Komisi III DPRD Berau Nilai Pemkab dan Pihak Swasta Belum Sinergi Benahi Infrastruktur Jalan Rusak
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Di sejumlah kampung di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, jalan bukan sekadar infrastruktur, ia adalah urat nadi kehidupan. Namun ketika jalan rusak dan tak kunjung diperbaiki, denyut kehidupan masyarakat pun ikut melambat bahkan berdampak.
Keluhan warga yang
kesulitan beraktivitas akibat akses jalan yang buruk dinilai bukan lagi
persoalan biasa, melainkan cerminan belum optimalnya sinergi antara pemerintah
daerah dan pihak swasta.
Anggota Komisi III
DPRD Berau, Rahman, secara terbuka menyuarakan kegelisahan tersebut. Ia
menilai, lambannya perbaikan jalan menunjukkan adanya celah koordinasi yang
harus segera dibenahi.
“Persoalan ini
berulang. Artinya ada yang belum sinkron antara pemerintah dan pihak swasta.
Padahal masyarakat yang paling merasakan dampaknya,” ujarnya.
Bagi warga di
pelosok, jalan rusak bukan hanya soal ketidaknyamanan. Lebih dari itu, kondisi
tersebut membatasi ruang gerak mereka mulai dari akses menuju pasar, sekolah,
hingga layanan kesehatan. Dalam situasi tertentu, perjalanan yang seharusnya
bisa ditempuh dalam hitungan menit berubah menjadi berjam-jam. Bahkan, tidak
sedikit warga yang terpaksa menunda aktivitas karena kondisi jalan yang tidak
memungkinkan untuk dilalui.
“Kasihan masyarakat.
Mau keluar masuk kampung saja sulit. Ini menyangkut kebutuhan dasar mereka,”
kata Rahman.
Ia menegaskan,
perbaikan jalan tidak bisa dibebankan hanya kepada satu pihak. Kehadiran
perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Berau, menurutnya, juga harus diiringi
dengan kontribusi nyata terhadap lingkungan sekitar, termasuk infrastruktur.
“Harus ada
kolaborasi. Pemerintah tidak bisa sendiri, dan swasta juga tidak boleh lepas
tangan. Ini tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Rahman juga
mengingatkan bahwa jalan yang layak merupakan fondasi penting bagi pertumbuhan
ekonomi daerah. Ketika akses terbuka, distribusi barang menjadi lancar, biaya
logistik menurun, dan peluang usaha masyarakat ikut meningkat. Sebaliknya, jika
infrastruktur dibiarkan rusak, maka dampaknya akan meluas mulai dari
terhambatnya aktivitas ekonomi hingga meningkatnya kesenjangan antarwilayah.
“Kalau jalannya
bagus, ekonomi bergerak. Itu efeknya langsung terasa. Jadi ini bukan sekadar
proyek fisik, tapi menyangkut kesejahteraan,” jelasnya.
Lebih jauh, ia
menyebut bahwa kualitas infrastruktur juga menjadi indikator nyata kehadiran
pemerintah di tengah masyarakat. Jalan yang mulus, menurutnya, adalah bentuk
konkret perhatian negara terhadap kebutuhan rakyat di tingkat bawah.
“Kalau masyarakat
sudah bisa merasakan akses yang baik, di situlah pemerintah dianggap
benar-benar hadir,” tambahnya.
Untuk itu, DPRD Berau
mendorong agar proyek-proyek perbaikan jalan yang telah
direncanakan dapat
segera direalisasikan sesuai target. Pengawasan pun akan diperketat agar
pelaksanaan di lapangan tidak melenceng dari rencana. Rahman memastikan,
pihaknya tidak akan tinggal diam jika progres perbaikan berjalan lambat atau
tidak sesuai harapan. DPRD siap mengambil langkah tegas, termasuk memanggil
pihak-pihak terkait untuk dimintai penjelasan.
“Kita tidak ingin
hanya menerima laporan di atas kertas. Kalau progresnya tidak jelas, kami akan
panggil,” tegasnya.
Tak hanya itu, DPRD
juga membuka opsi untuk turun langsung ke lapangan. Langkah ini dinilai penting
agar persoalan yang terjadi dapat dilihat secara nyata, sekaligus mencari
solusi bersama antara pemerintah, kontraktor, dan pihak swasta.
“Kami ingin
memastikan langsung apa kendalanya. Dari situ bisa dicari solusi yang konkret,
bukan hanya wacana,” ujarnya.
Di tengah dorongan
tersebut, harapan masyarakat tetap sederhana: jalan yang layak untuk dilalui,
akses yang mudah untuk beraktivitas, serta perhatian nyata dari para pemangku
kepentingan. Sebab bagi mereka, jalan bukan hanya penghubung antarwilayah, melainkan
jembatan menuju kehidupan yang lebih baik. (sep/FN/Advertorial)