Tinjau Lokasi Kebakaran Kartini, Bupati Kukar Siapkan Pemulihan Jangka Panjang
Bupati Kukar, Aulia
Rahman Basri (Baju Putih) meninjau lokasi kebakaran di Jalan Kartini, Gang
Karya. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri menyiapkan pemulihan jangka panjang bagi warga terdampak kebakaran di Gang Karya, Jalan Kartini, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong.
Penanganan tersebut
mencakup pemulihan aktivitas warga, penataan kawasan, hingga rencana
pembangunan kembali sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia menyampaikan hal
itu saat meninjau lokasi kebakaran, posko bantuan, bersilaturahmi, serta
menyerahkan bantuan kepada warga terdampak pada Minggu (18/10/2026).
Kebakaran yang
terjadi pada Selasa (13/10/2026) sekitar pukul 23.50 WITA tersebut
menghanguskan 11 bangunan dan berdampak pada 15 kepala keluarga (KK).
Musibah itu juga
merenggut tiga nyawa, terdiri dari dua anak bersaudara dan ayah mereka yang
meninggal dunia setelah berupaya menyelamatkan kedua anaknya dari kobaran api.
Dalam peninjauan
tersebut, Bupati Aulia berdiskusi dengan jajaran terkait untuk mengevaluasi
penanganan kebakaran, termasuk mempercepat respons pemerintah ketika musibah
serupa terjadi.
“Kami sudah
berdiskusi dengan Dinas Pemadam Kebakaran terkait langkah-langkah yang harus
dilakukan. Tentunya, kita berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi,”
ujarnya.
Untuk penanganan
korban, Pemkab Kukar membagi upaya pemulihan ke dalam tiga tahapan.
Pada tahap awal,
pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan mendesak dan memastikan warga dapat
kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Adapun penanganan
lanjutan akan mencakup penataan lingkungan serta pembangunan kembali dengan
memperhatikan ketentuan yang berlaku.
Ia menyebut, proses
penataan dan pembangunan kembali akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan
serta kewenangan pemerintah daerah, termasuk kemungkinan dukungan pembiayaan
bagi warga terdampak.
“Untuk jangka
menengah dan jangka panjang, kita akan melakukan proses penataan dan membangun
kembali sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk bantuan dan pembiayaan
yang bisa diberikan Pemkab Kukar sesuai kewenangan yang kita miliki,” jelasnya.
Selain pemulihan
pascakebakaran, ia menekankan pentingnya mitigasi untuk mencegah kejadian
serupa terulang.
Salah satu langkah
yang dibahas ialah menjajaki kerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI)
untuk menyampaikan imbauan keselamatan melalui masjid dan langgar, terutama
terkait penggunaan kompor dan instalasi listrik rumah tangga.
“Mematikan listrik
ketika bepergian, terutama saat malam hari, serta memastikan tidak ada colokan
listrik yang masih terpasang. Dengan begitu, kita bisa melakukan mitigasi agar
kejadian seperti ini bisa dihindari,” ungkapnya.
Ia juga mengharapkan
sistem keamanan lingkungan (siskamling) di setiap RT dioptimalkan untuk
meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian warga terhadap potensi bahaya di
sekitar tempat tinggal mereka.
“Kami mengharapkan
siskamling dilaksanakan di masing-masing RT untuk sekali lagi mengingatkan
setiap warga. Tugas kita sekarang adalah bagaimana saling mengingatkan satu
sama lain,” tuturnya.
Terkait usulan
penyediaan alat pemadam api ringan (APAR) di rumah warga, ia mengatakan
penerapannya perlu mempertimbangkan kemampuan pemerintah dan kebutuhan di
lapangan.
Menurutnya,
pencegahan harus menjadi prioritas agar masyarakat tidak hanya mengandalkan
penanganan setelah kebakaran terjadi.
“Kalau idealnya
seperti itu, tetapi kita akan melihat kemampuan yang kita miliki dan kebutuhan
yang diperlukan di lapangan. Sebagaimana yang saya sampaikan tadi, APAR maupun
pemadam kebakaran bertindak setelah kebakaran terjadi. Yang kita inginkan
sekarang adalah bagaimana kita bisa melakukan mitigasi sehingga kebakaran tidak
terjadi,” jelasnya.
Ia menilai
keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menekan risiko kebakaran.
Kebiasaan memeriksa
kondisi rumah, memastikan peralatan aman, dan saling mengingatkan perlu
diperkuat agar keselamatan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.
“Ini yang menjadi
pekerjaan rumah kita bersama. Peran aktif masyarakat tentunya lebih besar untuk
membantu mencegah agar kebakaran tidak terjadi di tengah-tengah masyarakat
kita,” tuturnya.
Sementara itu, Lurah
Loa Ipuh, Joko Adi Wibowo mengatakan, posko bantuan telah dibuka sejak hari
kejadian dan direncanakan beroperasi selama sepekan.
Kelurahan terus
berkoordinasi dengan pihak kecamatan mengenai kelanjutan operasional posko
serta kebutuhan warga terdampak.
Menurutnya, sebagian besar korban sementara tinggal bersama keluarga masing-masing, sedangkan sejumlah mahasiswa terdampak menempati tempat di lingkungan Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta).
“Yang dibutuhkan
sekarang juga pakaian dalam, kelengkapan mandi. Tas sekolah sudah ada juga
karena untuk anak sekolah juga banyak,” tutupnya. (Adv/Kriz)