Kekurangan SMA/SMK di Balikpapan, Nurhadi Desak Kolaborasi Serius Antar Pemerintah
Anggota
Komisi II DPRD Kalimantan Timur, Nurhadi
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA: Ketimpangan akses pendidikan menengah di Kota Balikpapan kembali menjadi sorotan. Meskipun jenjang SMP dinilai telah terpenuhi secara kuantitas, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketersediaan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih jauh dari ideal.
Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Timur,
Nurhadi, menekankan bahwa keterbatasan jumlah sekolah menengah atas telah
menjadi persoalan yang berulang setiap tahun.
Ia menilai, meningkatnya lulusan SMP yang
tidak diimbangi dengan pembangunan SMA dan SMK dapat berdampak serius terhadap
keberlanjutan pendidikan generasi muda.
“Setiap tahun jumlah lulusan SMP bertambah,
tapi kapasitas sekolah menengah tidak berkembang signifikan. Kalau ini
dibiarkan, banyak siswa akan kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan,”
ujarnya, Jumat (20/6/2025).
Menurut Nurhadi, Pemerintah Provinsi Kalimantan
Timur telah menunjukkan komitmen untuk membangun fasilitas pendidikan baru.
Namun, persoalan mendasar yang selama ini menghambat realisasi adalah tidak
tersedianya lahan siap bangun.
Ia pun mendorong agar Pemerintah Kota
Balikpapan dapat mengambil langkah proaktif melalui skema hibah lahan sebagai
bentuk sinergi antarlevel pemerintahan.
“Pemerintah provinsi siap membiayai
pembangunan. Tapi tanpa dukungan penyediaan lahan dari pemerintah kota,
komitmen ini sulit diwujudkan,” tegasnya.
Nurhadi menggarisbawahi bahwa polemik
kepemilikan lahan kerap menjadi batu sandungan yang memperlambat program
pembangunan pendidikan.
Ia mengajak semua pihak untuk tidak memperumit
persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui kemauan politik dan kolaborasi
antarinstansi.
Sebagai contoh, ia mengusulkan agar pola kerja
sama bisa mengikuti model pemanfaatan aset milik daerah yang selama ini sudah
berjalan, di mana pemkot menyerahkan hak guna lahan sementara pembangunan
ditangani oleh pemerintah provinsi.
“Daripada tarik-menarik aset yang ujungnya
mandek, lebih baik fokus ke solusi cepat. Pendidikan adalah kebutuhan mendesak,
bukan proyek yang bisa ditunda-tunda,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa tanggung jawab
membangun akses pendidikan menengah bukan hanya soal anggaran, tapi juga soal
keberpihakan pada masa depan anak-anak daerah.
“Masalah pendidikan tidak boleh dikorbankan hanya karena ego sektoral. Anak-anak kita tidak boleh jadi korban karena pemerintah gagal duduk bersama mencari solusi,” tutup Nurhadi. (ADV DPRD KALTIM)