Dies Natalis Unikarta ke 33, Fisipol Gelar Cerau Nasi Bekepor dan Nunu Suman
TENGGARONG, Dalam rangka
Dies Natalis Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) ke 33 dan Hari Budaya
Kutai Kartanegara (Kukar), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unikarta
mengelar acara Cerau Nasi Bekepor dan Nunu Suman, dengan tema “Lestarikan Adat
Budaya Etam”, yang di gelar di Halaman Unikarta, Rabu (11/04/2017) pagi.
Dekan Fisipol Awang M.
Rifani. S.Sos, Selaku Ketua Panitia Penyelaengara, menuturkan, acara ini dilasanakan
untuk memperingati hari berdirinya Unikarta yang ke 33 dan juga sekaligus
memperingati hari juang panglima Awang Long Senopati ke 173 serta peringatan
Hari Budaya Kukar. “Mengapa memilih Nasi Bekepor itu dalah Prosesi memasak nasi
dalam “kenceng” (Periuk) ini adalah tradisi memask di tanah kutai yang patut
kita lestarikan. Dan semoga Acara yang mengatkat Seni dan Tradisi Tanah Kutai
seperti ini bisa kita lakukan setiap tahunya untuk memperingatai Hari Budaya
Kukar dan di kenal terus oleh anak dan cucu kita kelak” katanya.
Di sebut Nasi bekepor,
karena cara memasaknya tidak selamanya di letakan di atas api yang berbahan
bakar Kayu, akan tetapi setelah nasi didalam “kenceng” tersebut sudah setengah
matang “Kenceng” lalu di turunkan diletakan di atas bara api dan di samping api
yang masih menyala besar sambil di putar.
“Acar ini tidak akan
berjalan tanpa dukungan densanak (saudara) kita dari Dusun Adat Bensamar, Dusun
Adat Bengkiring, Sempekat Keroan Kutai, Ikatan Keluarga Alumni Fisipol
Unikarta, Keroan Etam Kutai, Komunitas Pelem Indi Tenggarong, Desa Sabintulung.”katanya.
Sementara Staff Alhi
Bupati Kukar H. Otty Usman, yang mewakili Bupati Kukar sekaligus membuka acara
secara resmi, menyampaikan, acara ini merupakan wujud keperdulian kita terhadap
Khazanah Budaya lokal Daerah Etam, Cerau Nasi Bekepor ini memberikan kesempatan
pada kita untuk kembali mengenalkan budaya kita kepada generasi muda khususnya
makanan khas kutai, .
“Seperti “Suman, Gangan
Pisang, Sanga Cabe’ Pepik, Sanga Cabe’ Bawang Rambut, Pirik Cabe’ Jaong,
Sanga Pija Biawan, Tunu Jukut dan Nasi Bekepor, yang keberadaannya kita
sudah mulai menghilang serta tidak banyak lagi di ketahui oleh generasi penurus
kita” paparnya.
Ia juga menambakan, ada
sebuah pepatah mengatakan, cara mengenal dan mempelajari budaya orang adalah
dengan cara makan apa yang mereka makan. Setipa daerah memiliki ke khasan buya
masing-masing, walaupun demikian budaya tetap memiliki makna dan nilai
filosophi hidup dengan muatan jati diri masing-masing masyarakatnya, “saya
berharap dengan kegiatan ini dapat terus mengokohkan falsapat, tata nilai dan kretifitas
seni yang telah ada selama ini dan tetap berpijak kuat pada akar tradisi, serta
kegiatan seperti ini dapat di agendakan setia tahun sebagai miniatur
pelaksanaan Erau di dunia kampus” terang Otty.
DR. Sabran SE Rektor
Unikarta, menerangkan, agar kegiatan ini menjdai budaya lokal yang bisa di jual
pada waktu Erau, ini sangat perlu disajikan di dalam kegiatan budaya yang lebih
besar lagi sehingga menjadi nilai jual bagi Kukar untuk mendorong di bidang
pariwisata yang lebih baik di masa depan.
“Semoga kegiatan ini bisa menjadi pendorong budaya yang ada di tanah kutai” ungkanya.
Acara ini juga di isi dengan berbagai kesenian Tradisional diantaranya ada, pertinjukan Silat Kuntau dari dusun Ukung, Petujukan Semi Musik Trasional “Tingkilan” yang di persembahkan Oleh Eksmus SMPN 1 Tenggarong, Pembacaan Pusi. (aji-poskotakaltimnews.com)