Harga Oli Melonjak, Pemilik Bengkel di Tenggarong Sebut Pelemahan Rupiah jadi Faktor Utama
Bengkel Nusantara Motor Tenggarong. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Kenaikan harga oli yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai dikeluhkan pemilik kendaraan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Sejumlah merek pelumas
mengalami penyesuaian harga, bahkan ada yang naik hingga belasan persen.
Kondisi tersebut turut
dirasakan pelaku usaha bengkel di Tenggarong yang harus menyesuaikan harga jual
kepada konsumen.
Karyawan bengkel Nusantara
Motor Tenggarong, Afifah mengatakan hampir seluruh merek oli yang dijual di
bengkelnya mengalami kenaikan harga sejak beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, kenaikan
tersebut terjadi secara bertahap mengikuti penyesuaian dari distributor.
"Kalau dibandingkan
awal tahun, rata-rata kenaikannya sekitar lima sampai lima belas persen. Ada
yang naik Rp5 ribu, ada juga yang sampai belasan ribu rupiah per botol
tergantung merek dan spesifikasinya," ujarnya kepada poskotakaltimnews
pada Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan beberapa
merek yang paling banyak digunakan pelanggan, seperti Pertamina Enduro, Shell
Advance, MPX, Federal Oil dan Yamalube, turut mengalami penyesuaian harga.
Menurut Afifah, oli yang
sebelumnya dijual di kisaran Rp55 ribu hingga Rp65 ribu kini sudah berada di
kisaran Rp65 ribu hingga Rp80 ribu per botol.
"Ada oli yang dulu
sekitar Rp55 ribu sekarang sudah mendekati Rp70 ribu. Beberapa oli premium
bahkan sudah tembus Rp80 ribu per botol," kata dia.
Afifah menilai pelemahan
nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor
utama yang mendorong kenaikan harga pelumas.
"Informasi yang saya
terima ketika dolar naik, biaya impor bahan baku ikut naik. Distributor
akhirnya menyesuaikan harga dan dampaknya sampai ke bengkel maupun
konsumen," jelasnya.
Selain faktor pelemahan
rupiah, ia menyebut gejolak harga minyak dunia dan meningkatnya biaya logistik
turut memengaruhi harga jual oli di pasaran.
Sebab oli merupakan produk
turunan minyak bumi yang sangat bergantung pada kondisi pasar energi global.
"Informasi dari
distributor bahwa biaya bahan baku dan distribusi juga meningkat. Jadi bukan
hanya karena nilai rupiah, tapi memang ada beberapa faktor yang terjadi
bersamaan," ungkapnya.
Meski harga oli naik, ia
mengimbau masyarakat agar tetap melakukan perawatan kendaraan secara rutin dan
tidak menunda penggantian oli.
Menurutnya, menunda servis
hanya akan meningkatkan risiko kerusakan mesin yang pada akhirnya membutuhkan
biaya lebih besar.
"Kalau telat ganti
oli, mesin bisa cepat aus dan biaya perbaikannya jauh lebih mahal. Jadi lebih
baik tetap melakukan penggantian sesuai jadwal," tuturnya.
Afifah berharap kondisi
ekonomi global dan nilai tukar rupiah dapat kembali stabil sehingga harga pelumas
tidak terus mengalami kenaikan.
Dengan demikian,
masyarakat tidak terbebani biaya perawatan kendaraan yang semakin tinggi dan
pelaku usaha bengkel juga dapat menjalankan usahanya dengan lebih baik.
"Kami berharap harga kembali stabil. Kalau harga bahan baku membaik, masyarakat juga akan lebih ringan dalam merawat kendaraannya," pungkasnya. (kriz)