1.502 Interkoneksi Rampung, Internet Akhinrya Menjangkau Seluruh Kampung di Berau
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Setelah bertahun-tahun persoalan keterbatasan akses digital menjadi tantangan di wilayah pedalaman, Kabupaten Berau kini memasuki fase baru pembangunan. Pemerintah daerah melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) memastikan seluruh Kampung di Bumi Batiwakkal telah terhubung jaringan internet.
Capaian ini bukan
sekadar angka statistik pembangunan, melainkan menjadi penanda berubahnya wajah
pelayanan publik dan arus informasi di wilayah yang selama ini identik dengan
keterbatasan akses komunikasi.
Pemerintah menilai
pemerataan konektivitas menjadi fondasi penting untuk mendorong pelayanan
pemerintahan yang lebih cepat, mendukung kegiatan belajar, memperkuat layanan
kesehatan, hingga membuka ruang ekonomi digital bagi masyarakat.
Kepala Diskominfo
Berau, Didi Rahmadi, mengatakan seluruh proses pemasangan perangkat internet di
tingkat kampung saat ini telah selesai dilaksanakan.
“Secara keseluruhan,
terdapat sekitar 1.502 titik interkoneksi yang telah dibangun dan tersebar
merata pada 100 kampung di Kabupaten Berau. Infrastruktur tersebut ditopang
dengan rata-rata kapasitas bandwidth mencapai 30 Mbps untuk masing-masing
wilayah,” terangnya baru-baru ini.
Menurut Didi,
pembangunan jaringan internet tidak dilakukan secara seragam tanpa arah, tetapi
menggunakan skema prioritas agar dampaknya langsung terasa pada kebutuhan dasar
masyarakat. Tahap pertama difokuskan pada pusat pelayanan pemerintahan kampung
sebagai tulang punggung administrasi daerah.
“Setelah itu, akses
diperluas ke lembaga pendidikan agar aktivitas belajar dan kebutuhan digital
sekolah dapat berjalan lebih optimal. Fasilitas kesehatan juga menjadi
prioritas agar pelayanan kepada masyarakat semakin cepat dan terhubung,” jelasnya.
Baru setelah seluruh
kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, perluasan jaringan diarahkan menuju ruang
publik dan titik-titik aktivitas masyarakat lainnya. “Rata-rata tahun 2026
kekuatan sudah 30 Mbps. Jadi kalau kampung, kelurahan, kecamatan, sudah semua
Alhamdulillah,” ujar Didi.
Meski target
pemerataan internet dinyatakan tercapai, Diskominfo menegaskan pekerjaan belum
benar-benar selesai. Menurut Didi, tantangan terbesar justru mulai terlihat
setelah jaringan tersedia. Di sejumlah wilayah pedalaman, keberadaan internet
masih sangat bergantung pada kondisi infrastruktur pendukung yang belum
sepenuhnya ideal.
Persoalan paling
dominan adalah keterbatasan pasokan listrik. Masih terdapat beberapa kampung
yang belum terjangkau jaringan listrik PLN sehingga perangkat internet tidak
dapat beroperasi secara normal seperti di kawasan perkotaan. Untuk mengatasi
kondisi tersebut, tim teknis menggunakan sumber energi alternatif berupa panel
surya atau solar cell.
Solusi tersebut
memungkinkan jaringan tetap hadir di wilayah terpencil, tetapi membawa
konsekuensi baru. Ketika cuaca memasuki musim hujan dan intensitas sinar
matahari menurun, kemampuan panel surya menghasilkan energi ikut berkurang.
Akibatnya, perangkat pemancar internet tidak selalu memperoleh daya yang cukup
untuk menjaga kestabilan jaringan.
Kondisi inilah yang
membuat kualitas koneksi di beberapa titik masih mengalami fluktuasi. Selain
persoalan energi, tantangan lain juga muncul dari bentang geografis Kabupaten
Berau yang luas dan tidak seluruhnya dapat dijangkau jaringan berbasis kabel.
Pada sejumlah
wilayah, penguatan jaringan masih mengandalkan sistem radio nirkabel. Sistem
ini cukup efektif menjangkau daerah yang sulit diakses, tetapi memiliki
keterbatasan ketika harus mengirim sinyal dalam jarak sangat jauh. Kontur
wilayah dan jarak antar Kampung membuat transmisi radio terkadang tidak
berjalan stabil.
“Kalau yang pakai
radio itu karena jaraknya terlalu jauh kadang-kadang memang sinyal hidup
tenggelam. Jadi itu beberapa tantangan yang masih kami hadapi,” jelas Didi.
Meski demikian, capaian terhubungnya seluruh kampung dengan internet dinilai menjadi langkah besar dalam agenda transformasi digital Kabupaten Berau. Pemerataan jaringan bukan lagi berbicara tentang menghadirkan sinyal semata, tetapi membuka kesempatan yang lebih setara bagi masyarakat untuk memperoleh layanan publik, pendidikan, informasi, hingga peluang ekonomi tanpa harus dibatasi jarak geografis.
Kini, setelah seluruh
kampung dinyatakan terkoneksi, pekerjaan berikutnya adalah memastikan kualitas
layanan tetap terjaga agar internet yang sudah hadir tidak hanya menjadi simbol
pembangunan, tetapi benar-benar menjadi penggerak perubahan hingga ke pelosok
Bumi Batiwakkal. (sep/FN)