67 Kejadian Karhutla di Kukar Capai 915 Hektare, Pemkab Siapkan Pos Terpadu hingga Desa
Petugas
Disdamkarmatan Kukar saat melakukan pemadaman api di lahan yang terbakar. (foto
; dok.disdamkarmatan Kukar)
POSKOTAKALTIMNEWS,
KUKAR : Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) telah mencapai 67 kejadian dengan total
luasan lahan terbakar 915,68 hektare. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar kini
memperkuat penanganan dengan menyiapkan pos terpadu mulai dari tingkat Desa dan Kelurahan hingga Kabupaten.
Berdasarkan data yang
dibahas dalam Rapat Koordinasi Tim Terpadu Penanggulangan Dampak Kekeringan
serta Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla di Command Center Diskominfo
Kukar, Rabu (26/8/2026), terdapat
sekitar 67 kejadian karhutla di Kukar, telah membakar 915,68 hektare lahan.
Luasan terbesar
tercatat di Kecamatan Sanga-Sanga mencapai 340 hektare, disusul Muara Kaman 130
hektare, Samboja 126 hektare, Muara Badak 107,25 hektare dan Tabang 100
hektare.
Sementara dari sisi
jumlah kejadian, Samboja menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 21
kejadian.
Rapat dipimpin langsung
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan
Daerah (Forkopimda), Camat, Polres, Kodim 0906/Kukar serta Kepala Organisasi Perangkat
Daerah (OPD) yang mengikuti melalui zoom meeting.
Ia mengatakan, rapat
tersebut menghasilkan sejumlah kebijakan untuk memperkuat penanganan karhutla,
baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
“Dalam jangka pendek,
kita akan membuat pos terpadu mulai dari tingkat Kelurahan dan Desa, kemudian
tingkat Kecamatan, hingga tingkat Kabupaten,” ujarnya.
Selain pembentukan
pos, Pemkab Kukar menyiapkan dukungan logistik dan bahan bakar minyak (BBM)
bagi petugas yang melakukan penanganan di lapangan.
Pembiayaan kebutuhan
tersebut akan dikoordinasikan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD), termasuk dukungan untuk Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.
Dukungan tersebut
disiapkan agar petugas dapat bergerak cepat ketika terjadi kebakaran.
"Ini akan
disalurkan ke kecamatan-kecamatan yang membutuhkan logistik dan BBM. Bukan
hanya BPBD, Damkar pun kita support untuk pemenuhan BBM,” kata dia.
Pemkab Kukar juga
memetakan sumber daya yang tersedia, termasuk menghimpun dukungan dari badan
usaha setempat yang memiliki unit pemadam kebakaran.
“Karena kita pahami
badan usaha itu pasti memiliki unit pemadam kebakaran, baik itu usaha
perkebunan maupun usaha pertambangan,” tuturnya.
Dalam rapat tersebut,
pemerintah juga memetakan kondisi kebakaran berdasarkan pemantauan citra
satelit dan laporan dari Kecamatan.
Ia menyebut terdapat
sekitar 140 titik aktif berdasarkan citra satelit, namun laporan dari lapangan
menunjukkan titik yang perlu mendapat penanganan diperkirakan tidak lebih dari
50 titik.
“Memang ada beberapa
titik yang apinya lumayan besar dan membutuhkan perhatian kita untuk
penanganannya,” ujarnya.
Di tengah ancaman
kemarau panjang, ia juga mengajak masyarakat melakukan salat istisqa sebagai
bentuk ikhtiar agar hujan segera turun.
Berdasarkan informasi
Kepala BPBD, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir
Oktober dan berpotensi berlanjut sampai November bahkan akhir tahun.
Sementara itu,
Sekretaris Daerah (Sekda) sekaligus Kepada BPBD Kukar, Sunggono mengatakan
langkah antisipasi dan mitigasi risiko telah dilakukan jauh sebelum peningkatan
kejadian karhutla.
Pemerintah daerah
sebelumnya telah mengingatkan jajaran terkait untuk mewaspadai kondisi cuaca
ekstrem.
Penanganan juga tidak
hanya diarahkan pada karhutla, tetapi turut menyasar dampak kekeringan terhadap
masyarakat.
“Yang kita lakukan
bukan hanya menangani masyarakat yang terdampak kekeringan. Kita juga sudah
melakukan langkah-langkah antisipasi. Dan itu sudah terkoordinasi, hasilnya
juga sudah terlihat,” kata dia.
Menurutnya, dari 20 Kecamatan
di Kukar, 5 Kecamatan tidak terdampak hotspot berdasarkan data BMKG. Sementara
Kecamatan lainnya mengalami dampak dengan skala berbeda-beda.
Ia menyebutkan bahwa
kondisi titik panas cenderung lebih terlihat ketika suhu udara meningkat pada
siang hari.
Koordinasi dengan
jajaran di daerah terus dilakukan untuk memastikan laporan dari lapangan dapat
segera ditindaklanjuti.
Ia mengatakan
pemerintah sebenarnya telah memiliki grup komunikasi untuk mempercepat
penyampaian informasi. Namun, grup tersebut akan diperluas dengan melibatkan
seluruh unsur terkait, sehingga koordinasi penanganan karhutla dapat dilakukan
secara lebih terpadu.
“Insyaallah hari ini
kita akan masukkan mereka ke dalam grup tersebut,” tutupnya. (Kriz)