32 Meter Pelanggan Diamankan, Perumda Tirta Mahakam Siapkan Optimalisasi Hidran Pascakebakaran

img

Petugas Perumda Tirta Mahakam mencabut meter air pelanggan yang terdampak kebakaran di kawasan Danau Aji, Tenggarong. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Sebanyak 32 meter pelanggan Perumda Tirta Mahakam yang terdampak kebakaran di kawasan Danau Aji, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, diamankan sementara.

 

Sambungan rumah pelanggan ditutup hingga rumah yang terdampak kembali dibangun, sementara dua pelanggan masih mempertahankan sambungan karena membutuhkan akses air bersih.

 

Direktur Teknik Perumda Tirta Mahakam, Abdul Latif mengatakan, pengamanan meteran dilakukan untuk menyesuaikan kondisi rumah pelanggan yang terdampak kebakaran.

 

Meter yang diangkat nantinya akan dipasang kembali setelah rumah pelanggan selesai dibangun.

 

“Untuk sementara ini, dari pelanggan kita yang terdampak dari musibah kebakaran ini, sambungan rumahnya sementara kita tutup dulu. Terus meter-meternya kita angkat, kita amankan dulu,” ujarnya saat ditemui di lokasi kebakaran pada Kamis (8/10/2026).

 

Dari 32 pelanggan tersebut, dua di antaranya masih meminta sambungan tetap dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

 

Sementara terkait tagihan, penyesuaian akan dilakukan setelah sambungan pelanggan ditutup dan meter diamankan.

 

Ia mengatakan setelah rumah pelanggan kembali terbangun, Perumda Tirta Mahakam akan melakukan penyambungan kembali.

 

Dengan demikian, warga yang terdampak tetap dapat memperoleh layanan air bersih setelah tempat tinggal mereka kembali layak digunakan.

 

Selain penanganan jaringan pelanggan, Perumda Tirta Mahakam juga membuka koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar untuk memperkuat ketersediaan hidran di kawasan padat penduduk.

 

Langkah tersebut dinilai penting karena kawasan Danau Aji merupakan salah satu permukiman yang memiliki kepadatan bangunan cukup tinggi.

 

Saat ini, di sekitar lokasi hanya terdapat satu hidran yang berada di bagian atas kawasan menuju simpang arah Jalan Danau Lipan.

 

Menurutnya, penguatan hidran nantinya dapat disesuaikan dengan jaringan pipa distribusi yang dimiliki Perumda Tirta Mahakam.

 

Terlebih, apabila kawasan terdampak kembali dibangun, kebutuhan terhadap sarana pendukung penanganan kebakaran perlu menjadi bagian dari perencanaan.

 

“Nanti kalau misalnya memang dari Perkim ada kegiatan untuk membangunkan kembali, ya nanti mungkin kita koordinasi untuk hidran kebakaran dengan jaringan pipa distribusinya,” tuturnya.

 

Ia juga mengungkapkan hidran di sekitar lokasi sempat mengalami kendala karena valve dalam kondisi tertutup.

 

Kondisi tersebut disebabkan fasilitas tersebut sudah cukup lama tidak difungsikan dan tidak mendapatkan perawatan secara rutin.

 

Untuk mencegah persoalan serupa, Perumda Tirta Mahakam mengusulkan agar hidran dapat dimanfaatkan sekaligus sebagai titik washout atau pencucian pipa.

 

Dengan demikian, fasilitas tersebut akan lebih sering difungsikan sehingga kondisi valve dapat terpantau.

 

Ia menjelaskan kegiatan washout jaringan biasanya dilakukan secara berkala. Apabila hidran dimanfaatkan sebagai salah satu titik kegiatan tersebut, maka fasilitas itu tidak hanya digunakan saat terjadi kebakaran, tetapi juga secara rutin dibuka dan ditutup.

 

“Setiap sebulan sekali kita biasanya ada washout atau pencucian pipanya. Kalau itu dimanfaatkan untuk itu, pasti hidran kebakarannya itu akan siap lah. Selalu dibuka, ditutup, difungsikan,” tegasnya.

 

Sementara itu, Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani mengatakan, keberadaan hidran menjadi kebutuhan penting, khususnya di kawasan permukiman yang padat dan memiliki keterbatasan akses sumber air.

 

Menurutnya, hidran dapat membantu mempercepat pengisian kembali armada ketika pasokan air di kendaraan pemadam habis.

 

Ia juga menyebut pengembangan sistem hidran membutuhkan keterlibatan lintas sektor.

 

Disdamkarmatan tidak dapat bekerja sendiri karena pembangunan hidran berkaitan dengan jaringan air, infrastruktur permukiman, sumber air hingga penentuan titik yang tepat.

 

Ia menegaskan, penguatan hidran harus diarahkan ke kawasan permukiman agar petugas tidak kehilangan banyak waktu ketika harus melakukan pengisian ulang air.

 

Pengembangan tersebut juga membutuhkan dukungan pengurus lingkungan dan masyarakat dalam menentukan titik yang sesuai.

“Ke depan kita mau hidran kering itu masuk di kawasan permukiman ini. Makanya saya butuh sebenarnya kerja sama dengan pihak RT, Kelurahan dan Kecamatan,” tutupnya. (Kriz)