Media Sosial Bisa Rusak Jalinan Sosial, Ananda Moeis Peringatkan Bahaya Konten Manipulatif
Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda
Emira Moeis
POSKOTAKALTIMNEWS, SAMARINDA: Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap maraknya penyebaran konten provokatif dan manipulatif di media sosial.
Ia menilai fenomena tersebut sebagai ancaman
serius yang berpotensi merusak tatanan sosial dan mengikis kepercayaan
antarkelompok masyarakat.
Menurut Ananda, ruang digital yang seharusnya
menjadi sarana komunikasi dan pertukaran gagasan kini justru berkembang menjadi
ladang subur bagi penyebaran informasi yang menyesatkan. Tanpa disadari,
konten-konten tersebut telah memperlebar jurang perbedaan dan memperkeruh
hubungan antarwarga.
“Konten manipulatif bukan hanya menyesatkan
secara informasi, tapi juga merusak rasa saling percaya yang sudah susah payah
dibangun dalam masyarakat kita,” ujarnya, Selasa (24/6/2025).
Ia menambahkan bahwa narasi provokatif yang
kerap dibungkus dalam bentuk opini atau klaim tidak berdasar telah menciptakan
kegaduhan yang berbahaya, terlebih di tengah kondisi sosial dan politik yang
dinamis.
Polarisasi yang ditimbulkan dari penyebaran
informasi semacam ini, menurutnya, berpotensi mengganggu stabilitas sosial
secara luas.
Ananda menyebut bahwa kemunculan akun-akun
yang tidak bertanggung jawab, baik yang bergerak secara individu maupun
terorganisir, telah mengubah wajah media sosial menjadi arena konflik yang
sulit dikendalikan. Informasi yang belum terverifikasi kerap tersebar dengan
cepat, meninggalkan dampak yang sulit diperbaiki.
“Kita tidak bisa lagi menutup mata. Ruang
digital hari ini bisa menjadi alat pemecah belah jika dibiarkan tanpa kontrol,”
tegasnya.
Dalam situasi seperti ini, lanjut Ananda,
penting bagi masyarakat untuk tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga
bijak dalam menyikapi setiap informasi yang diterima.
Ia menilai bahwa kemampuan memilah informasi
dan memahami niat di balik konten yang beredar merupakan bentuk literasi
digital yang kini sangat dibutuhkan.
“Jika masyarakat tidak siap menyaring, maka
mereka mudah terseret arus narasi yang tidak sehat. Ini bukan sekadar soal
teknologi, tapi soal ketahanan sosial kita,” jelasnya.
Ananda menegaskan bahwa tantangan utama ke
depan adalah bagaimana menjaga ruang digital tetap kondusif bagi dialog dan
edukasi, bukan menjadi alat untuk membenturkan kelompok atau memicu permusuhan.
Sehingga, upaya ini tidak hanya menjadi
tanggung jawab pemerintah atau penyedia platform, tetapi juga setiap pengguna
media sosial. (ADV DPRD KALTIM)