Perebahan Pinang Ayu Tutup Rangkaian Sakral Erau Adat Kutai 2026, Erau 2027 Disiapkan Lebih Semarak
Perebahan Pinang Ayu
tanda berakhirnya prosesi sakral Erau Adat Kutai 2026. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Setelah melewati rangkaian ritual adat selama pelaksanaan Erau, prosesi merebahkan Pinang Ayu di Keraton/Museum Mulawarman, Tenggarong, Senin (28/9/2026), menjadi penanda berakhirnya tahapan sakral Erau Adat Kutai 2026.
Prosesi ini sekaligus
menjadi titik awal bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar)
menyiapkan pelaksanaan Erau 2027 dengan kolaborasi yang lebih luas.
Dalam rangkaian Erau,
Pinang Ayu tidak sekadar menjadi bagian dari perlengkapan adat.
Keberadaannya
berkaitan dengan harapan terhadap kemakmuran dan keberlangsungan kehidupan
masyarakat Kutai.
Pendirian Pinang Ayu
menandai dimulainya pesta adat, sementara perebahannya menjadi tahapan resmi
untuk mengakhiri rangkaian Erau.
Bupati Kukar, Aulia
Rahman Basri mengatakan, selesainya prosesi sakral Erau Adat Kutai 2026 juga
menandai berakhirnya masa berpantang yang dijalani Sultan Kutai Kartanegara Ing
Martadipura selama rangkaian adat.
“Ya, hari ini tadi
pagi kita baru saja melaksanakan prosesi penurunan Pinang Ayu yang menandai
bahwa prosesi sakral dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026 sudah selesai.
Ayahanda Sultan juga sudah kembali dan sudah diperbolehkan kembali menginjakkan
kaki di tanah,” ujarnya.
Ia menyebut seluruh
tahapan Erau memiliki keterkaitan dan harus dilaksanakan sebagai satu rangkaian
yang utuh.
Karena itu, kata dia,
penyelesaian satu prosesi menjadi bagian dari perjalanan menuju penyelesaian
keseluruhan rangkaian adat.
“Ini merupakan bagian
dari rangkaian keseluruhan Erau Adat Kutai 2026. Kita akan menyelesaikan
seluruh tahapan-tahapan ini sehingga menjadi suatu rangkaian yang utuh dan
tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya,” jelasnya.
Pelaksanaan Erau Adat
Kutai 2026 juga mendapat perhatian besar dari masyarakat, tingginya jumlah
pengunjung menjadi salah satu catatan Pemkab Kukar dalam penyelenggaraan tahun
ini.
Ia menyebut
antusiasme tersebut menjadi modal untuk menyiapkan penyelenggaraan Erau tahun
berikutnya dengan pengembangan yang lebih luas.
“Pelaksanaan Erau
tahun ini sangat luar biasa dan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jumlah
pengunjung juga sangat luar biasa. Kami berjanji, Erau tahun 2027 akan kita
buat lebih semarak lagi,” ungkapnya.
Rencana tersebut akan
dibarengi dengan perluasan kolaborasi, paada 2026, pelaksanaan Erau
diorkestrasi Pemkab Kukar bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Untuk 2027,
lanjutnya, sejumlah pihak telah menyatakan komitmen untuk ikut mengambil
bagian.
Pemerintah Provinsi
Kalimantan Timur menjadi salah satu pihak yang telah menyampaikan komitmen
tersebut. Aulia mengatakan dukungan disampaikan langsung oleh Gubernur dan
Wakil Gubernur Kaltim.
“Dari pihak
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, tadi malam Bapak Gubernur dan kemarin
Bapak Wakil Gubernur juga sudah bersama-sama menyatakan komitmennya untuk ikut
menyukseskan Erau 2027,” ujarnya.
Selain Pemprov
Kaltim, ia menyebut Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kebudayaan juga
telah menyatakan komitmen. Badan usaha di lingkup Kabupaten Kukar turut masuk
dalam pihak yang akan dilibatkan.
Berbagai dukungan
tersebut akan dihimpun untuk membangun penyelenggaraan Erau 2027 yang lebih
luas, baik dari sisi keterlibatan maupun kegiatan pendukungnya.
