Truk Penyedot Lumpur Milik DPUPR Belum Bisa Dimaksimalkan Lantaran Terkendala Kekurangan Personel
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Keberadaan truk penyedot lumpur milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau kembali menjadi perhatian publik. Armada yang dibeli melalui anggaran daerah pada 2024 dengan nilai sekitar Rp3 miliar itu awalnya diharapkan menjadi salah satu solusi untuk membantu membersihkan sedimentasi dan material yang menyumbat saluran drainase.
Namun, di saat
persoalan genangan masih terus menjadi keluhan warga setiap musim hujan tiba,
pemanfaatan kendaraan tersebut ternyata belum dapat berjalan secara maksimal.
Kondisi itu bukan
karena mengalami kerusakan atau tidak layak digunakan, melainkan akibat
keterbatasan personel yang bertugas mengoperasikan armada tersebut di lapangan.
Apalagi, sedimentasi
dan pendangkalan saluran air selama ini disebut sebagai salah satu faktor utama
yang menyebabkan genangan muncul di sejumlah ruas jalan maupun kawasan
permukiman ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Apalagi dalam
beberapa waktu terakhir, genangan air bahkan masih terlihat di sejumlah titik
jalan protokol di Tanjung Redeb. Situasi tersebut memicu kekhawatiran
masyarakat, terlebih saat curah hujan tinggi masih berpotensi terjadi di
wilayah Berau.
Kepala Bidang Sumber
Daya Air DPUPR Berau, Hendra Pranata, memastikan bahwa truk penyedot lumpur
tersebut masih dalam kondisi baik dan tetap siap digunakan kapan saja
diperlukan. Menurutnya, kendala utama yang dihadapi saat ini bukan terletak
pada armada maupun kondisi mesin kendaraan, melainkan minimnya sumber daya
manusia yang tersedia untuk mengoperasikan alat tersebut secara rutin.
Ia menjelaskan, untuk
menjalankan satu unit truk penyedot lumpur dibutuhkan sedikitnya empat hingga
lima personel yang bertugas di lapangan.
“Tiap hari bisa.
Cuman ya itu, belum ada personel untuk mengoperasikan. Empat sampai lima orang
cukup,” ujarnya.
Hendra menegaskan
bahwa kendaraan tersebut hingga kini masih berfungsi normal dan belum pernah
mengalami kerusakan teknis yang berarti. Bahkan, pemeriksaan dan perawatan
berkala terus dilakukan untuk memastikan armada tetap dalam kondisi prima.
“Belum ada rusak sih,
alhamdulillah. Masih baru, belum ada 10 tahun,” katanya.
Meski demikian,
keterbatasan tenaga operator membuat DPUPR belum dapat menetapkan jadwal rutin
pembersihan drainase menggunakan armada tersebut. Untuk sementara, truk hanya
akan dioperasikan ketika terdapat kebutuhan mendesak atau kondisi tertentu yang
membutuhkan penanganan cepat.
“Apa mau dijadwalkan,
enggak ada personelnya. Sementara kebutuhan mendesak saja kondisi-kondisi
tertentu,” tambahnya.
Sebagai solusi jangka
pendek, DPUPR Berau berencana menjalin kerja sama dengan Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau
guna membantu operasional armada di lapangan.
Langkah kolaborasi
lintas instansi tersebut dinilai penting agar aset daerah yang telah dibeli
dengan anggaran miliaran rupiah itu dapat dimanfaatkan secara lebih optimal
dalam mendukung program normalisasi drainase.
Menurut Hendra,
keberadaan truk penyedot lumpur memang sangat membantu proses pembersihan
saluran air, terutama pada drainase yang mengalami pendangkalan akibat endapan
lumpur. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua jenis material yang
menumpuk di dalam parit dapat diatasi hanya dengan sistem penyedotan.
Dalam beberapa kasus,
pembersihan tetap memerlukan tenaga manual maupun alat pendukung lainnya untuk
mengangkat sampah, akar tanaman, hingga material padat yang menghambat aliran
air.
Meski demikian,
masyarakat berharap persoalan keterbatasan personel dapat segera dicarikan
solusi. Sebab, di tengah meningkatnya perhatian terhadap persoalan banjir,
keberadaan armada penyedot lumpur tersebut dinilai memiliki peran strategis
dala mempercepat penanganan sedimentasi yang selama ini menjadi salah satu
penyebab tersumbatnya drainase.
Apalagi, setiap kali
hujan deras mengguyur, persoalan genangan hampir selalu menjadi keluhan warga.
Karena itu, optimalisasi seluruh sarana pendukung yang telah dimiliki
pemerintah daerah dinilai menjadi langkah penting agar upaya penanganan banjir
tidak hanya sebatas wacana, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh
masyarakat.
Dengan kondisi armada
yang masih terawat dan siap beroperasi, harapan kini tertuju pada tersedianya
dukungan personel yang memadai agar truk penyedot lumpur tersebut dapat bekerja
lebih maksimal dalam membantu mengurangi persoalan drainase dan banjir yang
masih menjadi pekerjaan rumah di Kabupaten Berau. (sep/FN)