Sektor Pertanian dan Perikanan jadi Fondasi Utama Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa Ponoragan

img

(Kawasan pertanian di salah satu wilayah Kukar/pic:tanty)

POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR: Pemerintah Desa Ponoragan, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat posisi sektor pertanian dan perikanan sebagai fondasi utama ekonomi lokal.

Sekitar 60% dari total wilayah desa telah dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya perikanan, sementara 30% digunakan untuk pertanian tanaman pangan seperti padi, dan sisanya 10% dialokasikan untuk budidaya hortikultura.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Ponoragan, Sarmin. Ia mengungkapkan potensi besar ini yang ada di desanya ini tak dibiarkan berjalan begitu saja.

“Pemerintah desa secara aktif mendorong berbagai program pemberdayaan masyarakat, khususnya petani dan nelayan, agar lebih mandiri dan profesional,” ujarnya Selasa (10/06/2025).

Ia mengatakan salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pembentukan serta penguatan kelompok tani dan kelompok budidaya ikan. Kelompok-kelompok ini berperan sebagai pelaksana utama program desa di lapangan.

“Melalui kelompok tani, warga bisa mengakses bantuan, pelatihan, hingga pendampingan teknis dari pemerintah maupun mitra lembaga lain. Ini penting agar mereka bisa terus berkembang dan bersaing,” jelasnya.

Lanjut Sarmin, Pemdes Ponoragan juga menunjukkan komitmen besar terhadap pemberdayaan perempuan. Hal ini terlihat dari peran aktif Kelompok Wanita Tani (KWT) yang tidak hanya terlibat dalam pengolahan hasil pertanian, tetapi juga mengelola usaha rumah tangga produktif.

“Kita sangat percaya bahwa keberadaan KWT ini mampu memperkuat perekonomian keluarga sekaligus menjaga ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan desa Ponoragan,” tuturnya.

Meski demikian, Sarmin mengaku perjalanan pembangunan ini tidak lepas dari tantangan. Cuaca ekstrem yang melanda wilayahnya beberapa waktu lalu sehingga menyebabkan banjir di sejumlah titik, termasuk kawasan perikanan milik warganya.

“Kolam-kolam ikan milik masyarakat sempat tergenang air hingga meluap, menyebabkan banyak indukan ikan mati dan benih-benih hanyut terbawa arus. Kejadian ini berdampak signifikan terhadap pendapatan para pembudidaya ikan,” terang Sarmin

Sarmin juga mengatakan, untuk menghadapi tantangan lingkungan tersebut, Pemerintah Desa Ponoragan tidak tinggal diam.

Mereka langsung berkoordinasi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pekerjaan Umum, serta Dinas Lingkungan Hidup, guna merancang solusi jangka panjang yang berkelanjutan.

Kades Ponoragan ini menegaskan bahwa pihaknya sangat membutuhkan dukungan teknis maupun kebijakan lintas sektor agar bencana serupa tidak terus terulang di masa mendatang.

Seain itu, dirinya juga mengatakan untuk memastikan keberlanjutan berbagai program yang telah berjalan, desa secara konsisten mengalokasikan sedikitnya 20%  dari Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) khusus untuk sektor ketahanan pangan.

Langkah ini diambil sebagai bentuk investasi jangka panjang demi terciptanya desa yang mandiri secara pangan dan ekonomi.

Sarmin pun menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan instansi pendukung dalam setiap program yang dijalankan.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan desa tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan semua elemen.

“Pemerintah desa memang memfasilitasi, tapi kunci utamanya ada pada keterlibatan masyarakat. Kalau tidak ada partisipasi aktif, program bisa saja mandek di tengah jalan,” pungkasnya (Adv/Tan)