Abizar Yogyananda: Bahasa Identitas Keberadaban

img

Abizar Yogyananda

BERCENGKERAMA dengan Abizar Yogyananda, anak muda yang lahir 11 Agustus 2001, namun telah menorehkan prestasi luar biasa, berhasil menyabet penghargaan sebagai Duta Budaya Kabupaten Berau,  Duta Budaya Kaltim 2022  serta berhasil meraih Grand Winner Putra Budaya Indonesia, dalam pemilihan Duta Budaya tingkat  nasional yang dilaksanakan di Hotel Grand Serela Yogyakarta (2-7 November 2022) lalu. Karena hal itu maka dalam Kaltim Education Award yang dilaksanaka  Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, sosok anak muda itu berhak menerima penghargaan sebagai Duta Budaya Indonesia. Meskipun Abizar masih tergolong muda,  ternyata pola pikir dan wawasan sosok muda jauh melebihi dari usianya.

Bagi Abizar, identitas sebuah peradaban tak bisa lepas dari bahasa.

"Bahasa bagi saya adalah sebuah perjalanan sejarah dari kelompok manusia yang ada dan tinggal di wilayah tertentu, jadi bahasa adalah sebuah peradaban," katanya di sebuah kafe di jalan Mulawarman.

Ditekankan Abizar, persoalan bahasa, terutama Bahasa Berau menjadi adalah satu titik utama perhatiannya. Abizar merasa bahwa Bahasa Berau kurang diminati oleh masyarakat yang ada di Berau. Bahasa Berau sebagai bahasa ibu sepertiny mulai ditinggalkan dan bukan tidak mungkin, untuk masa- masa mendatang Bahasa Berau akan hilang tak tentu rimbanya.

"Saat ini di beberapa provinsi di Indonesia, ada 25 bahasa daerah yang sudah hilang dan hilangnya bahasa daerah itu jelas memutus mata rantai dari sebuah peradaban dan sejarah bangsa Indonesia. Ini yang saya tidak mau bahasa Berau punah. Saya harus berbuat dan berusaha semaksimal mungkin agar Bahasa Berau tidak punah," tekan Abizar.

Diakui Abizar, bahasa Berau yang ada selama ini terbagi dalam 3 kategori aksen, yaitu aksen Bebanir Bangun, Birang dan Gunung Tabur.

"Ketiga aksen yang ada  itu mempunyai ciri khas masing-masing. Dan mudah-mudahan  Bahasa Berau tidak punah, instansi terkait bisa berbuat nyata, dengan mengajarkan Bahasa Berau pada pendidikan di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal," tambah anak kedua dari 2 orang bersaudara.

Dengan diajarkan Bahasa Berau pada muatan lokal pendidikan, maka Insya Allah Bahasa Berau akan terpelihara, sama dengan Bahasa Jawa yang diajarkan di sekolah-sekolah di Jawa Tengah dan Yogyakarya. Bahkan di Jawa ada juga diajarkan huruf-huruf Jawa berdasarkan huruf sansekerta atau lebih akrab disebut Hanacaraka. Ini kan menarik, sehingga bahasa ibu tidak hilang dan terus terpelihara hingga akhir zaman.  Untuk mencapai keinginannya itu yaitu mengenalkan Bahasa Berau menjadi bahasa yang akrab dan digunakan sebagai percakapan sehari-hari, Abizar mengakui banyak mendapat tantangan. Namun aral dan tantangan serta hambatan yang ada itu, justru memicu dirinya untuk berbuat dan bekerja lebih keras.

"Aral dan hambatan itu harus dilawan  dan saya yang kebetulan bekerja di Lembaga Adat Kesultanan Gunung sebagai sekretaris, mendapat dukungan yang besar dari Kepala Lembaga adat yaitu Pangeran Hadiningrat, salah satu tokoh Kesultanan Gunung Tabur," papar Abizar.

Ditanya soal awalnya terjun sebagai Duta Budaya, Abizar mengakui bahwa sejak masih duduk di bangku SMK, dirinya sudah tertarik dengan soal budaya. Dan orangtua yang pensiunan pegawai sipil negara di Berau awalnya menentang keinginannya itu. Orangtua berharap seusai lulus SMK, meneruska  ke jenjang perguruan tinggi hingga sarjana. Namun keinginan orang tuanya ditentang Abizar. Karena hidup kehidupan orangtuanya cukup memprihatinkan, terlebih lagi orangnya yang pensiunan PNS harus membiayai kakaknya yang kuliah di perguruan tinggi.

"Saya cukup lama membujuk dan menjelaskan apa keinginan saya pada orang tua. Karena tekad saya yang besar, akhirnya orang tua menyerahkan keputusan pada diri saya sendiri," ungkap Abizar.

Kepercayaan orangtua yang demikian  besar itu membuat dan memicu Abizar bekerja keras dan ingin membuktikan bahwa pilihannya untuk berkecimpung dalam skup budaya tidaklah sia-sia. 

" Dan nyatanya kegiatan dalam pelestarian dan pemajuan budaya membawa angin segar, dengan keberhasilan saya mendapat penghargaan dari instansi pemerintah," tuturnya sambil tersenyum.

Mengenai penghargaan sebagai Duta Budaya Kaltim, Abizar merasa bahwa penghargaan yang diterima dan disandangnya itu merupakan konsekwensi yang berat.

"Saya sebenarnya tidak berharap atas penghargaan itu, karena kerja saya masih panjang dan memerlukan  ruang dan waktu. Dan saya sendiri menyadari mungkin penghargaan yang ada ini juga ada yang pro dan kontra. Namun saya tetap akan bekerja keras bagi Berau. Segala daya upaya akan saya lakukan demi Berau, tanah tercinta, " ungkap Abizar.(hsn)