Dari Teluk Sumbang untuk Pasar Pesisir: Kursi Rotan Laris, Produksi Kewalahan

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU: Di balik tenangnya pesisir Teluk Sumbang, denyut ekonomi kreatif justru bergerak cepat. Kursi rotan buatan tangan pengrajin lokal kini menjadi primadona baru, tak hanya mempercantik biduk-biduk, tetapi juga membuka harapan bagi penguatan ekonomi masyarakat pesisir Berau.

Tingginya minat pasar terlihat dari pesanan yang terus berdatangan. Namun, laju permintaan belum sepenuhnya sejalan dengan kapasitas produksi. Fakta ini terungkap saat Ketua Project Coordinator melakukan studi lapangan usai monitoring dan evaluasi fasilitator kampung pesisir di Talisayan, Batu Putih, dan Biduk-Biduk bersama tim SDM, Yalira dan Nastarai.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan Hamzah Nasir untuk meninjau langsung proses pembuatan kursi rotan di Teluk Sumbang. Ia berdialog langsung dengan Mikael, pengrajin kursi rotan yang selama ini menjadi tulang punggung produksi. Dari pertemuan itu, terungkap bahwa pengrajin hanya mampu memproduksi sekitar 6–7 kursi per hari.

“Pesanan sebenarnya terus ada. Kami masih bisa memenuhi, tapi terbatas. Kendala utama kami kekurangan tenaga kerja,” ujar Mikael. Meski demikian, ia menegaskan bahwa harga kursi rotan Teluk Sumbang tetap kompetitif dan terjangkau, tanpa mengesampingkan kualitas.

Hamzah Nasir menilai, potensi besar ini perlu ditopang dengan peningkatan kapasitas SDM. Menurutnya, pelatihan keterampilan rotan menjadi langkah strategis agar produksi dapat meningkat dan peluang pasar tidak terlewatkan. “Kalau ada tambahan tenaga terampil, produksi bisa naik dan dampaknya langsung ke kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Kursi rotan Teluk Sumbang kini bukan sekadar furnitur, melainkan simbol peluang ekonomi baru dari pesisir. Dengan dukungan pelatihan dan penguatan SDM, produk lokal ini berpotensi melaju lebih jauh, menjadi kebanggaan daerah sekaligus penggerak ekonomi kreatif kabupaten Berau. (sep/fn)