Taman Baru Bermunculan, Wisata Lama di Tenggarong Perlahan Kehilangan Pengunjung

img

Lapak dagangan milik Hasnah. (Kriz)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Kemunculan taman-taman baru dengan konsep tematik di Tenggarong perlahan membuat sejumlah wisata lama kehilangan pengunjung.

Di tengah ramainya pembangunan ruang publik baru, beberapa taman yang sebelumnya menjadi pusat keramaian warga kini mulai terlihat sepi, bahkan sebagian fasilitasnya tampak kurang terawat.

Di Tenggarong sendiri, terdapat beberapa taman seperti Taman Enggang, Creative Park, Taman Titik Nol, Taman Super Hero, Taman Tanjong hingga Taman Musik yang belum lama diresmikan.

Sementara taman-taman lama seperti kawasan Taman Kota Raja, Taman Ulin hingga beberapa ruang publik lainnya mulai kehilangan daya tariknya.

Perubahan itu dirasakan langsung oleh para pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan dari keramaian taman.

Salah satunya Hasnah (48), pedagang minuman dan makanan ringan di kawasan Taman Kota Raja yang sudah delapan tahun berjualan di lokasi tersebut, bahkan sebelum taman itu dibangun.

Namun suasana yang dulu ramai kini jauh berbeda, Hasnah mengaku pendapatannya terus menurun seiring masyarakat yang mulai berpindah ke taman-taman baru yang dianggap lebih menarik.

“Pendapatan sehari kadang seratus ribu pun tidak sampai. Saya buka dari jam 10 pagi sampai sekarang sore baru dapat Rp25 ribu,” katanya sambil menjaga dagangannya pada Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, selain jumlah pengunjung yang berkurang, kebiasaan pengunjung yang membawa makanan dan minuman dari luar taman juga membuat dagangan pedagang kecil semakin sulit terjual.

Banyak warga datang hanya untuk duduk dan berkumpul tanpa membeli jajanan yang ada di sekitar taman.

Ia mengenang masa-masa awal Taman Kota Raja menjadi salah satu pusat keramaian warga Tenggarong. Saat itu, pengunjung datang hampir setiap malam dan para pedagang bisa merasakan hasil yang cukup besar dalam sehari.

“Dulu awal-awal ramai bisa dapat sejuta lebih sehari. Sekarang banyak pedagang yang pindah karena sepi. Ada juga yang berhenti jualan karena rugi,” ujarnya.

Menurut Hasnah, kondisi taman yang mulai kurang terawat juga ikut memengaruhi jumlah pengunjung.

Lampu taman yang banyak mati membuat suasana malam tidak seramai dulu. Pengunjung yang datang pun kini hanya sesekali terlihat memenuhi area taman.

Fenomena munculnya taman baru sementara taman lama mulai ditinggalkan juga mendapat perhatian dari Anggota DPRD Kukar, Akbar Haka Saputra.

Ia menilai pengembangan sektor pariwisata harus dilakukan secara terarah agar pembangunan destinasi baru tidak justru membuat fasilitas yang sudah ada menjadi terbengkalai.

Dalam pembahasan sektor pariwisata, DPRD Kukar disebut lebih menekankan pemetaan objek wisata yang benar-benar potensial mendatangkan wisatawan dan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Tidak hanya wisata alam, destinasi buatan yang memiliki daya tarik kuat juga menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan tersebut.

“Jangan sampai setiap ada wisata baru, wisata lama malah ditinggalkan begitu saja. Ini yang harus kita pikirkan supaya pengembangan wisata di Kukar bisa berjalan berkelanjutan,” ujarnya.

Akbar menyebut pembangunan taman baru memang penting untuk mendukung penataan kota dan ruang publik masyarakat.

Meski demikian, menurutnya pemerintah juga perlu memastikan wisata lama tetap dirawat dan dikembangkan agar tidak kehilangan fungsi serta pengunjung.

Ia mengingatkan agar pola lama tidak kembali terjadi, ketika sebuah tempat wisata ramai hanya pada awal pembukaan lalu perlahan ditinggalkan setelah muncul destinasi baru lainnya.

Kondisi tersebut dinilai membuat banyak fasilitas publik akhirnya tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Karena itu, DPRD Kukar mendorong keterlibatan perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk mendukung pengembangan destinasi wisata yang dinilai memiliki potensi besar.

Dukungan tersebut diharapkan mampu menghadirkan wisata yang lebih hidup dan menarik wisatawan baru ke Kukar.

Akbar berharap pengembangan sektor pariwisata ke depan tidak hanya mengejar jumlah destinasi baru, tetapi juga menjaga agar wisata yang sudah ada tetap berkembang dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Yang kita inginkan bukan hanya wisata baru terus bermunculan, tetapi bagaimana semua destinasi wisata di Kukar bisa sama-sama berkembang dan memberikan manfaat bagi daerah maupun masyarakat,” tutupnya. (kriz)