Gubernur Rudy Ajak Semua Pihak Bersinergi Cegah dan Padamkan Karhutla
POSKOTAKALTIMNEWS, JAKARTA: Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Dr H Rudy Mas’ud mengikuti Rapat Koordinasi antara Pemerintah dengan perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Graha Marinir Panti Wira, Senin (7/9/2026).
Rapat yang dipimpin
Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago
tersebut membahas penguatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan
lahan (karhutla) di Indonesia.
Gubernur Rudy Mas’ud
mengajak seluruh pihak di Kaltim untuk bergandeng tangan melakukan pencegahan
hingga pemadaman karhutla. Hal ini penting mengingat fenomena El Nino diprediksi
masih akan berlangsung hingga Oktober.
“Karhutla memerlukan
kesungguhan untuk kita lakukan bersama-sama,” seru Gubernur Rudy Mas’ud usai
mengikuti rapat.
Menurut Rudy, penanganan
karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga
perusahaan pemegang HGU dan PBPH serta seluruh elemen masyarakat.
Tanggung jawab tersebut,
lanjutnya, dapat diwujudkan dengan tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan,
serta bersama-sama melakukan pemadaman apabila terjadi kebakaran.
Selain itu, edukasi kepada
masyarakat juga perlu terus diperkuat dengan melibatkan berbagai unsur,
termasuk tokoh masyarakat dan tokoh agama.
“Kita harus melakukan
edukasi bersama kepada masyarakat, termasuk melibatkan tokoh masyarakat dan
tokoh agama,” ujarnya.
Kaltim sendiri tidak
termasuk dalam enam provinsi prioritas penanganan karhutla secara nasional.
Keenam provinsi tersebut yakni Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Tengah,
Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Jambi.
Kebakaran di enam provinsi
tersebut hampir selalu berulang dan berpotensi menimbulkan bencana asap yang
bahkan dapat berdampak hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan
Singapura.
Total luasan lahan
terbakar di enam provinsi prioritas tersebut mencapai sekitar 72.000 hektare.
Dari luasan tersebut, sekitar 700 hektare masih dalam proses penanganan dan
pemadaman.
Selain itu, penanganan
karhutla di sekitar kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menjadi perhatian
pemerintah. Saat ini terdapat sekitar 459 hektare lahan yang masih dalam proses
pemadaman.
Sementara itu, Menko
Polkam Djamari Chaniago menegaskan bahwa larangan pembakaran hutan dan lahan
bukan lagi sekadar imbauan, melainkan sudah menjadi perintah Presiden.
Hal tersebut tertuang
dalam Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2026 tentang Penguatan Penegakan
Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dan Pengendalian Kebakaran Hutan
dan Lahan (Karhutla).
“Kita punya tanggung jawab
bersama, karhutla harus kita hentikan. Tidak boleh bakar lahan dan hutan. Ini
bukan sekadar imbauan, tapi perintah Presiden,” tegas Djamari.
Kepada para gubernur,
Pangdam, Kapolda, Danrem, Kajati, serta para pengusaha pemegang HGU dan PBPH
se-Indonesia, Djamari mengingatkan tiga tanggung jawab yang harus menjadi
perhatian bersama.
Pertama, tanggung jawab
moral kepada alam dan manusia. Kedua, tanggung jawab terhadap jabatan dan
kehormatan. Ketiga, pertanggungjawaban terhadap hukum yang telah diatur oleh
negara.
Menko Polkam juga
menyampaikan tiga catatan penting dalam penanganan karhutla. Pertama, ancaman
El Nino belum berakhir.
Kedua, setiap lahan pasti
memiliki penanggung jawab. Ketiga, aturan sudah lengkap sehingga penegakan
harus dilakukan secara konsisten, tegas dan segera.
“Karhutla tidak akan
berhenti, jika kita berbicara sendiri-sendiri,” tegasnya.
Djamari menekankan bahwa
upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla juga merupakan kewajiban para
pemegang HGU dan PBPH. Dalam rapat tersebut, pemerintah mengundang tidak kurang
dari 325 perusahaan pemegang HGU dan PBPH.
Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menjelaskan, penanganan karhutla
dilakukan melalui operasi darat dan udara.
Khusus untuk enam provinsi
yang menjadi prioritas, sebanyak 43.481 personel dikerahkan. Mereka berasal
dari BNPB, BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, relawan dan unsur terkait lainnya.
Untuk Satgas Udara,
pemerintah mengerahkan 55 pesawat, yang terdiri dari 35 unit helikopter water
bombing (WB). Pemerintah juga menyiapkan pesawat untuk mendukung Operasi
Modifikasi Cuaca (OMC).
Rapat koordinasi tersebut
turut diikuti Kapolri dan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih. Pelaksanaan
rapat dilakukan secara luring dan daring sebagai bagian dari penguatan
koordinasi nasional dalam pencegahan dan penanggulangan karhutla.(mar)