RDP Komisi IV, Doris Sebut Kesepakatannya Tidak Ada Dualisme
Suasana RDP DPRD Kota Balikpapan
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,BALIKPAPAN- DPRD kota Balikpapan
menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia
(KONI) Balikpapan perihal Pembahasan Pembinaan Prestasi Cabang Olahraga Kota
Balikpapan.
Usai RDP, Ketua Komisi IV DPRD Balikpapan
Doris Eko Susanto meminta agar permasalahan internal KONI tidak berdampak pada
atlet-atlet Balikpapan. Karena di bulan depan mereka harus sudah mengirimkan
data-data atlet. Diaturan sudah jelas, yang berhak mengirim nama-nama atlet
adalah KONI kabupaten/kota.
"Saya rasa itu tidak ada masalah,
terkait dualisme itu harus dibuktikan dengan surat keputusan, jika dua-duanya
ada SK baru bisa dikatakan dualisme," kata Doris Eko usai RDP, Kamis
(16/6/2022.
Doris melanjutkan, ketika mereka merasa
benar, silakan dibuktikan dengan SK baik dari kubu A atau B. Dan dibuktikan
mana yang sah mana yang tidak sah.
Pihaknya juga akan mengundang DPOP untuk
mencari langkah-langkah kedepannya, supaya tidak merugikan para atlet
Balikpapan. Dengan masalah internal, dampaknya juga dapat merusak nama baik
kota Balikpapan, terkait pengiriman atlet ke provinsi.
"Dan kesepakatannya tidak ada dualisme,
kalau ada dualisme harus bisa menunjukan SK," ujarnya.
Sebelumnya, tanggal 14 Juni kemarin pihaknya
sudah di fasilitasi pemerintah kota, yang mempertemukan dua kubu. Dan yang
hanya bisa menunjukkan SK resmi dari KONI Provinsi hanya satu orang saja (yang
datang RDP).
Lebih jauh, Sekretaris Umum KONI Balikpapan
Hasbi Muhammad menambahkan, komisi IV menyatakan bahwa fakta yang ada adalah
surat keputusan, ketika ada kelompok lain yang menyatakan sah maka silakan
tampilkan surat keputusannya.
"Dan DPRD dalam hal ini komisi IV,
mempersilahkan kita untuk melanjutkan semua pembinaan tanpa ragu-ragu,"
akunya Hasbi usai RDP.
Bahkan dalam waktu dekat ini, Komisi IV DPRD
juga akan mengundang Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (DPOP) untuk
mendengarkan apa alasannya ragu terhadap KONI yang sah. Sementara untuk para
atlet sendiri, pada intinya pihaknya mengejar waktu karena bulan depan adalah
waktunya menyetorkan nama (entry by number by name).
"Jika tidak dilakukan, maka sudah
dipastikan Balikpapan tidak akan ikut pralomba," imbuhnya.
Ditanya perihal anggaran yang tidak turun
karena dualisme, ia menjelaskan, kalau KONI Balikpapan proses pembinaannya
berjalan, anggaran yang dimaksud tidak dicairkan itu anggaran pembinaan bukan
Porprov.
Karena anggaran Porprov untuk keberangkatan
saat ini sudah ada di DPOP, belum masuk dalam persiapannya berupa peralatan
tanding dan puslatkot, karena baru diusulkan di APBD-P.
"Kalau itu mau diambil ahli DPOP tidak
ada masalah, tetapi kewenangan pembinaan yang sudah kita persiapkan jangan juga
diamputasi, termasuk ambil alih entry by number by name," tuturnya.
Dikatakan, surat tegas KONI Kaltim menolak
karena aturannya hanya KONI kabupaten/kota yang bisa mendapatkan. Walaupun ada
pernyataan dari DPOP ada pengecualian, sehingga ia menolak opsi-opsi itu.
"Kalau kami tandatangani, berarti kami
mengakui ada KONI lain," pungkasnya. (ari)