Harapan Pembangunan Rumah Sakit di Kembang Janggut Tertunda

img

Pelaksana Tugas (Plt.) Camat Kembang Janggut, Suhartono

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Rencana pembangunan rumah sakit di Kecamatan Kembang Janggut, Kutai Kartanegara dipastikan belum bisa direaliasikan tahun ini (2025-red). Penundaan ini dikarenanya beberapa faktor, diantara efisiensi anggaran dan belum tersedianya lahan yang representatif.

Rencana pembangunan rumah sakit sebenarnya sangat diharapkan masyarakat wilayah hulu Kutai Kartanegara.

Pelaksana Tugas (Plt.) Camat Kembang Janggut, Suhartono, menyampaikan harapannya agar rencana pembangunan rumah sakit tersebut tetap menjadi prioritas ke depan.

"Rumah sakit sangat dibutuhkan masyarakat Kembang Janggut dan sekitarnya. Dengan adanya pelayanan kesehatan yang lebih dekat, tentu masyarakat tidak perlu lagi menempuh jarak jauh ke Kota Bangun atau Tenggarong," ujarnya,belum lama ini.

Rencana pendirian rumah sakit ini sudah muncul sejak tahun 2024, dan berasal dari aspirasi masyarakat serta dukungan dari Bupati Kukar saat itu. Namun, hingga kini masih belum dapat terealisasi.

Ketua Tim Sarana dan Prasarana Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kukar, Budy Setiawan, menjelaskan bahwa pihaknya bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) telah membentuk tim untuk menindaklanjuti usulan tersebut.

“Saat itu sudah dilakukan survei ke lokasi yang diusulkan warga. Letaknya sekitar 15 hingga 17 kilometer dari Puskesmas Kembang Janggut, di kawasan jalan poros menuju Mahulu atau Melak, dekat area perkebunan sawit,” jelas Budy.

Menurutnya, meski lahan yang dihibahkan cukup luas — sekitar 5 hingga 6 hektare — kondisi kontur tanah menjadi kendala utama.

"Lokasi lahan berada di daerah lereng yang rawan pergerakan tanah. Sesuai aturan terbaru dari Kementerian Kesehatan, pembangunan fasilitas seperti rumah sakit atau puskesmas tidak diperbolehkan di tanah berkontur miring karena faktor keselamatan,” ujarnya.

Selain itu, akses ke lokasi dinilai cukup sulit. Jalur masuk melalui area sawit milik warga dan cukup jauh dari jalan utama, sehingga dianggap tidak strategis untuk pembangunan rumah sakit.

"Kami sempat mendorong pencarian alternatif lahan lain, tapi hingga camat sebelumnya, Pak Halim, pensiun, belum ada tindak lanjut. BRIDA juga menyatakan secara lisan bahwa lahan tersebut belum representatif," katanya.(adv)