Rupiah Tembus Rp18 Ribu per Dolar AS, Trader Kukar Soroti Dampaknya bagi Pasar Saham dan Valuta Asing

img

Ilustrasi trading pasar saham.

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berada di kisaran Rp18.095,70 per dolar AS menjadi perhatian pelaku pasar keuangan di Indonesia.

Kondisi tersebut dinilai membawa dampak beragam, mulai dari meningkatnya biaya impor hingga perubahan sentimen di pasar saham dan valuta asing.

Trader saham dan valuta asing asal Tenggarong, Kholif, mengatakan pelemahan rupiah merupakan salah satu indikator penting yang memengaruhi keputusan para pelaku pasar.

Menurutnya, kondisi nilai tukar yang berada di atas Rp18 ribu per dolar AS menunjukkan adanya tekanan yang perlu dicermati oleh investor maupun trader.

“Ketika rupiah melemah hingga berada di level seperti sekarang, pasar biasanya menjadi lebih sensitif terhadap berbagai sentimen ekonomi. Baik investor maupun trader harus lebih cermat dalam membaca arah pergerakan pasar,” ujarnya kepada Poskotakaltimnews pada Sabtu (6/6/2026). 

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif terhadap seluruh emiten di Bursa Efek Indonesia.

Sejumlah perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS, terutama dari sektor ekspor komoditas, justru berpotensi mendapatkan keuntungan dari kondisi tersebut.

Menurut Kholif, saham-saham yang bergerak di sektor pertambangan, energi, dan komoditas ekspor biasanya menjadi perhatian investor ketika dolar menguat.

Sebaliknya, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki utang dalam mata uang asing cenderung menghadapi tekanan biaya yang lebih besar.

“Tidak semua sektor terkena dampak yang sama. Ada yang tertekan karena biaya operasional meningkat, tetapi ada juga yang memperoleh manfaat karena pendapatannya berbasis dolar. Itu sebabnya trader harus memahami fundamental perusahaan yang dipilih,” ujarnya.

Selain pasar saham, pelemahan rupiah juga memengaruhi aktivitas perdagangan valuta asing.

Kholif menilai meningkatnya volatilitas dapat membuka peluang transaksi bagi trader forex, namun harus diimbangi dengan pengelolaan risiko yang disiplin.

“Di pasar forex, pergerakan yang lebih besar memang menciptakan peluang keuntungan. Tetapi tanpa manajemen risiko yang baik, kerugiannya juga bisa lebih besar. Karena itu trader harus tetap mengedepankan disiplin dalam setiap transaksi,” kata dia.

Terkait kondisi di Kutai Kartanegara (Kukar), Kholif menilai dampak pelemahan rupiah lebih banyak dirasakan secara tidak langsung melalui kenaikan harga barang yang memiliki komponen impor.

Meski demikian, daerah yang ditopang sektor pertambangan dan perkebunan masih memiliki peluang memperoleh manfaat dari meningkatnya nilai ekspor saat dolar menguat.

“Kalau untuk Kukar, pengaruhnya lebih terasa pada harga barang tertentu yang bergantung pada impor. Namun karena daerah ini juga memiliki sektor komoditas yang kuat, ada peluang positif yang bisa muncul dari meningkatnya nilai ekspor,” jelasnya.

Kholif mengimbau masyarakat agar tidak menyikapi pelemahan rupiah secara berlebihan.

Menurutnya, fluktuasi nilai tukar merupakan bagian dari dinamika ekonomi yang harus dipahami dengan baik.

“Yang terpenting adalah memahami penyebab pergerakan rupiah dan menyesuaikan strategi investasi maupun trading. Dalam setiap kondisi pasar selalu ada risiko, tetapi juga selalu ada peluang bagi yang mampu membacanya dengan baik,” pungkasnya. (kriz)