Bupati Berau Ajak Kampung Lestarikan Hutan dan Pohon Sebagai Kekuatan Ekonomi Lewat Dana Karbon Rp349 Juta
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Menanam pohon kini bukan lagi sekadar
gerakan menjaga lingkungan. Di Kabupaten Berau, pelestarian hutan mulai
diarahkan menjadi sumber ekonomi baru bagi Kampung. Melalui skema dana karbon,
pemerintah kampung didorong menjadikan hutan sebagai aset yang mampu
menghasilkan manfaat nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Bupati Berau Sri
Juniarsih meminta seluruh pemerintah Kampung untuk lebih aktif melakukan
penanaman pohon, menjaga kawasan hutan, serta memperkuat program pelestarian
lingkungan agar peluang pendapatan dari sektor ekonomi hijau dapat terus
meningkat pada masa mendatang. Dorongan tersebut muncul di tengah tantangan
efisiensi anggaran yang sedang diterapkan pemerintah pusat.
Menurut Sri, dana
karbon dari Green Climate Fund (GCF) menjadi salah satu peluang baru yang dapat
dimanfaatkan kampung untuk tetap bergerak menjalankan program pembangunan tanpa
hanya bergantung pada anggaran konvensional.
Tahun ini, sebanyak 79 Kampung dan 2 Kelurahan
di Kabupaten Berau menerima alokasi dana karbon dengan nilai mencapai Rp349
juta per Kampung. Nilai tersebut dinilai cukup signifikan untuk mendukung
kebutuhan operasional sekaligus memperkuat program pemberdayaan masyarakat yang
berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Bagi Sri, dana karbon
bukan sekadar bantuan keuangan, melainkan bentuk penghargaan atas komitmen
masyarakat yang menjaga hutan tetap lestari.
“Ini sangat lumayan
ya, bisa digunakan untuk mengembangkan potensi kampung yang berbasis
lingkungan,” kata Sri.
Menurutnya, selama
ini hutan sering dipandang hanya sebagai kawasan yang harus dijaga tanpa
memberikan nilai ekonomi langsung bagi masyarakat. Padahal, dalam perkembangan
kebijakan lingkungan global dan transisi energi saat ini, kawasan hutan justru
mulai menjadi aset bernilai tinggi karena kemampuannya menyerap emisi karbon.
Karena itu, ia
meminta pemerintah kampung tidak lagi melihat pelestarian lingkungan sebagai
beban, melainkan investasi jangka panjang yang dapat menghasilkan manfaat
ekonomi sekaligus menjaga keberlangsungan sumber daya alam. Dana karbon yang
diterima kampung, lanjutnya, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan
seperti operasional kegiatan lingkungan, penguatan kelembagaan masyarakat,
hingga pengembangan program berbasis konservasi.
“Ini kan lumayan
untuk operasional. Itu langsung masuk ke kampung,” ujarnya.
Sri juga mendorong
agar Pemerintah Kampung memperluas kerja sama dengan berbagai pihak dalam
menciptakan program pelestarian yang berkelanjutan. Menurutnya, kampung yang
mampu menjaga tutupan hutan dan membangun ekonomi berbasis lingkungan akan
memiliki peluang lebih besar dalam memperoleh manfaat ekonomi hijau di masa
depan. Ia menilai momentum ini harus dimanfaatkan secara serius, mengingat arah
pembangunan nasional dan dunia saat ini semakin menempatkan isu lingkungan
sebagai bagian dari strategi ekonomi.
Di tengah era
transisi energi, keberadaan hutan dinilai tidak lagi hanya memiliki fungsi
ekologis, tetapi juga dapat menjadi sumber penghidupan baru yang memberi nilai
tambah bagi masyarakat.
“Hutan ini menjadi
sumber kehidupan, bisa ciptakan cuan,” katanya.
Lebih lanjut, Sri
juga menyinggung kebijakan pemerintah pusat di bawah Presiden RI Prabowo
Subianto yang memperketat penindakan terhadap aktivitas pertambangan ilegal.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi sinyal positif bagi daerah yang selama ini
berupaya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Penertiban aktivitas
tambang ilegal dinilai dapat memperkuat upaya perlindungan kawasan hutan dan
membuka ruang lebih besar bagi pengembangan ekonomi hijau yang berbasis pada
konservasi.
“Ini harus kita
dukung, karena memang jadi kewenangan pusat,” tutupnya. (sep/FN/Advertorial)