Buka Rakor Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial, Wagub: Jaga Kaltim Tetap Kondusif
Rapat Koordinasi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota se Kaltim.
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,SAMARINDA-Wakil Gubernur (Wagub)
Kaltim H Hadi Mulyadi resmi membuka Rapat Koordinasi Tim Terpadu Penanganan
Konflik Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota se Kaltim yang diinisiasi Badan
Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kaltim di Ballroom Crystal 1 Hotel
Mercure Samarinda, Selasa (23/11/2021).
Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh
Wagub Hadi Mulyadi didampingi Staf Ahli Gubernur bidang Reformasi Birokrasi dan
Keuangan Daerah M Kurniawan, Staf Ahli bidang Geopolitik Kodam VI Mulawarman
Kolonel Arm Eko Setiadi, Asisten bidang Intelijen Kejati Kaltim Muhammad
Sumartono, Ketua FKUB Kaltim Asmuni Alie, Kepala Badan Kesbangpol Kaltim Sufian
Agus, perwakilan tokoh agama, tokoh adat dan organisasi kemasyarakatan (ormas).
Wagub Hadi Mulyadi mengungkapkan rakor ini
sangat penting dan strategis perannya dalam menjaga kondusifitas wilayah.
Karena Kaltim ini merupakan miniatur Indonesia yang memiliki keragaman suku dan
agama, sehingga sangat rawan terjadi konflik sosial. Tetapi disinilah peran
dari Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial baik ditingkat provinsi dan
kabupaten/kota bersama dengan forum-forum mitra pemerintah dan ormas,
organisasi kepemudaan, paguyuban kedaerahan dan masyarakat dalam menjaga
kondusifitas daerah.
“Saya mengucapkan terima
kasih-sebesar-besarnya kepada masyarakat Kaltim, karena Kaltim dikenal dengan
daerah yang kondusif, sangat minim dan sangat rendah konflik sosial. Sehingga
beberapa kali Kaltim meraih penghargaan Harmoni Award yang diterima Pemprov
Kaltim, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kaltim dan Pemkot Balikpapan dari
Kementerian Agama. Kita juga patut bersyukur karena di Kaltim memiliki tiga ibu
kota sekaligus, yaitu Samarinda ibu kota Kaltim, Balikpapan ibu kota Kalimantan
dan Penajam Paser Utara (PPU) ibu kota negara Indonesia,” ungkap Hadi.
Menurut dia, pemindahan ibu kota negara (IKN)
ke Kaltim diharapkan bisa menjadi awal pemerataan pembangunan antara Pulau Jawa
dengan luar Pulau Jawa. Terutama terkait anggaran pembangunan yang selama ini
60 persennya ada di Pulau Jawa. Untuk itu Pemprov bersama masyarakat Kaltim
sangat mengapresiasi keputusan Presiden Jokowi yang memindahkan IKN ke Kaltim.
Walaupun tidak bisa cepat, karena mungkin membutuhkan waktu 10-20 tahun ke
depan.
“Kita tidak berpikir pemindahan IKN ke Kaltim
untuk saat ini tetapi untuk anak cucu kita. Bagaimana pemerataan pembangunan
antara Jawa dan luar Jawa bisa terwujudkan. Untuk itu, mari kita bersama-sama
menjaga agar Kaltim tetap kondusif, yang tetap taat dan patuh dengan komitmen
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” pesan Hadi.
Rakor kali ini mengangkat tema “Peran
Organisasi Masyarakat Mendukung Kondusifitas Daerah dalam rangka Pemindahan Ibu
Kota Negara di Kaltim”. Diikuti sekitar 150 peserta dari kabupaten/kota se
Kaltim, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19. (mar).