Berbagi Kisah, Fauzan Azim Putra Asal Berau yang Ikut Berperan Angkat Prestasi Atlet Timnas Disabilitas Indonesia
Fauzan Azim (tengah, baju merah) bersama rekannya di Timnas - Persaj Jakarta. (foto : istimewa)
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Ketika sorak sorai penonton bergema setiap
kali atlet Indonesia meraih kemenangan, perhatian publik hampir selalu tertuju
kepada mereka yang berdiri di podium atau bertanding di lapangan. Namun,
sedikit yang mengetahui bahwa di balik setiap performa terbaik seorang atlet,
terdapat sosok yang bekerja dalam senyap, memastikan tubuh mereka tetap kuat,
pulih dari cedera, dan siap bertanding hingga peluit akhir berbunyi.
Salah satu sosok
penting itu adalah Fauzan Azim, pemuda asal Kabupaten Berau, Kalimantan Timur,
yang kini dipercaya menjadi bagian dari tim Fisioterapi Tim Nasional
Disabilitas Indonesia.
Meski namanya jarang
muncul di layar televisi, kontribusinya menjadi bagian tak terpisahkan dari
perjuangan para atlet Merah Putih dalam mengharumkan nama bangsa di berbagai
ajang olahraga.
Di usia yang masih
sangat muda, Fauzan berhasil menembus level nasional melalui profesi yang belum
banyak dikenal masyarakat. Perjalanannya membuktikan bahwa prestasi tidak
selalu diraih dengan menjadi atlet, tetapi juga melalui dedikasi sebagai tenaga
kesehatan yang mendampingi mereka dari balik layar.
Semuanya bermula
ketika Fauzan menempuh pendidikan S1 Fisioterapi di Universitas 'Aisyiyah
Yogyakarta. Saat sebagian besar mahasiswa memilih fokus menyelesaikan
perkuliahan, Fauzan justru aktif mencari pengalaman di berbagai event olahraga.
Ia menjadi relawan sekaligus tenaga fisioterapi dalam sejumlah kompetisi
nasional hingga internasional.
"Sejak kuliah,
saya sudah aktif mengikuti berbagai event nasional hingga internasional sebagai
tenaga fisioterapi," ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Berbagai ajang
olahraga pernah menjadi tempatnya mengabdikan ilmu, Mulai dari DBL Basketball
Regional Yogyakarta, Liga Remaja PSSI, berbagai kejuaraan marathon
internasional, hingga sejumlah kompetisi olahraga lainnya.
Melalui berbagai
pengalaman tersebut, Fauzan tidak hanya memahami teori yang diperoleh di bangku
kuliah, tetapi juga belajar menghadapi situasi nyata di lapangan. Ia terbiasa
menangani cedera akut atlet, membantu proses rehabilitasi, memulihkan kondisi
fisik, hingga memastikan atlet siap kembali bertanding dengan kondisi terbaik.
Keinginan untuk terus berkembang membawa Fauzan melangkah lebih jauh. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia memperoleh kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Mahidol University, Thailand, salah satu perguruan tinggi terbaik di Asia yang dikenal memiliki reputasi kuat dalam bidang kesehatan.
Selama berada di
Thailand, Fauzan mempelajari berbagai pendekatan fisioterapi modern, mulai dari
rehabilitasi olahraga, terapi muskuloskeletal, hingga standar pelayanan
fisioterapi yang diterapkan di tingkat internasional.
"Pengalaman di
Thailand sangat membuka wawasan saya mengenai standar pelayanan fisioterapi di
tingkat internasional," ungkap pria kelahiran Berau, 25 Maret 2004 itu.
Tidak hanya
memperkaya ilmu, pengalaman tersebut juga membentuk pola pikirnya sebagai
tenaga kesehatan yang harus terus berkembang mengikuti kemajuan ilmu
pengetahuan. Fauzan mendapat panggilan langsung dari Kepala Fisioterapi Tim
Nasional Disabilitas Indonesia, Sofal Jamil, untuk bergabung sebagai asisten
fisioterapi tim nasional.
Bersama tim nasional,
Fauzan terlibat dalam proses persiapan atlet menuju kualifikasi Piala Dunia
Disabilitas. Ia bekerja bersama tenaga medis berpengalaman, memantau kondisi
atlet setiap hari, melakukan terapi, rehabilitasi, hingga memastikan para atlet
berada dalam kondisi fisik terbaik saat bertanding.
