Sedimentasi Sungai Segah di Berau Menjadi Ancaman Keberlangsungan Sumber Air Bersih

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Persoalan sedimentasi di Sungai Segah mulai menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan sumber air baku  untuk diolah menjadi air bersih di Kabupaten Berau. 


Pasalnya endapan lumpur yang terus menerus meningkat membuat kawasan sekitar Intake Perumdam Batiwakkal menjadi semakin dangkal dan itu berpengaruh langsung terhadap distribusi air baku.

 

Bagi Perumda Batiwakkal, kondisi ini bukan lagi sekadar persoalan teknis di lokasi pengambilan air baku, pendangkalan Sungai Segah mulai berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan menjaga kontinuitas pelayanan, meningkatkan kapasitas produksi air bersih untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

 

Direktur Perumdam Batiwakkal Berau, Saipul Rahman, mengatakan kondisi Intake yang dibangun pada 2008 lalu, sekarang ini menghadapi perubahan lingkungan yang cukup signifikan. Endapan lumpur semakin tinggi di sekitar fasilitas tersebut seiring sedimentasi yang terus terjadi di Sungai Segah.

 

Perumdam sebenarnya telah berupaya mengatasi persoalan tersebut secara mandiri. Saat kondisi sungai surut, pengerukan dilakukan di sekitar Intake agar akses pengambilan air baku kembali terbuka. Namun, upaya tersebut membutuhkan biaya tidak sedikit dan hasilnya belum mampu menjadi solusi permanen.

 

“Beberapa tahun lalu kami pernah melakukan pengerukan secara mandiri di sekitar intake. Kami mengeluarkan biaya sampai ratusan juta rupiah. Setelah dilakukan pengerukan, proses pengambilan air memang kembali normal, tetapi tidak bertahan lama,” ungkap Saipul saat ditemui di kantornya di Jalan Raja Alam, Tanjung Redeb.

 

Masalahnya, setelah lumpur dikeruk, sedimentasi kembali terjadi. Material yang terbawa arus sungai perlahan menumpuk kembali di sekitar intake. Perumdam seperti menghadapi persoalan yang terus berulang.

 

Menurut Saipul Rahman salah satu tantangan terberat saat ini adalah menjaga agar air tetap dapat diproduksi dan didistribusikan kepada pelanggan meskipun kualitas dan kondisi air baku membutuhkan penanganan lebih lanjut.

 

“Yang menjadi tantangan terberat, air belum sempat diendapkan secara optimal, tetapi tetap harus dikirim ke masyarakat agar masyarakat tetap mendapatkan air dengan lancar,” katanya.

 

Persoalan inilah yang membuat Perumdam Batiwakkal menilai pengerukan di sekitar Intake saja tidak akan pernah benar-benar menyelesaikan masalah. Sebab, sedimentasi bukan hanya terjadi di satu titik, tapi pendangkalan di sepanjang alur Sungai Segah.

 

“Kalau hanya mengeruk di sekitar intake, persoalannya tidak akan pernah selesai. Sumber persoalannya berada di sepanjang alur Sungai Segah yang terus mengalami pendangkalan. Sedimentasi akan terus terbawa arus menuju lokasi pengambilan air,” jelas Saipul.

 

Karena itu, menurut dia, persoalan Sungai Segah membutuhkan cara pandang yang lebih jauh. Penanganan tidak bisa hanya dilakukan ketika sedimentasi sudah mengganggu fasilitas Perumda.

 

Diperlukan perencanaan dan penanganan jangka panjang untuk menghadapi perubahan kondisi Sungai Segah, sekaligus memastikan sumber air baku tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

 

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan air bersih di Berau terus bertumbuh. Jumlah pelanggan Perumdam Batiwakkal meningkat setiap tahun, tetapi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan peningkatan kemampuan instalasi pengolahan air.

 

“Kondisi tersebut berimbas pada kemampuan perusahaan kami dalam meningkatkan kapasitas produksi. Bayangkan, jumlah pelanggan terus bertambah setiap tahun, tetapi kemampuan instalasi pengolahan air belum berkembang sebanding dengan pertumbuhan kebutuhan masyarakat,” tutur Saipul. (sep/FN)