Warga Semayang Punya Cara Unik Tanam Padi di Saat Musim Kemarau, Hanya Satu Dekade Sekali
Tanaman padi terlihat
mulai tumbuh di Danau Semayang. (Facebook: Whe Wen)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Aksi Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri menebar benih padi ke Danau Semayan, Kecamatan Kenohan ramai diperbincangkan. Benih yang ditebar langsung ke air membuat cara tersebut sekilas terlihat seperti membuang benih.
Padahal, warga
Semayang memiliki cara tersendiri memanfaatkan danau yang surut saat musim kemarau untuk bercocok
tanam.
Bupati Aulia
mengatakan, pemerintah awalnya mendapat permohonan dari masyarakat Desa
Semayang untuk menambah benih setelah warga lebih dulu melakukan penanaman
secara mandiri.
Pemerintah kemudian
menyalurkan 500 kilogram benih pada tahap awal dan kembali memberikan tambahan
hingga total sekitar 1,25 ton.
“Sampai di lapangan,
kami diajak oleh warga masyarakat menanam padi dengan cara mereka, sebagaimana
yang sudah tumbuh di atas air,” ujarnya saat di temui di Tenggarong Sebrang
pada Jumat (11/9/2026).
Cara tersebut sempat
membuatnya heran karena berbeda dari pola tanam padi yang selama ini ia temui.
Benih ditebar ketika air masih menggenangi kawasan danau, lalu dibiarkan
mengikuti kondisi alam.
“Memang metodenya
sangat unik. Seolah-olah kita seperti menabur padi di sungai. Akan tetapi,
itulah metode yang digunakan oleh warga masyarakat yang ada di sana,” ucapnya.
Menurutnya, air Danau
Semayang tidak mengalir seperti sungai, ketika permukaan danau berangsur turun,
benih yang berada di dasar akan tumbuh.
Penanaman ini menjadi
salah satu cara masyarakat memanfaatkan momentum alam sekaligus menjaga
ketersediaan pangan selama musim kemarau.
Ia menyebut sekitar
90 persen warga Semayang yang sebelumnya berprofesi sebagai nelayan kini
memanfaatkan kondisi tersebut untuk bertani.
Metodenya juga
relatif murah karena tidak membutuhkan pengolahan tanah maupun perlakuan
khusus.
“Tidak ada olah
lahan, tidak ada treatment-treatment khusus. Karena mungkin unsur hara yang ada
di danau itu sangatlah bagus,” kata dia.
Namun, pertumbuhan
tanaman tetap menghadapi ancaman hama, pemerintah akan menurunkan Dinas
Pertanian bersama BRMP untuk mengidentifikasi gangguan tersebut dan membantu
pengendaliannya.
SATU DEKADE
Ia menyebut,
kesempatan bertani dengan memanfaatkan kondisi Danau Semayang juga tidak muncul
setiap tahun.
Berdasarkan
pengalaman masyarakat, pola tersebut baru memungkinkan sekitar satu dekade
sekali.
“Sejarah mengatakan
atau sejarah memperhatikan kepada kami bahwa ini bisa dilakukan per 10 tahun
sekali,” ungkapnya.
Penanaman terakhir
dilakukan sekitar 2016-2017 dan kini kondisi serupa kembali muncul pada
2026-2027.
Bagi pemerintah,
kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap kearifan lokal yang telah
lebih dulu dijalankan masyarakat.
“Ini kearifan lokal
masyarakat di sana dan tugas kami sebagai pemerintah adalah men-support apa
yang dilakukan oleh warga masyarakat yang ada di sana,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala
Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar Muhammad Rifani menegaskan,
aksi Bupati bukan awal dari penanaman di Danau Semayang.
Ia menyebut, ketika
bupati datang pada Selasa (1/9/2026), hampir separuh kawasan yang dimanfaatkan
warga sudah ditanami secara swadaya.
“Bahkan sudah ada
padi yang umurnya sudah 20 hari setelah tanam,” sebutnya.
Ia menjelaskan,
metode yang digunakan warga dikenal sebagai Tabela Dar, yakni tanam benih
langsung dalam air.
Benih kosong akan
mengambang, sedangkan benih bernas tenggelam dan kemudian tumbuh ketika air
menyusut.
“Kalau benih-benih
yang berkualitas, dia akan tenggelam. Dengan harapan semakin berkurangnya debit
air, nanti benih itu bisa tumbuh,” jelasnya.
Menurutnya, metode
tersebut bukan teknologi baru dari pemerintah, warga telah menerapkannya secara
turun-temurun mulai 1996-1997.
“Jadi kita hanya
men-support, kita hanya stimulan, merangsang mereka, memberi semangat kepada
mereka,” ujarnya.
Luas kawasan yang
telah ditanami diperkirakan mencapai sekitar 500 hektare, mayoritas berasal
dari swadaya masyarakat.
Sementara bantuan
benih pemerintah sekitar 1,25 ton diperkirakan hanya mencukupi sekitar 20
hektare.
Tanaman yang tumbuh
saat ini berusia sekitar sembilan hingga 20 hari, pemerintah masih akan
melakukan pemantauan, terutama terhadap laporan serangan hama.
Usai aksi yang di
lakukan bupati, praktik tersebut juga mulai dilirik desa sekitar. Ia mengatakan
bahwa saat ini Desa Pela dan Desa Melintang telah mengajukan permohonan serupa
berupa dukungan benih setelah melihat pola pertanian yang dilakukan warga Semayang.
Kini, masyarakat
menunggu hasil dari penanaman yang kembali dilakukan setelah sekitar 10 tahun.
Pemerintah berharap siklus surut Danau Semayang kali ini kembali berujung pada
panen.
“Ya, kita doakan
mudah-mudahan panen. Insyaallah,” pungkasnya. (Kriz)