DKP3A Kaltim Gelar Advokasi KIE Penurunan Stunting
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,BONTANG- Data Stunting di Indonesia, menurut Riskesdas Kementerian
Kesehatan, angka stunting nasional mengalami penurunan dari 37,2% pada 2013
menjadi 30,8% pada 2018. Menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada 2019 menjadi 27,7%,
tahun 2021 sebesar 24,4%. Sementara untuk nasional pada tahun 2024 Pemerintah
menargetkan menjadi 14%.
“Tahun
2022 penurunan stunting lebih dari 3% atau paling sedikit 3%. Oleh
karena itu intervensi spesifik dan intervensi sensitif harus benar-benar
dijalankan dengan baik karena target akhir di tahun 2024 menjadi 14%,” ujar
Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Permepuan dan Perlidnungan Anak (DKP3A)
Kaltim Noryani Sorayalita saat membacakan sambutan Wakil Gubernur Kaltim Hadi
Mulyadi pada kegiatan Advokasi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Penguatan Kerjasama Anggota Tim
Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2022, berlangsung di Hotel Bintang Sintuk
Bontang, Kamis (22/9/2022).
Di Provinsi Kaltim lanjut Soraya, persentase
Stunting pada tahun 2019, sebesar 28,09% dan tahun 2021 sebesar 22,8%. Data
Stunting kabupaten/kota di Provinsi Kaltim yaitu empat kabupaten/kota adalah
Kutai Kartanegara, Kota Balikpapan, Mahakam Ulu dan Samarinda yang memiliki
angka lebih rendah dari persentase rerata Provinsi.
“Sedangkan untuk enam kabupaten/kota lainnya
adalah Kutai Timur, PPU, Kukar, Bontang, Berau dan Paser, yang memiliki
persentase Stuntingnya masih berada di
atas rerata Provinsi,” ujar Soraya.
Pada tingkat provinsi telah dibentuk Tim
Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dengan Keputusan Gubernur Nomor
463/K.159/2022 tentang Pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting Provinsi
Kalimantan Timur, pada tanggal 14 Maret 2022.
Selain itu, mengingat Kaltim akan menjadi Ibu
Kota Negara perlu kiranya usaha
peningkatan kapasitas masyarakat atau sumber daya manusia dalam
menghadapi persaingan dan tantangan agar dapat ikut serta dan berperan aktif
dalam sektor – sektor pembangunan.
“Salah satunya melalui penurunanan angka stunting,” imbuhnya.
Sementara Kepala Bidang PPKB Syahrul Umar
mengatakan, berdasarkan data e-Infoduk DKP3A Kaltim, jumlah penduduk Kota
Bontang sebanyak 185.393 jiwa atau 4,82% dari jumlah penduduk Kaltim dengan
rincian laki-laki 96.113 jiwa (52%) dan perempuan 89.280 (48%).
“Untuk jumlah balita di Kota Bontang sebanyak
16.273 jiwa (9%). Sementara jumlah usia produktif 15-24 tahun sebanyak 645.121
jiwa,” ujar Syahrul.
Saat ini, angka prevalensi stunting Kota
Bontang adalah 26,3%. Sedangkan jumlah Balita stunting di Bontang Selatan
sebanyak 483 balita, Bontang Utara sebanyak 694 dan Bontang Barat sebanyak
1.156 balita. Untuk keluarga beresiko stunting di Bontang Selatan sebanyak
7.114, Bontang Utara sebanyak 8.724 dan Bontang Barat sebanyak 14.840.
Ditengah ketatnya kompetisi dan perkembangan
dunia yang semakin dinamis dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar dan
jumlah penduduk usia anak yang cukup tinggi pula, jika tidak dikelola dengan
baik tentu akan menimbulkan berbagai permasalahan nantinya.
“Oleh karenanya usaha dan aksi percepatan
pencegahan stunting perlu dilakukan bersama-sama bukan hanya pemerintah, OPD
lintas sektor tapi juga lembaga non pemerintah serta masyarakat,” ujarnya.
Hadir menjadi narasumber Wakil Walikota
Bontang Najirah dan Kabis Kesmas Dinkes Bontang Jamila Suyuthi. Tampak hadir
Sekda Kota Bontang Aji Erlinawati (mar)