Tradisi Belimbur jadi Penutup Meriah Erau 2025 di Tenggarong

img

Acara belimbur pada pelaksanaan Erau tahun lalu

POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR: Tradisi Belimbur kembali menjadi penutup rangkaian Erau 2025 di Kutai Kartanegara (Kukar). Prosesi khas yang selalu ditunggu masyarakat ini akan digelar dengan sejumlah persiapan tambahan, terutama penyediaan air bersih di beberapa titik strategis.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Thauhid Afrilian Noor, mengatakan langkah ini diambil untuk mengantisipasi kondisi Sungai Mahakam yang mungkin mengalami penurunan debit air saat prosesi berlangsung. Menurutnya, pemerintah ingin memastikan seluruh peserta tetap merasa aman dan nyaman.

“Penutupan secara khusus Belimbur, semua OPD kita kembali minta untuk menyediakan penampungan air bersih di beberapa lokasi yang titik-titiknya telah kita tentukan,” ucapnya, pada Senin (8/9/2025).

Ia menegaskan, penggunaan air bersih bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan juga upaya menjaga kesehatan masyarakat. Dengan penyediaan air bersih, potensi penggunaan air kotor yang dapat menimbulkan masalah kesehatan bisa dicegah sejak awal.

“Tempat penampungan air bersih itu sendiri berguna untuk mencegah adanya pada saat prosesi Belimbur itu ada yang menggunakan air yang kotor,” jelasnya.

Belimbur sendiri merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Kutai yang menandai berakhirnya rangkaian Erau. Dalam prosesi ini, masyarakat saling memercikkan atau menyiramkan air kepada sesama sebagai simbol pembersihan diri sekaligus wujud kegembiraan. Tradisi ini biasanya berlangsung meriah, dengan ribuan warga tumpah ruah di jalanan Tenggarong.

Namun, Thauhid mengingatkan bahwa Belimbur bukan hanya sekadar permainan air. Ia menekankan, masyarakat harus tetap memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

“Kami juga menghimbau kepada masyarakat agar dapat tetap menjaga kebersihan selama kegiatan, selama prosesi Belimbur,” tegasnya.

Selain kebersihan, keamanan juga menjadi perhatian utama. Pemerintah Kukar bersama aparat terkait menyiapkan pengamanan agar prosesi berjalan tertib tanpa menimbulkan gangguan.

Thauhid berharap masyarakat dapat ikut berperan menjaga suasana tetap kondusif.

Tradisi Belimbur yang selalu menjadi magnet wisata ini tidak hanya memperkuat identitas budaya Kutai, tetapi juga menunjukkan bagaimana masyarakat mampu menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.

"Dengan pengelolaan yang baik, prosesi ini diharapkan terus menjadi penutup meriah setiap perayaan Erau," tandasnya.(adv)