Kadisnakertrans Berau Tanggapi Soal Ancaman Pemecatan dari Aliansi Buruh

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Menanggapi  adanya ancaman pemecatan dari Aliansi Buruh, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Berau, Zulkifli Azhari, menegaskan bahwa penilaian terhadap kinerjanya merupakan kewenangan atasan langsung bukanlah pihak luar.

 

"Jadi perlu kami tegaskan penilaian paling objektif itu dari atasan langsung saya, seperti Sekda dan Bupati. Mereka yang berkompeten menilai kinerja saya. Kalau ada pendapat dari luar, itu hak mereka, saya tidak bisa mengomentari lebih jauh," ujar Zulkifli saat ditemui di kantornya baru-baru ini.

 

Zulkifli juga menyampaikan bahwa pengawasan tenaga kerja di lapangan saat ini masih banyak didominasi oleh internal perusahaan. Ia menegaskan bahwa Disnakertrans tidak bisa serta-merta masuk ke ranah internal perusahaan tanpa dasar hukum yang jelas.

 

“Dan kami juga sampaikan soal pengawasan, itu masih banyak dikelola internal perusahaan. Kami baru bisa masuk kalau ada pelanggaran atau laporan. Tidak ada aturan yang melarang ataupun mewajibkan perusahaan memberhentikan pekerja karena desakan eksternal," jelasnya.

 

Terkait persoalan tenaga kerja lokal, Zulkifli mengungkapkan bahwa pihaknya telah membuka berbagai kesempatan kerja, termasuk melalui kegiatan job fair yang menyediakan hingga 500 lowongan. Namun, banyak dari pelamar lebih memilih bekerja di sektor pertambangan.

 

"Dari 500 lowongan kerja yang ditawarkan, hanya sekitar 20 orang yang mendaftar. Kebanyakan justru lari ke tambang karena penghasilan yang dianggap lebih besar," ujarnya.

 

Ia juga menekankan bahwa Disnakertrans terus berupaya mengembangkan potensi tenaga kerja lokal, termasuk menjajaki peluang kerja ke luar negeri bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan instansi terkait.

 

"Kami aktif mendatangi SMK, mengedukasi siswa tentang peluang kerja ke luar negeri yang dibiayai pemerintah, bahkan hingga jaminan keselamatan kerja di sana," ungkapnya.

 

Menanggapi isu pekerja yang dianggap pilih-pilih pekerjaan, Zulkifli menjelaskan bahwa hal itu lebih kepada pendekatan psikologis untuk menempatkan seseorang sesuai minat dan kemampuannya.

"Bahasa 'milih-milih' itu kami gunakan dalam konteks pemetaan psikologis. Kami ingin tahu di bidang mana mereka cocok, bukan berarti mereka tidak mau bekerja," pungkasnya. (sep/FN)