Festival Budaya Berau Ditargetkan Tembus KEN dan Jadi Etalase Promosi Pariwisata Indonesia
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kabupaten Berau mulai memasang target besar untuk sektor pariwisatanya. Tidak lagi hanya menjadi agenda budaya tahunan tingkat daerah, festival budaya yang baru saja digelar kini diproyeksikan naik kelas dan menembus Kharisma Event Nusantara (KEN) kalender event unggulan nasional yang menjadi etalase promosi pariwisata Indonesia.
Langkah ini menjadi
sinyal keseriusan Pemerintah Kabupaten Berau dalam mendorong budaya lokal tidak
sekadar dipertontonkan, tetapi juga diangkat menjadi kekuatan ekonomi, promosi
wisata, sekaligus identitas daerah di tingkat nasional.
Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata (Disbudpar) Berau menyebut peluang tersebut terbuka setelah
dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan festival yang dinilai telah memenuhi
sejumlah indikator utama yang diprasyaratkan dalam seleksi KEN.
Kepala Disbudpar
Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan pihaknya telah mempelajari seluruh
mekanisme dan kebutuhan administrasi dalam proses pengajuan. Dari hasil
penilaian awal, festival budaya Berau dinilai memiliki potensi untuk bersaing
dengan ratusan event dari berbagai daerah di Indonesia.
“Setelah kami lakukan
penilaian, ternyata festival ini memiliki peluang untuk masuk Kharisma Event
Nusantara seperti yang sebelumnya juga disampaikan Pak Wakil Bupati.
Persyaratan yang dibutuhkan sudah kami pelajari dan insyaallah dapat dipenuhi,”
ujar Yudha.
Menurutnya, pekerjaan
besar justru dimulai setelah acara selesai digelar. Disbudpar akan melakukan
evaluasi menyeluruh bersama seluruh panitia dan pihak terkait untuk memastikan
seluruh data pendukung tersusun secara lengkap dan memenuhi standar nasional.
Proses tersebut
mencakup pengumpulan laporan pelaksanaan kegiatan, dokumentasi visual, jumlah
pelaku UMKM yang terlibat, nilai perputaran ekonomi selama kegiatan
berlangsung, jumlah stan yang berpartisipasi, hingga total kunjungan wisatawan.
Bagi Disbudpar,
angka-angka tersebut bukan sekadar laporan administratif. Data tersebut menjadi
bukti bahwa sebuah festival mampu memberikan dampak nyata terhadap ekonomi
masyarakat dan pergerakan sektor pariwisata daerah. Tidak hanya itu, berbagai
atraksi khas yang menjadi identitas budaya Berau juga akan diperkuat sebagai
nilai jual utama dalam proses seleksi. Di antaranya perlombaan balap perahu,
panjat piruwai, hingga lomba sumpit yang selama ini menjadi daya tarik
masyarakat dan wisatawan.
Seluruh dokumen
tersebut nantinya akan diunggah melalui sistem pendaftaran daring yang menjadi
tahapan resmi seleksi KEN.
“Pendaftaran dibuka
sampai 2 Agustus untuk pelaksanaan tahun depan. Kami juga sudah menyiapkan
dukungan anggaran stimulus sekitar Rp40 juta untuk mendukung proses ini. Karena
itu seluruh dokumen dan hasil evaluasi akan kami monitor agar benar-benar lengkap,”
jelasnya.
Namun ambisi membawa
Berau masuk kalender nasional tentu bukan perkara mudah. Setiap tahun, lebih
dari ratusan kabupaten dan kota di Indonesia berlomba mengajukan event unggulan
mereka agar mendapatkan pengakuan nasional melalui KEN. Persaingan menjadi semakin
ketat karena tidak hanya menilai kemeriahan acara, tetapi juga dampak ekonomi,
kualitas pengelolaan, keberlanjutan program, hingga kekuatan identitas budaya
yang ditampilkan.
Saat ini, baru
segelintir event di Kalimantan Timur yang berhasil menembus KEN. Karena itu,
Disbudpar Berau juga mulai menyiapkan strategi tambahan dengan membuka peluang
pendampingan bersama konsultan agar proses penyusunan dokumen dan pengajuan
dapat dilakukan lebih maksimal. Yudha menegaskan, apabila target tersebut
berhasil dicapai, manfaat yang diperoleh tidak hanya berupa pengakuan nasional.
Masuknya festival
budaya Berau dalam KEN diyakini dapat membuka akses promosi yang lebih luas,
meningkatkan kunjungan wisatawan, memperkuat eksistensi pelaku ekonomi kreatif,
hingga membuka peluang dukungan program dan fasilitasi dari pemerintah pusat.
“Kalau sudah masuk
KEN, harapannya kegiatan ini dapat menjadi agenda yang dikenal secara nasional.
Dukungan promosi dan penguatan program dari pemerintah pusat tentu menjadi
peluang yang sangat besar bagi Berau,” katanya. Lebih jauh, Yudha berharap
langkah ini menjadi awal kebangkitan festival-festival budaya di tingkat
kampung.
Menurutnya, setiap
kampung di Berau memiliki kekayaan tradisi, sejarah, dan filosofi budaya yang
perlu terus dijaga serta dikenalkan kepada generasi muda. Dengan penguatan
event budaya, masyarakat tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga
menjadikannya sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan penggerak ekonomi secara
berkelanjutan. Kini, harapan itu mulai diarahkan pada satu tujuan besar:
membawa budaya Berau tampil lebih jauh, dari panggung lokal menuju panggung
nasional. (sep/FN)