Penilaian Hafalan Siswa Era Covid 19

img

Oleh : Muhammad Darussalam, S.Pd.I

 

DI tengah kondisi Covid-19 ini pembelajaran tentu saja tidak bisa dilaksanakan secara tatap muka di kelas. Kondisi tersebut menuntut lembaga pendidikan, seperti sekolah, madrasah hingga universitas,  untuk melakukan inovasi dalam proses pembelajaran.

Salah satunya adalah dengan menerapkan pembelajaran melalui dalam jaringan (daring) sebagai pengganti pembelajaran di dalam kelas. Dalam pelaksanaannya pembelajaran melalui daring ini tentu saja menemui berbagai kendala. Terutama pada bagian mengumpulkan data, seperti hafalan akan suatu materi.

Telah viral beberapa video, seorang siswa di sebuah media sosial, sebutlah instagram maupun tiktok, mempertontonkan cara atau tutorial mengumpulkan tugas hafalan dengan mem-videokan diri sendiri, akan tetapi ditempel sebuah secarik kertas di depan hp tersebut, seolah-olah siswa tersebut telah menghafal materi yang disuruh untuk dihafalkan.

Bahkan di ada pula di-share sebuah aplikasi yang  ketika merekam video, terdapat tulisan berjalan di depan layar kamera layaknya seorang reporter pembaca berita. Video-video tersebut di-share kepada teman-teman mereka di media sosial, instagram, tiktok, bahkan grup WhatsApp kelas.

Tidak heran bahasa caption yang mereka tulis di instagram mereka berupa tulisan “tag teman kalian”, dan ada pula yang entah sengaja atau tak sengaja, ada beberapa yang mencoba menulis caption “tag guru kalian”, hingga akhirnya sampai pula lah informasi tersebut ke hp sang guru termasuk penulis sendiri. Ini tentu saja membuat seorang guru terkecoh dengan mengatakan bahwa anak tersebut sudah hafal materi tersebut.

Bahkan ada juga video yang viral mempertontonkan seorang orangtua yang mengajari anaknya untuk menghafalkan pancasila. Di video tersebut, orangtua mengajari anaknya dengan sedikit emosi dan memberikan sindiran diakhir video untuk guru bahwa mengajarkan anaknya untuk menghafal sangatlah susah.

Lalu bagaimanakah idealnya penilaian yang baik ketika menilai hafalan siswa? Ini tentu saja menjadi dilema bagi seorang guru. Bahkan dalam situasi normal saja (diluar dari situasi pandemi covid19), pemberian nilai yang berujung ke rapor siswa yang sebagai bentuk akuntabilitas program pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru maupun sekolah kepada pemangku kepentingan pendidikan (disini sebut saja orangtua siswa dan pemerintah) adalah merupakan permasalahan yang rumit bagi seorang guru.

Apalagi pada masa pandemi sekarang ini, yang tentu saja memiliki banyak hambatan ketika pembelajaran daring berlangsung, baik itu dari segi ekonomi, jaringan dan lain sebagainya.Penilaian tentu saja tidak akan bisa menyelesaikan persoalan keadilan tersebut, apalagi untuk meningkatkan mutu pendidikan dan meningkatkan kualitas belajar siswa.

Namun, penilaian akan dapat membantu menyelesaikan hambatan dan keterbatasan yang dialami siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu melalui penyediaan instrumen penilaian yang berkualitas yang sesuai dengan tujuan pembelajaran saat ini.

Adapun terkadang, guru-guru di sekolah maupun madrasah, menilai hasil pekerjaan siswanya melalui penilaian secara sumatif. Penilaian secara sumatif yaitu berdasarkan data atau video yang diperoleh guru dari siswa kemudian dinilai secara murni, yang tentu saja mereka dapatkan video tersebut dari proses ketidakjujuran sehingga kualitas data dan informasi belajar yang diperoleh menjadi kurang baik.

Dalam ilmu pengukuran, hal ini disebut threat to validity, yang berarti ancaman terhadap validitas. Yang berakibat, keputusan perihal kenaikan kelas maupun kelulusan seorang siswa juga akan tentu saja ikut terpengaruh. Thomas R. Guskey dalam Assesment and Grading in The Midst of Pandemic (Ed Week, 13 April 2020), menyatakan “If Our Fokus is on feedback, then all assessments are formative until students get it. When results show they get it, then the assessment becomes summative.” Yang berarti “Jika fokus kami adalah pada umpan balik, maka semua penilaian bersifat formatif sampai siswa mendapatkannya.

Ketika hasil menunjukkan mereka mendapatkannya, maka penilaian menjadi sumatif.” Dengan kata lain, penilaian terutama hafalan, sebaiknya difokuskan pada penilaian formatif, menitikberatkan pada umpan balik/ feedback yaitu bagaimana membantu siswa memahami konsep dan materi dengan baik dan benar sehingga mereka mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Apabila penilaian formatif diselenggarakan dengan semangat untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran, maka siswa pasti akan menghindari tindakan tidak jujur tersebut. Namun, perlu ditekankan bahwa peran umpan balik/ feedback dari seorang guru dan bagaimana teknis mendiskusikannya bersama setiap siswa yang diajar dengan beragam kondisi yang mereka miliki  akan sangat penting dan menentukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Wallahu a’lam.

(Penulis adalah Guru MAN 2 di Kecamatan Tenggarong-Kutai Kartanegara)