Penyampaian Secara Langsung juga Perlu Dicatat dan Menjadi Perhatian Pemerintah
Ardiansyah
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,
BALIKPAPAN-
Fraksi PPP gabungan Perindo melalui juru biacaranya Ardiansyah, secara tertulis
menyampaikan empat aspirasinya kepada wali kota Balikpapan dalam pandangan umum
fraksi-fraksi DPRD, namun pada rapat paripurna ini (4/7) menambahkan dua aspirasnya.
Hal ini dituangkan dalam pikirannya,
mengingat DPRD sebagai wakil rakyat.
Ia berharap kedepannya pemerintah kota tidak
hanya penyampaian yang tertulis saja, tetapi apa yang disampaikan secara
langsung juga perlu dicatat dan menjadi perhatian pemerintah.
"Karena itu krusial kan, masalah bantuan
keuangan Balikpapan untuk pembangunan. Apalagi masyarakat setiap tahun terus
mengajukan usulan," ucap Ardiansyah usai rapat, Senin (4/7/2022).
Dikatakan, jika pemerintah kurang
berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi Kaltim, baik Gubernur maupun DPRD
Provinsi. Ditakutkan bantuan itu tidak akan bisa mengalir ke Balikpapan.
Lalu masalah pendidikan, yang mana setiap
tahun menjadi momok masyarakat yang kesulitan untuk menyekolahkan anaknya. Maka
itu pemerintah kota dengan anggaran 20 persen dapat dimaksimalkan untuk
membangun sekolah baru, bukan hanya penambahan ruang belajar saja.
"Pembangunan sekolah ini untuk mengatasi
masalah kekurangan sekolah, agar masyarakat tidak bingung untuk mencari
sekolah," akunya.
Sementara untuk program BPJS Kesehatan
Gratis, fakta dilapangan masih banyak masyarakat yang tidak terlayani dengan
alasan belum membayar tunggakannya. Sedangkan Pemkot sudah membayar dan
menganggarkan.
"Kenapa kok tidak dilayani, ini kan
sebuah kesalahan. Masalah hutang dan tunggakan lain urusannya. Tapi layani dulu
masyarakat, ini saya sampaikan penting, karena banyak warga tidak
dilayani," imbuhnya.
Ia pertanyakan dari mana datangnya itu,
sementara Pemkot sudah membayar dengan uang rakyat melalui APBD. Sehingga BPJS
wajib melayani masyarakat, ini catatan penting untuk BPJS. Dan diingatkan
jangan sampai ada warga yang tidak terlayani, karena anggarannya akan mubazir.
"Hal ini juga dikarenakan kurangnya
sosialisasi pemerintah untuk pihak BPJS, agar hal ini tidak terjadi lagi,"
ungkapnya. (ari)