Kasus Stunting di Berau Meningkat
Wakil
Bupati Bersama Dinas Kesehatan Saat Rapat Penanganan Stunting
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,TANJUNG REDEB- Dinas Kesehatan Berau mencatat sepanjang tahun 2021 angka stunting di Kabupaten Berau menunjukan 19,40 persen dari 4.366 balita. Salah satunya disebabkan oleh ibu yang mengalami anemia, hipertensi, stres, hingga perkawinan di bawah umur.
Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi
mengatakan, masih tingginya tingkat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) kurang dari
2.500 gram menjadi salah satu faktor pendukung terjadi stunting di Berau. Kasus
stunting yang semakin meningkat per tahunnya ini pun menjadi perhatian serius
bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.
"Masih cukup tinggi, di tahun 2021 saja
mencapai 19,40 persen, artinya perlu menjadi atensi untuk dilakukan sosialisasi
gaya hidup sehat bagi masyarakat, terutama bagi anak gadis dengan melibatkan
organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya," ujarnya (25/4/22).
Dinkes juga mencatat, kasus stunting di Berau
pada tahun 2019 mencapai angka 13,90 persen atau 1.487 dari 10.701 balita.
Sedangkan, di tahun 2020, terjadi peningkatan sebesar 18,06 persen atau mencapai
1.938 dari 10.735 balita.
"Di tahun ini pun tengah didata,
sebenarnya, orang tua tidak perlu panik karena stunting bisa disembuhkan selama
si anak masih berusia di bawah 2 tahun. Akan tetapijika sudah di atas 5 tahun,
potensinya kecil untuk bisa sembuh," katanya.
Sementara Wakil Bupati Berau, Gamalis mengatakan,
sesuai dengan Surat Edaran Bupati Berau tentang Pelaksanaan Pendataan Sasaran
Untuk Penentuan Desa Lokus Penurunan Stunting, Semua pemangku kepentingan
berperan penting dalam penanganan kasus stunting. Tidak hanya dari segi
kesehatan.
"Penyebab stunting ini banyak faktornya,
termasuk diakibatkan oleh malnutrisi atau gizi buruk. Sehingga, ini yang harus
digarisbawahi bahwa pengaruh makanan juga berpengaruh. Kita tahu, hasil panen
kita melimpah sehingga perlu diawasi pendistribusiannya oleh dinas terkait,"
tuturnya.
Wabup juga mrnekankan secara khusus kepads
Dinad Perikanan untuk lebih memaksimalkan giat makan ikan bagi masyarakat sejak
dini, terkhusus anak gadis dan anak usia 3 tahun ke atas. Pasalnya, sumber
vitamin D dan Kalsium bagi pertumbuhan tulang itu mampu menangkal stunting.
“Ikan ini nutrisinya sangat baik untuk otak
sehingga untuk peningkatan sel-sel dalam saraf dan juga daya ingat. Jelas kami
selalu tekankan masyarakat untuk mulai mengonsumsi ikan," ucapnya.
Selain itu, Wabup juga mengimbau bagi Dinas
Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak (DPPKBP3A) untuk mulai menggiatkan sosialisasi pencegahan
perkawinan di bawah umur. Sebab, menurut Dinas Kesehatan Berau faktor alat
vital wanita yang belum siap untuk melakukan perkawinan menjadi penyebab utama
Stunting bagi bayi.
"Peran keluarga dan tenaga pendidik
dalam hal ini harus dibina supaya ada pencerdasan untuk menjaga anak gadis di
setiap wilayah, termasuk kampung. Terutama untuk mencegah pernikahan di bawah
umur pergaulan bebas, termasuk seks pranikah," pungkasnya. (sep)