Distanak Kukar Lebih Kedepankan Intensifikasi Lahan

img

TENGGARONG-Hampir seluruh wilayah di Kaltim memiliki potensi besar dalam pembangunan pertanian. Beberapa tahun terakhir ini semua tengah berlomba meningkatkan produksi tanaman pangan terutama padi dalam rangka mendukung program ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Ekstensifikasi pun banyak dilakukan dalam upaya meningkatkan produksi gabah masing-masing daerah. Ekstensifikasi memang mendapat dukungan dari pusat melalui anggaran APBN, termasuk dukungan dari TNI melalui program Upsus kerjasama dengan Kementerian Pertanian.
Sekalipun Ekstensifikasi pertanian merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam upaya meningkatkan produksi dan mendapat dukungan pemerintah pusat, namun Dinas Pertanian dan Peternakan Kutai Kartanegara khususnya dalam tahun terakhir ini, lebih mengedepankan intensifikasi serta rehabilitasi lahan ketimbang ekstensifikasi.
Ekstensifikasi pertanian adalah perluasan areal pertanian ke wilayah yang sebelumnya belum dimanfaatkan. Sasarannya adalah ke lahan hutan, padang rumput steppe, lahan gambut, atau bentuk-bentuk lain lahan marginal (terpinggirkan). Wilayah Kukar sendiri masih memiliki potensi pengembangan pertanian melalui ekstensifikasi ini.
Sedangkan intensifikasi pertanian adalah salah satu usaha untuk meningkatkan hasil pertanian dengan cara mengoptimalkan lahan perhatian yang sudah ada. Pihak Distanak menilai cara ini (intensifikasi) lebih epektif dan efisien dibanding dengan membuka lahan baru atau ekstensifikasi.
Kepala Distanak Kukar, Sumarlam J SP MP mengatakan dipilihnya kebijakan meningkatkan produksi pertanian melalui optimalisasi lahan pertanian yang sudah ada mengingat banyak sawah-sawah yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh petani. Selain itu, ketersediaan petani penggarap atau sumberdaya manusia menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan pengembangan areal pertanian dengan cetak sawah baru.
Namun dikatakan, bukan berarti tidak ada pembukaan lahan atau sawah baru jika itu memang memungkinkan, tapi mengingat asas epektifitas, maka lebih ditekankan pada optimalisasi lahan pertanian yang sudah ada.
"Untuk peningkatan produksi pertanian ini kita lebih tekankan pada program intensifikasi. Produksi kita pacu melalui optimalisasi sawah-sawah yang sudah ada," katanya.
Namun ditengah kondisi keuangan daerah saat ini, optimalisasipun dimungkinkan tidak semaksimal yang diinginkan, karena tidak terlepas dari ketersediaan anggaran.
Dari sisi pembinaan secara teknis memang diakui tidak terlalu terkendala karena petugas masih bisa secara rutin melaksanakan tugas pembinaan ke kelompok tani.
Tapi jika lahan yang ingin dioptimalkan itu membutuhkan sarana pendukung seperti perbaikan tanggul atau pematang sawah, perbaikan pengairan (irigasi) dan lain sebagainya termasuk bantuan-bantuan alat pertanian atau kebutuhan sarana pendukung produksi lainnya, itu tentu membutuhkan biaya.
Namun patut di apresiasi, sebagai daerah penyumbang produksi pertanian di Kaltim, Kukar kini memiliki banyak petani yang sudah mulai mampu mandiri. Semakin mandirinya petani dimaksud dibuktikan dengan terkelolanya sawah-sawah di sejumlah sentra tanaman pangan. Sekalipun pemkab tidak lagi banyak memberikan bantuan sebagaimana sebelum-sebelumnya. Artinya, sudah semakin banyak petani yang mampu mengelola usahanya dengan memenuhi sendiri kebutuhan produksi.
Namun dibalik kemandirian petani tersebut, disayangkan masih terjadinya kendala seperti keterbatasan persediaan pupuk. Dimana pupuk yang dijatahkan (kuota) untuk Kukar itu tidak sebanding dengan kebutuhan. yd-poskotakaltimnews.com