Kasus Stunting, Ini Upaya Penanganan Pemkab Kukar
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,
KUTAI KARTANEGARA-
Pengendalian kasus stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara, menjadi fokus
pemerintah daerah. Berbagai upaya yang dilakukan Pemkab Kukar dalam penanganan
kasus stunting.
Dalam penanganan maupun pengendalian kasus
stunting di Kukar, Dinas Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri, dibutuhkan
kolaborasi antar OPD baik dari tingkat Kabupaten, Kecamatan, hingga
Kelurahan/Desa.
Bupati Kukar Edi Damansyah mengatakan, Pemkab
Kukar melalui OPD teknis terus melakukan evaluasi, bagaimana penanganan kasus
stunting di Kukar bisa dikendalikan dengan baik. Pada 2019 lalu telah dibentuk
Gerakan Keluarga Peduli Pencegahan dan Atasi Stunting (Raga Pantas) namun tidak
bisa efektif, karena disebabkan waktu itu terjadi Covid-19.
"Ragapantas ini penanganannya berbasis
keluarga, bulan depan akan dilakukan presntasi terhadap program ini. Sementara
dalam penanganan stunting dilakukan berbagi peran, nanti ada yang namanya bapak
asuh," kata Edi Damansyah kepada Poskotakaltimnews usai rakor pencegahan
dan evaluasi stunting, di ruang serbaguna Pemkab Kukar, Rabu (3/5/2023)
Ia menyebutkan, dari Kepala Daerah hingga
pejabat pimpinan tinggi pratama diberikan peran sebagai bapak asuh, yang
tujuannya untuk mengedukasi khususnya di keluarganya sendiri, agar tidak
terjadi stunting.
"Bapak asuh atau ibu asuh terhadap anak
anak yang belum terjadi stunting, untuk dipantau pertumbuhannya agar tidak
terjadi stunting," jelasnya.
Dirinya berharap, pasca covid-19 ini untuk
pengendalian maupun penanganan kasus, bisa efektif, terkendali dengan baik.
Sehingga kasus stunting di Kukar menurun.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kukar
Martina Yulianti menuturkan, upaya yang dilakukan untuk penanganan kasus
stunting dengan melakukan integrasi antar OPD, dan kovergensi melalui program
program lintas OPD dalam kerangka raga pantas.
"Di dalam raga pantas ada indikator
pantas sehat, pantas pendidikan, pangan, tempat tinggal, dan pantas sejahtera,
indikator tersebut yang ada di level OPD," ucap Martina Yulianti
Artinya sejumlah OPD ini menganggarkan
beberapa program, yang bertujuan untuk melakukan intervensi spesifik maupun
intervensi sensitif terhadap stunting. Kedepan juga Dinkes dalam pengendalian
stunting akan membuka program ayah dan bunda asuh stunting.
"Yang belum stunting pun diasuh,
dipantau pertumbuhannya agar tidak stunting, jika yang sudah stunting tetap
dipantau agar tidak tambah berat," ungkapnya
Kata dia, angka stunting di Kukar naik turun,
hingga saat ini ada sekitar 5 ribu anak yang terkena stunting. Sementara
pemerintah pusat menargetkan kasus stunting di Indonesia sekitar 14 persen.
"Angka stunting saat ini bergerak terus,
kalau prevalensi yang dari survei status gizi sekitar 27 persen," tutupnya.(riz/adv)