Ketidakseimbangan Penyebaran Dokter di Kaltim, Solusi Apa yang Diperlukan?
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA : Kalimantan Timur (Kaltim) telah menghadapi masalah besar terkait distribusi dokter yang sangat tidak merata. Berdasarkan data terbaru, sekitar 80 persen dari total 2.000 dokter hanya terkonsentrasi di 3 kota besar yakni Balikpapan, Samarinda, dan Bontang.
Hal itu
kata anggota DPRD Kaltim dari Fraksi Golkar dr. Andi Satya Adi Saputra,
berujung pada kekurangan tenaga medis di daerah pedalaman yang benar-benar
membutuhkan perhatian lebih oleh pemerintah.
Dari
2.000 dokter yang ada di Provinsi Kaltim, lebih dari 800 orang di antaranya
merupakan dokter spesialis. Namun, angka ini mayoritas tersebar di kota-kota
besar. Terutama, yang memiliki fasilitas dan infrastruktur lengkap dibandingkan
dengan kabupaten/kota lainnya.
"Akibatnya,
tujuh kabupaten/kota lainnya di Kaltim kesulitan dalam mendapatkan akses
pelayanan medis yang memadai," jelasnya.
dr. Andi
Satya Adi Saputra menjelaskan bahwa kurangnya minat para dokter untuk bekerja
di daerah pedalaman Kaltim tidak terlepas dari faktor kesejahteraan yang lebih
rendah dibandingkan di kota besar.
Kata pria
kelahiran 1982 ini, dokter yang bekerja di daerah perkotaan memiliki akses
lebih baik ke fasilitas yang memadai, mulai dari perumahan hingga transportasi.
Selain itu, mereka juga memiliki peluang lebih besar untuk membuka praktek
pribadi yang dapat meningkatkan penghasilan mereka.
“Dokter
itu ingin bekerja dalam kondisi yang optimal. Tentu mereka juga berpikir
tentang bagaimana kondisi rumah tinggal mereka, akses transportasi, serta
kesempatan untuk tetap terhubung dengan keluarga,” bebernya.
Hal ini,
menurutnya, menjadi salah satu alasan mengapa dokter lebih memilih untuk
bekerja di kota besar yang memiliki banyak fasilitas pendukung, dibandingkan
harus bertugas di daerah pedalaman yang minim fasilitas dan infrastruktur.
Untuk
mengatasi masalah ketidakseimbangan ini, dr. Andi menekankan bahwa pemerintah
provinsi maupun kabupaten/kota di Provinsi Kaltim harus memainkan peran penting
dalam mendistribusikan dokter secara lebih merata ke seluruh wilayah.
Salah
satu langkah yang diperlukan adalah pemberian insentif bagi dokter yang
bersedia bekerja di daerah terpencil.
"Pemerintah
harus memberi insentif khusus, seperti tunjangan dan fasilitas yang memadai di
daerah pedalaman. Ini dapat menarik minat dokter untuk berani bekerja di daerah
yang kurang berkembang," katanya.
Di
samping insentif, ia juga menyarankan agar pemerintah memperbaiki fasilitas di
rumah sakit dan perumahan untuk dokter di daerah-daerah yang membutuhkan.
Tanpa
adanya tindakan perbaikan dalam hal aksesibilitas dan kesejahteraan, dokter
akan kesulitan untuk bekerja dengan maksimal, bahkan jika mereka sudah
ditempatkan di daerah yang membutuhkan.
Kendati
begitu, ia merasa bahwa masalah distribusi dokter ini tidak hanya memerlukan
perhatian dari pemerintah saja, tetapi juga kolaborasi antara sektor publik dan
swasta.
"Semua
pihak harus berkolaborasi untuk menyelesaikan permasalahan serius ini,"
tutupnya.(adv/die)