Dewan Nilai Kegagalan Program Bioflok Belum Adanya Keseriusan dan Konsistensi Dalam Pengelolaan

img

Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P Mangunsong.


POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Program budidaya ikan sistem bioflok yang selama ini digadang-gadang menjadi salah satu peluang ekonomi baru bagi masyarakat Berau ternyata belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan. Di balik besarnya anggaran yang telah dikucurkan, masih banyak program bioflok yang berakhir gagal dan tidak berlanjut setelah panen pertama.

 

Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P Mangunsong, secara terbuka mengungkap persoalan utama yang selama ini terjadi di lapangan. Menurutnya, kegagalan program bioflok bukan karena fasilitas yang kurang memadai, melainkan lemahnya keseriusan serta konsistensi penerima bantuan dalam menjalankan usaha tersebut.


“Bioflok itu sebenarnya sederhana. Hanya kolam, secara teknis juga gampang. Tapi kalau sesuatu diberikan ke masyarakat tanpa benar-benar dijiwai, pasti gagal,” ujar Rudi P Magunsong baru-baru ini.

 

Padahal tambahnya, selama ini Pemkab Berau melalui berbagai program telah banyak menganggarkan bantuan bioflok untuk masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Berau. Bahkan bantuan yang diberikan tidak hanya berupa kolam, tetapi juga bibit ikan dan pakan pada tahap awal budidaya.

 

Namun, dalam praktiknya, banyak kelompok penerima bantuan yang hanya mampu bertahan sampai panen pertama. Setelah itu, usaha tidak lagi dilanjutkan secara mandiri.

 

“Sudah panen pertama, habis itu minta bantuan lagi. Padahal konsepnya program ini bergulir,” katanya.

 

Menurut Rudi, pola yang diharapkan sebenarnya cukup jelas. Hasil panen pertama dijual, lalu keuntungan tersebut digunakan kembali untuk membeli bibit dan melanjutkan usaha secara mandiri. Dengan cara itu, program bioflok diharapkan mampu berkembang menjadi sumber penghasilan jangka panjang bagi masyarakat.

 

“Sayangnya, harapan tersebut belum berjalan maksimal. Kita sudah kasih bibit, kasih pakan selama beberapa bulan. Setelah panen, seharusnya mereka bisa lanjut sendiri. Tapi banyak yang berhenti karena memang dari awal tidak serius,” ungkapnya.

 

Rudi juga menyoroti adanya sebagian usulan bantuan bioflok yang muncul bukan karena kesiapan usaha, melainkan hanya sebatas keinginan sesaat atau bahkan bernuansa kepentingan politik.

 

“Kadang hanya sekadar ingin punya atau karena ada program bantuan. Jadi bukan benar-benar ingin menjadikan itu sebagai usaha utama,” tambahnya.

 

Padahal, menurutnya, potensi usaha bioflok di Berau cukup besar apabila dijalankan dengan sungguh-sungguh. Ia menyebut beberapa wilayah seperti Labanan hingga Segah sempat menunjukkan hasil yang baik dan berhasil melakukan panen dengan produksi yang menjanjikan.

 

“Yang berhasil itu ada. Video-videonya juga ada semua. Artinya program ini sebenarnya bisa jalan,” ujarnya.

 

Karena itu, ia menilai keberhasilan program bioflok tidak cukup hanya dengan membagikan bantuan kepada masyarakat. Dibutuhkan edukasi, pendampingan, hingga pengawasan yang berkelanjutan agar usaha budidaya tersebut benar-benar berkembang.

 

Selain itu, pemasaran hasil panen juga harus dipersiapkan dengan baik agar masyarakat memiliki kepastian ekonomi dari usaha yang dijalankan. “Kalau masyarakat memang serius menjadikan bioflok sebagai sumber penghasilan utama, lalu didampingi dengan baik dan pemasarannya jelas, saya yakin program ini bisa berhasil,” katanya.

 

Rudi menegaskan, bantuan pemerintah seharusnya menjadi stimulus awal bagi masyarakat untuk berkembang, bukan justru menciptakan ketergantungan terhadap bantuan yang terus-menerus.

 

“Kita ini maunya kasih pancing, bukan kasih ikan terus. Kalau tepat sasaran dan ada kemauan kuat dari masyarakat, bioflok bisa menjadi sektor ekonomi baru yang menjanjikan di Berau,” pungkasnya. (sep/FN/Advertorial)