BI Yakin Pertumbuhan Ekonomi 2026 tetap 4,9-5,7 Persen
Gubernur BI Perry Warjiyo
BANK Indonesia
(BI) meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tetap berada pada
prakiraan bank sentral, yakni kisaran 4,9-5,7 persen, meskipun suku bunga acuan
(BI-Rate) diputuskan untuk naik sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei.
“Dalam mengukur takaran berapa
BI-Rate naik, tentu saja kami mempertimbangkan pertumbuhan, bagaimana
pertimbangan yang seimbang antara pengendalian inflasi sesuai sasaran dan
dampak yang tentu saja tidak terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Gubernur
BI Perry Warjiyo.
Dalam konferensi pers hasil
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu, Perry mengatakan, otoritas
moneter juga terus melakukan koordinasi yang erat dengan pemerintah, terutama
terkait dengan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas dan mendorong
pertumbuhan ekonomi.
“Kami tegaskan bahwa dalam
mengukur BI-Rate 50 bps, kami juga menakar bahwa mampu mengendalikan inflasi
dalam sasaran dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masih tetap berada
dalam kisaran sasaran 4,9 sampai 5,7 persen,” kata dia
Terkait inflasi, Perry
memastikan bahwa bank sentral terus memantau perkembangan inflasi domestik
secara ketat dari bulan ke bulan, terutama terkait perkembangan harga minyak
dan komoditas global yang berdampak pada harga-harga di dalam negeri termasuk
barang impor.
Kenaikan harga komoditas
dunia, catat dia, akan memicu imported
inflation karena Indonesia masih bergantung pada bahan baku dan
material dari luar negeri. Ia juga menilai bahwa penyesuaian harga energi
non-subsidi turut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Oleh sebab itu, tegas Perry,
kenaikan BI-Rate tidak hanya ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar
rupiah tetapi juga untuk menjaga inflasi pada 2026-2027 tetap berada dalam
sasaran sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen atau rentang 1,5-3,5 persen.
Seiring dengan hal tersebut,
ia memastikan bank sentral bersinergi erat dengan pemerintah dalam pengendalian
inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) untuk
menjaga inflasi volatile food dan
dampak rambatan harga global agar tetap terkendali.
“Itulah kenapa kenaikan
BI-Rate 50 bps ini kami meyakini mampu membawa perkiraan inflasi 2026-2027 akan
berada tetap berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen yang ditetapkan
pemerintah,” kata Perry.
Di tengah tingginya
gejolak global, BI pun memandang bahwa momentum peningkatan pertumbuhan ekonomi
Indonesia perlu terus dipertahankan.
Pertumbuhan ekonomi ke depan
diprakirakan tetap baik, ditopang oleh optimalisasi belanja pemerintah yang
bersinergi dengan bauran kebijakan BI termasuk pelonggaran kebijakan
makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran untuk turut mendukung kegiatan
ekonomi digital dan keuangan inklusif.
Adapun BI-Rate diputuskan naik
sebesar 50 bps dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur
(RDG) Mei 2026.
Suku bunga deposit facility diputuskan untuk naik
50 bps sehingga pada level 4,25 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk
naik 50 bps sehingga pada level 6 persen.
Kenaikan BI-Rate ini menjadi
langkah penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan dipertahankan di level
4,75 persen sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI sebelumnya telah memangkas
bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan sebesar 125 bps.
Sumber: Antara