Aulia Rahman Basri Ziarah ke Makam Syaukani HR dan Junaidi
(Cabup paslon nomor urut 1 Dr. Aulia Basri bersama Arjuna PDIP Kukar usai ziarah ke makam Almarhum Junaidi/pic:tanty)
POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR
: Langit tampak mendung bersamaan rintik-rintik
gerimis, tidak menghentikan langkah kaki Calon Bupati Kutai Kartanegara (Kukar)
nomor urut 1, Dr. Aulia Rahman Basri, untuk melakukan ziarah ke makam dua tokoh
Kutai Kartanegara yakni almarhum Syaukani HR (mantan Bupati Kukar) di pemakaman
Kelambu Kuning Tenggarong dan, Junaidi (Ketua DPRD Kukar) di pemakaman
Jalan Sangkulirang 1 Kelurahan Loa Ipuh Tenggarong, pada Minggu (13/04/2025)
pagi.
Diketahui, almarhum Junaidi merupakan Ketua DPRD
Kutai Kartanegara periode 2024–2029. Ia berpulang pada Desember 2024 lalu,
meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang yang mengenalnya sebagai sosok
hangat dan penuh semangat pengabdian.
Kepada awak media Aulia mengaku, almarhum
adalah salah satu sahabat dekat yang disebutnya sebagai sosok penuh optimisme
dan semangat untuk membantu sesama.
“Dua malam lalu, saya bermimpi tentang beliau,
dalam mimpi itu, kami keluar dari masjid bersama. Seperti biasa kami bersalaman
cipika-cipiki. Lalu beliau berkata, Sanak, semangat yoh. Sapaan itu khas kami
berdua, 'deng sanak.’” ujar Aulia usai melakukan Ziarah.
Lanjut Aulia dalam mimpi itu, dirinya berjalan
menuju mobilnya. Junaidi berjalan ke arah ambulans, lalu berbaring di keranda.
Ambulans itu pun berjalan sendiri, perlahan menjauh.
“Makanya hari ini saya merasa harus datang ke
makam beliau dulu. Saya ingin memulai hari dengan mengenang dan mendoakan
saudara saya itu,” katanya .
Sebelum ke makam Junaidi, Aulia juga mengaku
sempat berziarah ke makam almarhum Syaukani, tokoh penting dalam sejarah
otonomi daerah Kukar.
“Pak Syaukani adalah sosok yang berjasa. Kami
sempatkan mampir ke sana dulu, baru lanjut ke makam almarhum dengsanak saya,”
tandasnya.
Saat ditanya menangan terakhir yang tak
terlupakan, dirinya mengaku ada satu kenangan yang terus terngiang dalam benak
Aulia.
Di hari kepergian almarhum, seharusnya ia
terbang ke Jakarta pukul 17.30 dari Samarinda. Namun pukul 15.00, ia masih
duduk bersama Junaidi.
“Entah kenapa, hari itu kami salaman sampai
tiga kali. Pelukan juga tiga kali. Itu bukan hal biasa bagi kami. Rasanya
seperti firasat,” ungkapnya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Namun dirinya tidak menyangkan salam itu
menjadi perpisahan terakhir. Dimana pada malam harinya ia mendapatkan kabar
almarhum Junaidi menghembuskan napas terakhir.
“Saya kehilangan bukan hanya teman. Beliau
sudah seperti saudara, bahkan lebih dari saudara,” tuturnya .
Aulia mengenang Junaidi sebagai pribadi yang
baik, penuh optimisme, dan selalu siap menolong orang lain.
“Banyak sekali orang yang menghargai beliau,
bukan karena jabatan, tapi karena kebaikan hatinya. Kehadirannya menginspirasi,
kepergiannya meninggalkan duka yang dalam,” tuturnya.
Bagi Aulia, sosok Junaidi akan selalu hidup dalam semangat perjuangannya ke depan.
“Kalau hari ini saya bisa berdiri dan
melangkah terus, salah satunya karena semangat dari orang-orang seperti beliau.
Sanak, semangat yoh! itu akan terus saya ingat,” tutup Aulia (Tan)