“Kita berharap hal
ini yang akan kita coba orkestrasi untuk pelaksanaan Erau 2027 sehingga bisa
lebih semarak lagi, tanpa meninggalkan sisi sakralitas dari Erau itu sendiri,”
tegasnya.
Ia mengatakan
pengembangan tidak akan diarahkan pada perubahan terhadap prosesi adat yang
bersifat sakral.
Penguatan akan
dilakukan pada aspek seremonial agar ruang keterlibatan masyarakat semakin
terbuka.
“Sakralitasnya tetap
kita jaga. Sementara sisi seremonialnya yang bisa kita kembangkan agar
pelaksanaan Erau terlihat lebih semarak dan tentunya lebih terasa dimiliki oleh
seluruh masyarakat Kutai Kartanegara,” kata dia.
Menurutnya, arah
pengembangan tersebut diharapkan membuat Erau semakin dekat dengan masyarakat
tanpa menghilangkan nilai yang telah diwariskan dalam tradisi Kutai.
Sementara itu,
Pangeran Mangkupati Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Danur
Dwi Jatmiko, menjelaskan makna Pinang Ayu dalam rangkaian adat.
Menurutnya, unsur
tersebut berkaitan dengan kemakmuran tanah Kutai dan menjadi bagian penting
dalam penutupan Erau.
“Pinang Ayu itu
memang berarti sebuah kemakmuran dari tanah Kutai. Jadi, ketika Pinang Ayu yang
dikombinasikan dengan Sangko Piatu itu kita serahkan, berarti secara resmi Erau
itu berakhir dan selesai,” jelasnya.
Sebelum perebahan
Pinang Ayu, Sultan telah melewati sejumlah tahapan adat. Ia menjelaskan rangka
tipi menjadi bagian dari prosesi lepas berpantang, kemudian dilanjutkan dengan
ketayungan dalam rangkaian Bepelas hari ketujuh.
“Ketayungan tadi
malam merupakan bagian dari proses Bepelas, yaitu prosesi pada hari ketujuh. Di
situlah Sultan menari, dan itulah proses ketayungan dalam rangkaian Bepelas,”
tuturnya.
Ketayungan menjadi
bagian dari suasana suka cita setelah Sultan menyelesaikan masa berpantang.
Namun, tahapan
tersebut belum menjadi penutup resmi karena masih terdapat prosesi perebahan
Pinang Ayu.
“Artinya, beliau
bersuka cita dalam euforia setelah berlepas dari pantangan. Namun, masih ada
prosesi yang secara resmi harus dilakukan, yaitu merembahkan Pinang Ayu pada
hari ini,” kata dia.
Ia menilai
pelaksanaan Erau 2026 juga tidak terlepas dari kerja bersama berbagai unsur.
Kolaborasi dilakukan
secara vertikal maupun horizontal, termasuk keterlibatan media dalam
memperkenalkan rangkaian Erau kepada masyarakat.
“Untuk pelaksanaan
Erau tahun ini, kami sudah berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik secara
vertikal maupun horizontal. Semua lini, termasuk media, saya lihat memang turut
mengekspos pelaksanaan Erau tahun ini,” ujarnya.
Dari pengalaman
penyelenggaraan tahun ini, pihak Kesultanan juga melakukan pemantauan terhadap
berbagai potensi kejadian yang sebelumnya menjadi perhatian dalam pelaksanaan
Erau.
“Terkait insiden atau
kejadian yang pada tahun-tahun sebelumnya sempat terjadi, tahun ini kami pantau
sejak kemarin dan memang tidak ada kejadian yang signifikan,” ungkapnya.
Evaluasi tersebut
akan menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan Erau berikutnya.
Ia berharap hal-hal yang masih perlu diperbaiki dapat ditingkatkan tanpa mengabaikan capaian yang telah berjalan baik.
“Kami berharap pada
tahun depan, dengan berkaca dari pelaksanaan Erau pada tahun 2026 ini, berbagai
hal yang masih perlu diperbaiki dapat terus kita tingkatkan. Atau
setidak-tidaknya, prestasi yang sudah kita laksanakan pada tahun 2026 ini dapat
terus dipertahankan,” pungkasnya. (Adv/Kriz)