Anggota DPRD Kutim Larang Perpindahan Hak Milik Lahan Plasma Sawit
Faizal Rachman, anggota DPRD Kutai Timur
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,
KUTAI TIMUR-
Faizal Rachman, anggota DPRD Kutai Timur dari Partai PDI Perjuangan,
mengeluarkan larangan kepada masyarakat terkait perpindahan hak milik lahan
plasma sawit melalui kerja sama dengan perusahaan pengelola kebun sawit.
Meskipun tidak ada larangan dalam Undang-Undang terkait pindah tangan atau jual
beli hak milik, Faizal menekankan bahwa konsekuensi dari pengalihan kebun
plasma ke pihak lain akan menghentikan sumber pendapatan masyarakat jika kebun
sawit tersebut sudah menghasilkan uang.
"Pengelolaan kebun plasma sawit
membutuhkan kesabaran, harus menunggu selama 5 tahun sebelum dapat menikmati
hasilnya. Tetapi janganlah menjual kebun tersebut, terutama jika kebun tersebut
telah menghasilkan buah," Kata Faizal.
Salah satu permasalahan yang timbul dari
pindah tangan kepemilikan lahan adalah masalah sosial. Seperti yang terjadi di
Desa Nehes Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur. Masyarakat
di desa tersebut tidak mendapatkan bagian dari hasil usaha kebun sawit yang
dimiliki.
Faizal menjelaskan, "Situasi seperti ini
dapat menyebabkan masalah sosial dan pertikaian antarwarga karena merasa
memiliki hak namun tidak mendapatkan bagian dari hasil. Ini adalah hal yang
sering diprotes."
Untuk menghindari hal ini, pemerintah desa
dan pengurus koperasi kebun plasma harus lebih aktif melakukan pengawasan untuk
mencegah adanya pengalihan kepemilikan lahan, terutama pada lahan-lahan yang
masih dalam sengketa.
"Pembelian lahan yang sedang dalam
sengketa harus dihindari, agar tidak muncul masalah yang lebih besar di
kemudian hari," terangnya.
Ia berharap pemerintah setempat dan pengurus
koperasi plasma dapat menghindari menjadikan transaksi jual beli lahan sebagai
ajang bisnis yang menguntungkan mereka sendiri, tetapi harus mempertimbangkan
kepentingan masyarakat luas.
"Dalam hal ini, saya meminta kepada
pemilik lahan saat ini untuk tidak menjual kebun sawit mereka. Dampaknya tidak
hanya akan menggoyang perekonomian, tetapi juga dapat berdampak negatif di masa
depan," tegas Faizal.(ADV)