Bupati Kukar Sentil Budaya Kerja Jajarannya yang Terbiasa dengan Anggaran Besar
Bupati Kukar, Aulia
Rahman Basri. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri menyentil budaya kerja jajarannya yang selama ini terbiasa bekerja dengan dukungan anggaran besar.
Pola tersebut kini
harus berubah menyusul kondisi keuangan daerah yang mengharuskan Pemkab Kukar
mengurangi sekitar Rp2 triliun dari anggarannya.
Aulia menilai,
penyesuaian kondisi fiskal tidak cukup hanya diselesaikan melalui rasionalisasi
sejumlah belanja.
“Kalau sekarang kita
bicara terkait dengan proses keuangan daerah, yang berat sebenarnya bukan
terletak pada proses rasionalisasinya. Akan tetapi, yang berat bagi kita adalah
mengubah budaya di tempat kita,” ujarnya saat di temui di kantor Bupati Kukar, Tenggarong,
Senin (27/7/2026).
Perubahan itu
berkaitan dengan cara perangkat daerah menjalankan program dan memenuhi
ekspektasi masyarakat.
Terlebih, kata dia,
kondisi fiskal saat ini berbeda dibandingkan ketika pemerintah daerah memiliki
keleluasaan lebih besar dalam membiayai berbagai program.
“Di mana selama ini
kawan-kawan terbiasa dengan uang yang banyak. Sekarang, dengan uang yang lebih
kecil, kita tetap harus mencapai target kinerja yang diminta oleh masyarakat
sebagaimana mestinya,” tuturnya.
Situasi tersebut
menjadi ujian bagi perangkat daerah untuk beradaptasi.
Pemerintah daerah pun
mulai melakukan penyesuaian secara internal agar pelaksanaan tugas tetap dapat
berjalan di tengah perubahan kemampuan fiskal.
“Maka budaya-budaya
kerja inilah yang berusaha kita sesuaikan, dan ini merupakan sesuatu yang
berat,” ucapnya.
Meski proses tersebut
tidak sederhana, Aulia tetap optimistis jajarannya dapat melewati masa
penyesuaian dan menjalankan tanggung jawab pemerintahan sesuai dengan kondisi
yang ada.
“Kami yakin ini
berat, ini sulit, tetapi bisa untuk kita laksanakan,” tegasnya.
Tekanan terhadap
keuangan daerah sendiri cukup besar. Dalam proses penataan kembali postur
keuangan, Pemkab Kukar dihadapkan pada kebutuhan untuk memangkas sejumlah
alokasi yang sebelumnya masuk dalam perencanaan.
“Ya, sekitar Rp2
triliun kita akan kurangi. Sampai sekarang kita harus membuang sekitar Rp2
triliun dari anggaran kita,” ungkapnya.
Di tengah proses
tersebut, Pemkab Kukar belum menutup peluang untuk memperkuat kembali kemampuan
fiskalnya.
Salah satu yang masih
diupayakan berkaitan dengan kewajiban pemerintah pusat kepada daerah.
“Tetapi kita masih
melakukan proses komunikasi dengan pemerintah pusat, bagaimana dana kurang
bayar kita bisa tersalurkan sehingga itu bisa menutupi defisit,” jelasnya.
Kondisi keuangan
tersebut juga memunculkan pertanyaan terhadap keberlanjutan pembangunan fisik
sepanjang tahun ini.
Aulia memastikan sejumlah pekerjaan yang telah menjadi kebutuhan daerah masih tetap dilaksanakan.
“Ada. Kan kelihatan,
bangunan-bangunan fisik masih ada yang kita laksanakan. Ada pembangunan
infrastruktur jalan, penanganan longsoran, dan ada beberapa pembangunan lainnya
yang kita laksanakan,” pungkasnya. (Kriz)