Program Sigap Sejahtera Kembangkan Komoditas Kakao 80 Hektare di Kelay
Oleh Admin4 menit baca237 dibaca

BERAU, POSKOTAKALTIMNEWS : Potensi perkebunan kakao di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, mulai dikembangkan dengan skala yang lebih luas, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya petani Kakao.
Melalui program Sigap Sejahtera, pengembangan komoditas ini menyasar lima kampung dengan total potensi lahan mencapai 80 hektare, sebagai langkah mendorong sektor perkebunan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat peluang usaha petani.
Lima kampung yang menjadi sasaran pengembangan tersebut meliputi Merasa, Muara Lesan, Lesan Dayak, Sido Bangen, dan Long Beliu. Sejumlah lahan di wilayah tersebut mulai dipersiapkan untuk pengembangan kakao, dengan proses pembersihan lahan tanam baru yang dilaporkan telah mencapai 30 hektare.
Bahkan, sebagian lahan sudah memasuki tahap penanaman. Perkembangan ini menjadi langkah awal dalam mendorong pemanfaatan potensi perkebunan yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Koordinator Kecamatan Kelay Program Sigap Sejahtera, Abraham Ari Putra, mengatakan pengembangan kakao memiliki peluang untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
"Potensi lahan yang tersedia dinilai dapat menjadi modal awal bagi petani untuk mengembangkan usaha perkebunan secara bertahap," ungkapnya.
Apalagi tambahnya kakao tidak hanya memiliki potensi dari sisi budidaya, tetapi juga menawarkan peluang pasar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
“Kakao memiliki nilai jual yang tinggi dan peluang pasar yang luas, sehingga menjadi komoditas strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kelay,” ujarnya.
Pengembangan kakao melalui program Sigap Sejahtera tidak hanya berfokus pada pembukaan lahan dan penanaman bibit. Program ini juga memberikan pendampingan kepada petani agar tanaman yang dikembangkan dapat dirawat secara optimal dan memiliki peluang menghasilkan panen yang berkualitas.
Dukungan yang diberikan mencakup bantuan bibit, pupuk, dolomit, serta tanaman penaung. Petani juga mendapatkan pendampingan dalam perawatan tanaman, penanganan panen, hingga proses pascapanen.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun perkebunan kakao yang tidak hanya berkembang dari sisi luas lahan, tetapi juga memperhatikan kualitas budidaya dan hasil produksi.
Dalam sektor perkebunan, keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya bibit yang ditanam. Perawatan tanaman, kesesuaian kondisi lahan, pengendalian hama dan penyakit, serta penanganan hasil panen turut menentukan kualitas dan produktivitas kakao.
Karena itu, pendampingan secara berkelanjutan diharapkan dapat membantu petani memahami tahapan budidaya dengan lebih baik, sekaligus memperkuat kemampuan mereka dalam mengelola kebun.
Hal lain yang menjadi perhatian dalam pengembangan kakao di Kecamatan Kelay adalah peluang hilirisasi atau pengolahan hasil perkebunan menjadi produk bernilai tambah.
Melalui program Sigap Sejahtera, pendampingan diarahkan tidak hanya sampai tahap budidaya dan panen, tetapi juga mencakup pengembangan produk olahan cokelat dari biji kakao.
Langkah ini membuka peluang agar hasil perkebunan pada masa mendatang tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Meski demikian, pengembangan hilirisasi membutuhkan proses lanjutan, termasuk peningkatan keterampilan pengolahan, pengendalian kualitas produk, pemenuhan kebutuhan produksi, serta pengembangan jaringan pemasaran.
Jika dikelola secara konsisten, rangkaian kegiatan dari budidaya hingga pengolahan tersebut berpotensi memperluas kesempatan usaha masyarakat. Petani tidak hanya berperan dalam menghasilkan biji kakao, tetapi juga dapat memperoleh peluang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi lain yang berkaitan dengan pengolahan dan pemasaran produk.
Pengembangan kakao di Kecamatan Kelay juga melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK), Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal (YDBBC), Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), kelompok tani, hingga berbagai unsur masyarakat.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program melalui pendampingan, penguatan kapasitas petani, dan pengembangan perkebunan yang memperhatikan keberlanjutan.
Keterlibatan kelompok tani dan masyarakat menjadi unsur penting karena keberhasilan program pada akhirnya bergantung pada pengelolaan kebun secara langsung oleh para petani. Sementara itu, dukungan lintas sektor diharapkan membantu mengatasi berbagai tantangan yang mungkin muncul selama proses pengembangan.
Dengan potensi lahan mencapai 80 hektare dan pembukaan lahan yang telah berjalan di sejumlah kampung, pengembangan kakao di Kecamatan Kelay memiliki peluang untuk tumbuh menjadi salah satu kegiatan ekonomi produktif masyarakat.
Namun, potensi tersebut perlu didukung pengelolaan yang konsisten, produktivitas tanaman yang baik, kualitas hasil panen, serta akses pasar yang memadai agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Abraham berharap perkembangan yang telah dimulai melalui program Sigap Sejahtera dapat menjadi fondasi bagi pengembangan kakao di Kecamatan Kelay.
Ke depan, pengembangan komoditas ini diharapkan tidak hanya memperluas kegiatan perkebunan, tetapi juga membuka peluang usaha baru dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dengan dukungan petani, pendamping program, pemerintah, dan berbagai pihak terkait, kakao berpeluang menjadi salah satu komoditas yang memperkuat ekonomi masyarakat Kelay sekaligus mendorong pemanfaatan potensi daerah secara berkelanjutan.(sep/FN)




