Kaltim Siap Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2025
SAMARINDA- Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang pesat
telah menjadikan sektor energi sebagai salah satu sektor yang sangat penting,
terutama untuk mendukung transformasi kawasan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2025. Kebutuhan
energi ASEAN diproyeksikan akan mengalami peningkatan pertahun sebesar 4,4
persen dari tahun 2007 hingga 2030.
"Hingga saat ini, bauran energi yang
digunakan oleh hampir seluruh negara ASEAN masih didominasi oleh penggunaan
bahan bakar fosil, termasuk batubara. Dengan total produksi dan penggunaannya yang
terus meningkat, menjadikan batubara sebagai sumber utama bagi pembangkitan di
kawasan," kata Awang Faroek Ishak saat membuka seminar prospek
pengembangan batubara yang ramah lingkungan terhadap ketahanan energi daera,
nasional dan kawasan ASEAN, di Ruang Serbaguna Ruhui Rahayu Kantor Gubernur
Kaltim, Kamis (30/3)
Dikatakan, pada tahun 2013 pembangkit
listrik yang dihasilkan dari sumber
energi batubara sebesar 258 TWh atau sekitar 31 persen dari total pembangkitan, peningkatan yang
cukup signifikan dari 27 persen pada
taun 2010. Kenaikan trend tersebut
mengindikasikan bahwa batubara diharapkan dapat menghasilkan lebih besar
listrik dari sumber energi yang lain untuk beberapa tahun ke depan.
Pengembangan dan penggunaan batubara
sebagai sumber energi menjadi tantangan tersendiri karena sering kali dikaitkan
dengan lingkungan yang kurang bersih dan bertentangan dengan upaya pengurangan
emsi gas rumah kaca.
Pemanfaatan batubara yang ramah lingkungan
dengan teknologi terapan, lanjut Awang Faroek
menjadi salah solusi yang terus dikembangkan. Namun demikian, teknologi
dimaksud masih belum optimal diterapkan karena masih relatif mahal.
"Untuk itu, keseriusan Pemerintah
untuk mendukung pemanfaatan sumber energi ini secara optimal dan dengan
teknologi serta investasi diharapkan dapat menjawab tantangan dimaksud,"
kata Awang Faroek.
Upaya
transformasi, kata Awang Faroek
memerlukan upaya ekstra dengan strategi yang bijak, sehingga pada tahun
2030 terwujud keseimbangan struktur ekonomi antara sektor ekonomi tak terbarukan dengan yang terbarukan. Sektor
ekonomi sekunder dan tersier berbasis Sumber Daya terbarukan pada tahun 2030
diharapkan mampu dan siap menopang ekonomi Kaltim tanpa sektor migas dan
batubara.
"Wajah
Kaltim 2030 akan sangat tergantung pada bagaimana mentransformasi pergeseran
pendekatan-pendekatan pembangunan ke dalam scenario-skenario pembangunan dengan
tujuan dan target yang terukur dalam mengekspresikan Kaltim yang modern, aman
& sejahtera," kata Awang Faroek.
Acara seminar tersebut
dihadari Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setprov Kaltim
Ir H Ichwansyah, Direktur Kerjasama Ekonomi ASEAN Kementerian Luar Negeri Ade
Petranto, Ketua Asosiasi Batubara Indonesia (APBI) Supriatna Suhala, Pakar
Clean Coal Technologi Indonesia Bukin Daulay, serta undangan lainnya.(mar-poskotakaltimnews.com)