Disdikbud Kukar Andalkan Pendidikan Non-formal untuk Tekan Angka Putus Sekolah
Plt Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto
POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR: Angka putus sekolah di Kutai Kartanegara (Kukar) masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar pun terus menggenjot jalur pendidikan non-formal agar anak-anak yang enggan kembali ke sekolah formal tetap memiliki kesempatan belajar.
Plt Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, mengatakan rendahnya motivasi masyarakat menjadi tantangan utama. Meski sosialisasi dilakukan berulang kali, tidak semua calon peserta didik mudah diyakinkan untuk kembali bersekolah.
“Langkah yang kami lakukan mulai dari verifikasi, edukasi, hingga rekrutmen agar anak-anak yang putus sekolah bisa kembali melanjutkan pendidikan. Jalur non-formal menjadi pilihan paling memungkinkan, karena sebagian besar enggan kembali ke sekolah formal,” jelasnya, Selasa (9/9/2025).
Sebagai bentuk solusi, Disdikbud memperkuat keberadaan 19 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan 11 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Total 30 lembaga non-formal ini kini menjadi ujung tombak pendidikan kesetaraan di Kukar.
Selain memperluas akses, dukungan juga diberikan melalui berbagai fasilitasi. Bantuan operasional BOSCAP maupun BOSCAP afirmasi digelontorkan, ditambah subsidi honor untuk tutor.
“Dukungan dari Disdik cukup masif dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan ada penyelenggaraan kegiatan keterampilan untuk membekali lulusan Paket A, B, dan C agar lebih mandiri,” ungkap Pujianto.
Tak hanya itu, peningkatan kapasitas tutor juga digencarkan agar mereka mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik pendidikan kesetaraan.
Pujianto menegaskan, sinergi dengan banyak pihak sangat diperlukan. Pemerintah daerah, Kementerian Agama, desa, hingga kecamatan dilibatkan untuk memperluas jangkauan program pengentasan putus sekolah.
Menurutnya, segala upaya ini adalah bagian dari komitmen besar dalam meningkatkan kualitas SDM Kukar melalui jalur pendidikan non-formal.
“Sekolah non-formal tetap
menjadi salah satu solusi penting untuk pengentasan putus sekolah, baik di
Kukar maupun secara nasional,” pungkasnya.(adv)