Mobilisasi Dokter Perlu Diprioritaskan ke Zona Kuning
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,TANJUNG
REDEB-
Peran dokter dan tenaga kesehatan menajdi garda terdepan dalam penagananan
COVID-19, bahkan tidak sedikit yang menjadi korban.
Ditengah melonjaknya kasus terkonfirmasi
positif di beberapa wilayah membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau perlu
melakukan mobilisasi terpusat di wilayah zona merah dan kuning.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua
Bidang Organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kalimantan Timur, dr. Mansyah,
Sp.OG.
Lonjakan COVID-19 yang signifikan di
Kabupaten Berau perlu dilakukan kepada para dokter yang berada di wilayah zona
hijau untuk dimobilisasi ke wilayah signifikan.
Hal itu merujuk pada amanat Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia untuk dapat menekan kasus terkonfirmasi positif
COVID-19 serta memaksimalkan perawatan pasien, terutama yang kritis agar
menghindari angka kematian. Selain itu, dapat memberikan ruang tenaga kesehatan
khususnya dokter, untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Jadi, wilayah yang jumlah kasus rendah
atau yang tidak ada sama sekali, bisa dimobilisasi ke daerah yang yang tinggi,
dengan memperhitungkan waktu dan tenaga, karena jangan sampai semua RS ataupun
Puskesmas yang menangani ini babak belur," tuturnya.
Dirinya menyampaikan, Kemenkes RI sudah
mengeluarkan surat edaran ke OPD terkait untuk mengoptimalkan tenaga kesehatan
untuk di rumah sakit. Dirinya juga meminta jajaran khusus dinas kesehatan
kabupaten / kota dan direktur rumah sakit bisa menyusun program tersebut guna
menangani kekurangan tenaga kesehatan di setiap wilayah.
Seperti diketahui, berdasarkan data
infografis persebaran kasus COVID-19 di Bumi Batiwakkal per 13 Februari 2022,
dari 13 kecamatan, sudah 1 kecamatan sudah masuk zona merah, yakni Tanjung
Redeb dengan total 44 kasus positif. Kemudian, sebanyak 6 kecamatan masuk zona
kuning. Sedangkan, untuk 6 kecamatan lainnya bertahan di status zona hijau.
Adapun jumlah kasus terkonfirmasi di
Kabupaten Berau saat ini bertambah 16 kasus dengan total pasien yang dirawat
menyentuh 93 pasien. Sehingga, tidak menutup kemungkinan mobilisasi untuk
wilayah dengan jumlah signifikan perlu dilakukan.
"Ini penting agar meminimalisir
kemungkinan terburuk akibat lonjakan ini, kita tidak mungkin menunggu sudah
terjadi baru bertindak," ucapnya.
Sementara itu, sebagai pimpinan tertinggi,
Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan, persebaran dokter dan tenaga kesehatan
di Bumi Batiwakkal belum cukup merata serta akses layananan kesehatan yang
masih terbatas di beberapa wilayah di Kabupaten Berau menjadi kendala.
"Banyak juga dokter atau tenaga
kesehatan tidak mau tinggal lama di wilayah yang jauh, sehingga itu menjadi
permasalahan kami saat ini," bebernya.
Akan tetapi, demi menangani kasus positif
yang semakin bertanbah dan juga mencegah angka kematian, Bupati Berau, Sri
Juniarsih, menyatakan mobilisasi tenaga
kesehatan segera ditindaklanjuti.
"Selama situasinya sesuai pasti kita
tindaklanjuti, kami akan berkordinasi dengan dinkes," tegasnya.
Dalam hal ini, Sri Juniarsih menanggapi,
sepanjang untuk kesehatan masyarakat dengan disertai regulasi yang tepat dan
sesuai dengan kondisi daerah, maka segera dilakukan untuk menerapkan mobilisasi
untuk memeratakan kesehatan di Kabupaten Berau.
"Satu bulan lebih kita masuk zona hijau
dan kini kami mengalami lagi kasus yang sama, sehingga sinergi dan pelayanan
dokter harus ditingkatkan. Tentu saja, kami bakal berupaya dengan maksimal
untuk menekan angka kasus, termasuk mengatasi setiao kendala," pungkasnya.
(sep)