Rapat Penyerapan Anggaran Tidak Dihadiri Sejumlah Pimpinan OPD, Bupati Berau Geram
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Rapat evaluasi penyerapan anggaran Kabupaten Berau berlangsung penuh ketegangan, digelar Senin siang (8/12). Setelah mendapati sepuluh pimpinan instansi tidak hadir dalam agenda resmi tersebut membuat Bupati Berau Sri Juniarsih geram tidak dapat menahan emosinya.
Ia menyebut absennya
para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai bentuk rendahnya
komitmen dalam menjalankan tugas pelayanan publik. Deretan pimpinan OPD yang
tidak hadir dengan alasan dinas luar atau kegiatan di kampung antara lain:
Kepala Dinas
Perhubungan Andi Marewangeng, Kepala Dinas Kesehatan Lamlay Sarie, Kepala DPUPR
Fendra Frimawan, Kepala Bapenda Djupiansyah Ganie, Direktur RSUD dr Abdul Rivai
Jusram, Camat Batu Putih Wahyudi, Kepala DTPHP Junaidi, Kepala Disbudpar Ilyas
Natsir, serta Kepala Badan Kesbangpol Salim.
Sementara Kepala
Satpol PP, Anang Saprani, justru mengirim perwakilan karena menghadiri agenda
keluarga. Kondisi itu membuat Bupati Sri Juniarsih murka sekaligus kecewa. Ia
melontarkan teguran keras agar seluruh OPD memperbaiki disiplin, koordinasi,
dan kinerja. Ia menegaskan bahwa lemahnya penyerapan anggaran sering kali
berawal dari buruknya komunikasi internal.
“Jangan akhir tahun
baru muncul masalah ABCD. Sejak Januari sampai Maret saya sudah minta
percepatan penyerapan anggaran supaya tidak keteteran di akhir tahun,” ujarnya
tegas.
Sri Juniarsih
menekankan bahwa anggaran bukan sekadar angka serapan, tetapi harus memberikan
manfaat nyata bagi masyarakat hingga ke pelosok kampung. Ia juga menyampaikan
ketidakpercayaannya kepada pimpinan OPD yang mangkir, kecuali jika absen karena
layanan langsung bagi masyarakat.
Sorotan paling tajam
diarahkan kepada RSUD dr Abdul Rivai. Bupati mengaku kecewa karena pelayanan
dasar masih jauh dari standar yang layak. Bahkan, ia menyebut dirinya malu jika
harus meresmikan rumah sakit yang belum memenuhi fasilitas dasar seperti tirai
pembatas pasien.
“Serapan anggaran
bisa 90 persen, bahkan 100 persen. Tapi kalau pelayanannya tidak ada buktinya,
buat apa? Orang sakit itu harus dimanusiakan,” tegasnya.
Untuk memperbaiki
layanan kesehatan, ia menyebut sudah menghadirkan Dewan Pengawas dari Provinsi guna memastikan operasional RSUD sesuai standar prosedur. Tidak hanya
itu, Sri Juniarsih juga menyoroti lemahnya pembinaan kepada Kampung, tumpang tindih
data lintas sektor, hingga buruknya koordinasi antar instansi.
Ia meminta OPD
seperti DPMK, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, DPPKB3A, hingga PKK untuk
menyatukan data sehingga penilaian kinerja daerah tidak kembali merosot seperti
tahun sebelumnya.
“Saya tahu anggaran
besar, tapi apakah bermanfaat? Itu yang saya tekankan. SPJ harus sesuai manfaat
bagi masyarakat, bukan hanya formalitas,” katanya.
Mengakhiri arahannya, Sri Juniarsih meminta seluruh pimpinan OPD menegakkan disiplin, meningkatkan pelayanan, mempercepat serapan anggaran, serta memastikan setiap program benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kita sudah
mewakafkan diri untuk melayani masyarakat. Maka lakukan dengan sebaik-baiknya,”
tutupnya. (sep/FN)