"Bagi saya, itu
pengalaman yang sangat berharga karena bisa belajar langsung sekaligus
menangani atlet-atlet nasional," katanya.
Menurut Fauzan,
menjadi fisioterapi tim nasional bukan sekadar mengobati cedera, karena setiap pertandingan, fisioterapi memiliki
tanggung jawab besar untuk mencegah cedera, mempercepat pemulihan atlet,
menjaga kebugaran tubuh, hingga memastikan atlet mampu tampil maksimal
sepanjang kompetisi.
Belum lama ini,
Fauzan dipercaya menjadi fisioterapi utama Persaj Jakarta yang berlaga dalam
Liga 1 Sepak Bola Amputasi Piala Menpora.
Selama kompetisi
berlangsung, ia memastikan seluruh pemain mendapatkan penanganan terbaik, mulai
dari terapi sebelum pertandingan, pemulihan setelah bertanding, hingga
penanganan cedera yang dialami pemain selama turnamen.
Bersama Persaj
Jakarta, Fauzan sukses mengantarkan tim meraih gelar juara Piala Menpora.
Prestasi tersebut semakin memperkuat rekam jejaknya sebagai salah satu fisioterapi
muda yang mulai diperhitungkan di dunia olahraga nasional.
Di tengah berbagai
pencapaiannya, Fauzan tidak melupakan kampung halamannya. Ia berharap Kabupaten
Berau dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda, khususnya
tenaga kesehatan, untuk berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan dan pembinaan olahraga daerah.
Menurutnya, peran fisioterapi
masih belum dipahami secara utuh oleh masyarakat. Banyak yang menganggap
fisioterapi hanya dibutuhkan ketika seseorang mengalami cedera. Padahal,
profesi tersebut memiliki cakupan yang jauh lebih luas, mulai dari pencegahan
cedera, rehabilitasi, peningkatan fungsi gerak, pendampingan pasien
pascaoperasi, hingga membantu atlet meningkatkan performa olahraga.
"Harapan saya,
Kabupaten Berau dapat semakin memberikan ruang dan kesempatan kepada generasi
muda, khususnya tenaga kesehatan muda seperti saya, untuk ikut berkontribusi
dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dan mengembangkan pelayanan olahraga,"
ujarnya.
Ia juga berharap
pemerintah daerah, rumah sakit, puskesmas, sekolah, klub olahraga, hingga
organisasi profesi dapat memperkuat kolaborasi untuk memperkenalkan pentingnya
fisioterapi kepada masyarakat.
"Sosialisasi
mengenai fisioterapi perlu lebih banyak dilakukan. Fisioterapi bukan hanya
menangani pasien setelah cedera, tetapi juga berperan dalam pencegahan,
pemulihan fungsi gerak, peningkatan kualitas hidup, dan pendampingan prestasi
olahraga," jelasnya.
Menurut Fauzan,
edukasi tersebut dapat dilakukan melalui sekolah, seminar kesehatan, kegiatan
olahraga, media sosial, hingga berbagai program kolaboratif antara pemerintah
dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Kisah Fauzan Azim
menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat lahir dari daerah. Berawal dari seorang
mahasiswa yang rela menghabiskan waktu menjadi relawan di berbagai event
olahraga, ia terus menempa diri melalui pengalaman, pendidikan, dan kerja keras
hingga dipercaya mengenakan seragam tim nasional.
Meski tak mencetak
gol, tak mengangkat trofi di podium, dan tak berdiri di garis finis, peran
Fauzan sama pentingnya dengan para atlet yang bertanding. Dari balik ruang
terapi dan pinggir lapangan, pemuda asal Berau itu ikut menjaga mimpi Indonesia
untuk terus berprestasi.
Perjalanan Fauzan
sekaligus menjadi inspirasi bahwa mengharumkan nama daerah tidak selalu harus
menjadi atlet. Dengan dedikasi, kompetensi, dan semangat belajar yang tak
pernah padam, seorang putra daerah juga dapat menjadi bagian penting dari
setiap kemenangan yang diraih Indonesia di panggung olahraga nasional maupun
internasional. (sep/FN)