan secara kuantitas adalah minoritas dibandingkan dengan masyarakat pendatang dalam dinamikanya juga orang kutai, sehingga mempengaruhi eksistensi dalam dunia politik, ekonomi, sosial dan budaya di deraha kita. Eksploitasi terhadap hutan dan tambang di benua kutai tidak seimbang dengan peningkatan taraf hidup masyarakat, bagaimana organisasi SK2 haru peka dan peduli unutk menyikapi secara arif dan bijaksana, bagaimana organisasi ini dapat menjadi penyeimbang serta memberikan kotribusi nyata dalam memberikan solusi serta aksi untuk membangun daerah kutai yang kita cintai ini.
“Melestarikan
kebudayaan kutai bukan hanya tangung jawab pemerintah saja namun itu tanggung
jawab kita semua, masyarakat secara langsung juga harus bertanggung jawab atas
pelestarian kebudayaan di tanah kutai, pemerintah hanya memberi
stimulus/rangsangan, pelestarian budaya itu penting karena ruh dari pembanguna
secara keseluruhan adalah pada kebudayaan” jelasnya
Semntara
HAP Hario Kesumo Poeger yang mewakili Sultan HAM Salehuddin II, menegaskan
phika kesultanan sangat bangga dengan penggukhan SK2 Wilayah Provinsi Katim,
yang perlu di ingat bahawa kerajaan kutai kartanegara menggabungkan dirinya
dengan NKRI sejak tahun 1959 sejak itulah kerajan kutai tidak lagi memimpin
suatu pemerintahan, Bupatu Kutai pertama adalah Aji Raden Padmo, sejak 40 tahu
yang lalu kerajaan kutai masih utuh tetapi tidak mempunyai raya yang memimpin
suatu pemerintahan, di nabalkan HAM Salehuddin II tahun 2001 maka kita kembali
memiliki raja, yang memiliki adat tertinggi di kutai khususnya di Kaltim, oleh
kana itu kepada semua yang baru di kukuhkan.
“kami
mengharapkan tolong kami dibantu untuk menarik kembali museum mulawarman agar
bisa kembali pada Kesultanan sehingga kita dapat menujukan pergerakan, yang
sekarang ini didalam museum bermacam aneka ragam buaya yang ada di dalamnya”katanya.
“Karena setiap erau pihak kesultanan harus meminta izin kepada pengelola museum, itu sangan diprihatinkan, kita yang punya tahta dan wilayah minta izin kepada pengelola museum untuk melaksanakan kegiatan erau, sementara erau itu sendiri adat kesultanan yang tertinggi di Kaltim.”tambahnya.
Pemerintah kukar mengebu-gebu mengadakan erau pihak
kesultanan sebagai pelaksana tidak pernah di beri tahu, kegiatan erau
dilaksanakan pada tanggal 23 Juli, rencana. “Tetapi kami sebagai pemakai budaya
tidak perna di beri tahu, ini lah yang perlu kita satukan visi agar tidak
terjadi seolah-olah sultan tidak mengingikan erau ini yang perlu di
klarifikasaih oleh pihak kesultanan, kami siap sebagia penyelenggara kami siap
sebagai pemegang adat, apapun yang di lakukan oleh pemerintah kami siap akan
menunjang kegitan tersebut, akan tetapi jika makmi tidak di berikabar kan
adanya erau, bagaimana kami sebagai pelaksana untuk menyiapkan diri kedepannya
agar lebih baik lagi,”ungkapnya.(aji-poskotakaltimnews.com)